Ini adalah tentang kamu yang selalu orang-orang cari tiap kali melihatku. Teman hidup, katanya.

Mereka sibuk bertanya-tanya apa kriteriaku. Sampai-sampai ada yang berkata seperti ini,“Tipe seperti apa yang kamu cari? Jangan terlalu jadi pemilih.” Mendengar perkataan itu, aku hanya tersenyum simpul.

Aku menjadi penasaran. Jika orang-orang yang mencari pacar saja memiliki sederet kriteria untuk standar memilih. Mengapa aku yang sedang menunggu teman hidup tidak boleh menetapkan kriteria? Padahal pernikahan adalah bukanlah perihal sembarangan. Padahal topik yang sedang kita bahas ini adalah tentang mencari teman hidup di dunia hingga ke surga.

Lantas, apa kriteriaku hingga kini masih saja terus menunggu? Kriteriaku bersifat umum sebenarnya. Aku ingin bersama dia yang ketika melihatnya, aku mengingat Allah. Ketika aku bersamanya, aku semakin bersemangat berbuat baik.

Sebenarnya, aku yang saat ini entah mengapa tidak terlalu fokus tentang orang lain. Daripada terus memikirkan “aku ingin keriteria yang begini dan begitu“, aku lebih suka memikirkan “bagaimana cara aku menjadi baik seperti ini dan itu“.

Apalagi sejak menyadari kalau pemilik hati dan pikiran hanya Allah semata. Sebesar apapun aku berusaha mendapatkannya, hasilnya akan sia-sia bila Allah belum menyetujuinya.

Yang aku bisa lakukan hanya satu, berusaha mendapat rida-Nya saja. Maka, Allah akan mendatangkan dia dengan cara yang tak terduga. Jadi, cara terbaik ya fokus saja untuk “menjadi versi terbaik”. Bukan fokus “mencari yang paling baik”.

Aku pun yakin, calon teman hidupku juga sedang berjuang memperbaiki diri.

Mungkin kamu akan bertanya, apa saja yang perlu aku perbaiki? Banyak. Tentang ini tidak hanya perihal agama saja.

Tentang Diri Sendiri

Aku harus mampu mengendalikan diri di segala situasi. Aku juga harus belajar menerima segala kekurangan diri. Aku harus percaya pada diri sendiri. Kalimat sederhananya, sebelum membersamai orang lain dalam rumah tangga, aku harus sudah “beres” dengan diri sendiri.

Meskipun belum “beres”sepenuhnya, aku harus memiliki kesadaran bahwa aku adalah manusia yang tidak sempurna. Maka, aku harus terbuka menerima segala kritik dan saran yang membangun. Dengan begitu, aku akan menjadi teman hidup yang “enak dan asyik” diajak berdiskusi. Dan menjadi teman hidup yang mampu “berbaik sangka dengan apa yang terjadi serta selalu bersemangat” menjalani hari.

Tentang Orang Lain

Aku harus benar-benar paham bahwa orang lain persis seperti diri sendiri. Diri sendiri yang tidak sempurna dan harus banyak belajar. Aku harus mengingat, dalam rumah tangga memang akan ada hak dan kewajiban. Aku pun pasti memiliki harapan bagaimana kelak rumah tanggaku akan dibangun.

Namun, tentang semua itu, aku harus mendiskusikannya dengan teman hidupku. Menyelaraskan kemampuan berdua hingga kita tidak kesulitan mencapai tujuan bersama. Menyelaraskan kecepatan kaki berdua hingga tidak kesulitan melangkahkan kaki bersama. Jangan sampai, aku malah sibuk menuntut hak dan kewajiban si teman hidup, hingga terlupa makna ketenangan rumah tangga itu sendiri.

Kurasa kata terbaik untuk kondisi ini adalah “memaklumi” dan “menerima”. Jika aku menyadari diri ini penuh kekhilafan dan selalu ingin diterima, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama?

Semoga aku mengingatnya. Tujuan rumah tangga sebaiknya hanya ditautkan pada Allah semata. Sebab, dengan begitu aku akan memuliakan dan bersikap baik pada teman hidupku. Karena apa? Karena Allah adalah Maha Penyayang yang selalu menyukai hamba yang saling berbuat kebaikan dan saling menyayangi.

Semoga aku tidak akan lupa. Kelemahan hadir bukan untuk dihakimi. Kelebihan hadir juga bukan saling menyombongkan diri. Setelah menikah, bukankah tidak ada istilah aku ataupun kamu? Ini tentang kita. Jadi, mari siasati tentang kelemahan dan kelebihan diri bersama-sama. Hingga kita saling membantu untuk menjadi versi terbaik diri.

Kepada teman hidupku yang kelak akan datang, semoga kita saling menerima. Tidak hanya saling menerima diri. Namun, menerima keluarga masing-masing. Bukankah menikah itu tidak hanya menyatukan kita? Namun, menyatukan dua keluarga? Semangat ya, semoga kita segera dipertemukan sama Allah. Di saat dan di waktu yang tepat 😊

Advertisements

2 thoughts on “[Day 26] Teman Hidup, katanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s