Keluarga Selalu Utama

Keluarga selalu menjadi yang pertama. Maka, bila seseorang ingin bersamaku, ia harus mau menerima keluargaku.

Daripada memberi kebahagiaan, sepertinya aku lebih banyak memberi luka pada keluarga. Di luar rumah, mungkin aku begitu mudah menjadi versi terbaik diriku. Yang mampu mengendalikan emosi, menata hati, menjaga lisan agar tidak menyakiti, dan bersikap hati-hati. Sehingga “tampak” begitu menginspirasi. Namun, di rumah, bersama keluarga, egoku berkata bahwa aku bisa menjadi apa saja. Sebebas-bebasnya.

Aku selalu yakin bahwa keluarga akan selalu menerima. Apa adanya. Lalu, aku pun bersikap semena-mena. Namun keluarga, bagaimana pun egoisnya aku, mereka selalu memaafkan. Memahami hal ini, bagaimana bisa aku lupa dan tidak menempatkan keluarga pada posisi yang pertama?

Keluarga adalah Sumber Kekuatan

Yang menguatkan seorang hamba pastilah Allah semata. Namun, ternyata bantuan kekuatan yang Allah berikan dapat melalui perantara tempat lain, yakni pemikiran kita sendiri.

Manusia berusaha menjadi kuat agar tidak menyulitkan hidup orang lain. Aku pun begitu. Aku berusaha supaya kuat dan tangguh demi keluargaku.

Aku tidak ingin menambah beban yang ayah sedang pikul. Aku tidak ingin menambah beban pikiran mamaku. Aku tidak ingin menjadi beban untuk adik-adikku karena sikapku yang tidak bijaksana. Hal-hal itulah motivasi terbesarku agar tidak mengeluh dan selalu melakukan aksi. Paling tidak, bila tidak bisa meringankan, bukankah sebaiknya aku tidak membebani?

Tidak apa dilabeli “sok kuat”. Menurutku, “sok kuat” adalah bentuk usaha manusia agar menjadi kuat. Afirmasi diri memegang peranan penting untuk mempengaruhi diri, lho. Afirmasi positif yang dilakukan berulang kali akan terpatri dalam hati. Apa-apa yang sudah terpatri pada hati, akan memberi pengaruh pada pikiran kita sendiri. Coba deh. 😊

Bersama keluarga, aku bisa menjadi orang yang berkali-kali lipat lebih tangguh, kuat, dan bersyukur.

Keluarga adalah Tempat Belajar

Tempat yang paling banyak menemukan kesalahanku adalah rumah. Orang yang paling banyak menemukan kekhilafanku adalah keluarga.

Apakah keluarga akan harmonis dan hangat selalu? Tidak. Perselisihan di dalam keluarga tentu saja sering terjadi. Karena semua orang bersikap apa adanya dan semaunya, pada akhirnya kita pun lupa menghargai antar anggota keluarga.

Kita lupa, dari ucapan yang “sembarangan” ternyata bisa mencipta luka. Dari sikap yang “semaunya” ternyata bisa menghadirkan pertikaian.

Dalam menghadapi masalah keluarga, Ayahku lebih sering mengalah. Mamaku lebih memilih diam untuk hal-hal yang menganggunya. Orang yang paling sering menegur segala khilafku adalah adikku. Dan aku sangat berterima kasih sekali padanya. Tanpa kejujuran dan keberaniannya mengungkapkan apa yang dirasa, aku tidak akan menyadarinya.

Kini, aku sadar bahwa segala yang kuanggap sebagai “iktikad baik” ternyata tidak selalu kusampaikan dengan “cara yang baik”. Dan hal-hal seperti ini harus aku renungkan dan segera diperbaiki lagi.

Ada satu hal yang aku dan adikku yakini,”Bagaimana pun keadaannya, kita sudah tertakdir menjadi keluarga. Yang artinya, Allah ingin kita berjuang dan selalu bersama-sama. Maka, daripada saling menghakimi, bagaimana kalau kita berusaha saling melengkapi? Sebab, hanya dengan cara itulah kita akan terus berusaha perbaiki diri dan menjadi versi terbaik diri.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s