Memelihara Moi dan anak-anaknya adalah pengalaman pertama kami memiliki hewan peliharaan. Khususnya untuk aku.

Sebelumnya, aku tidak terlalu peduli sama hewan. Namun, perlahan berubah setelah melihat bagaimana adik-adikku menyayangi hewan. Ditambah, pernah diskusi singkat pada kolom komentar wordpress bersama Mbak Ikha, aku menjadi tertarik untuk lebih banyak mengamati hewan.

Mbak Ikha bercerita kalau ia sudah lumayan sering memelihara hewan. Kambing, ayam, dan kucing pernah si mbak pelihara. Katanya, hewan itu akan bersikap sebagaimana manusia bersikap. Hewan-hewan itu tahu betul kalau kita sayang beneran atau tidak. Jadi, sebaiknya aku nggak perlu takut sama kuku si kucing. Dia nggak akan mencakar kalau kitanya baik. Dari obrolan ini, aku pun semakin bersemangat memperhatikan tingkah Moi di rumah.

Rasa sayang yang aku berikan untuk kucing berbeda dengan adik-adikku. Adik-adikku adalah tim yang bekerja sama memberi kasih sayang ke Moi dengan cara mengajak bermain dan bercanda 😁 kalau aku dan mama adalah tim yang memberi kasih sayang ke Moi dengan cara menjaga tempat tinggal dan memastikan makanannya tetap ada.

Mamaku memang tipikal orang yang sulit jujur pada perasaannya. Begitu juga saat memperlakukan Moi. Mamaku selalu mengaku kesal sama Moi. Mamaku juga selalu mengeluh atas kehadiran Moi. Namun, meskipun kesal dan mengeluh, mama selalu rajin membelikan ikan untuk Moi di pasar 😁

Apa saja keluhan si mama? Keluhan pertama mama muncul karena Moi suka mencuri makanan kami. Sejak kubelikan Moi makanan khusus kucing, keluhan mama pun berkurang. Karena si Moi pun akhirnya tidak mencuri makanan lagi.

Keluhan kedua muncul karena Moi mulai nakal buang air besar sembarangan. Kenakalan inilah yang akhirnya memunculkan masalah yang membuat aku dan adik-adik sedih berkepanjangan.

Pengalaman Memelihara Hewan

Memelihara hewan tidak hanya tentang memberikan kandang dan makanan saja, maka setelah itu urusan selesai. Dari pengalamanku memelihara hampir setengah tahun, memelihara hewan berarti kita harus memenuhi semua kebutuhannya.

Bagaimana si kucing tidur dengan nyaman, bagaimana si kucing makan dengan kenyang, bagaimana si kucing bermain dengan riang, bagaimana si kucing tetap terjaga kesehatannya, dan bagaimana si kucing bisa hidup dengan tertib dan bersih. Beberapa pertanyaan itu Insya Allah sudah kami penuhi. Namun, pertanyaan terakhirlah yang menjadi masalah bagi kami.

Aku bisa memastikan si kucing tidur dengan nyaman dengan memberikan kandang dan selimut. Aku bisa memastikan si kucing tidak kelaparan dengan membeli makanan kucing dan memberi makan dengan teratur. Aku bisa menjaga kesehatan si kucing dengan cara tidak membiarkan dia makan dan keluar rumah sembarangan. Tetapi ternyata, aku kesulitan untuk membuat si kucing tetap tertib dan juga bersih πŸ˜₯

Membuat kucing kampung tetap tertib dan bersih ternyata tidak mudah. Karena ia tumbuh di jalanan. Ia juga terbiasa hidup tanpa aturan. Lebih mudah mendidik kucing yang sejak lahir dan tumbuh bersama-sama kami. Mereka mudah dilatih.

Seperti si anak-anak Moi, Matcha dan Mocca. Mereka tidak buang air besar dan kecil sembarangan sejak kubelikan tempat khusus buang kotoran. Setelah tempat khusus buang kotoran itu kuisikan pasir wangi, mereka pun selalu buang kotoran di sana.

Berbeda dengan Moi. Meskipun aku dan adik-adik sudah melatih Moi untuk buang kotoran di tempat itu, si Moi tetap tidak patuh. Ia malah lebih senang buang kotoran di dalam rumahku. Alhasil, selama satu bulan pun rumahku bau kotoran hewan.

Kami Tidak Mau Membuang Kotoran Kucing

Permasalahan muncul ketika aku dan adik-adik tidak rutin membuang kotoran di kandang dan tempat khusus buang kotoran. Ditambah si Moi juga membuang kotoran sembarangan. Akhirnya, kotoran pun berkeliaran di dalam dapur.

Karena kami tidak nyaman sama kotoran kucing, akhirnya si mama yang membuang semua kotoran itu. Karena perihal ini, mama pun semakin kesal sama Moi. Mama juga kesal sama kami. Akhirnya, mama meminta supaya kami membuang Moi.

Menjadi Renungan

Tulisan di bawah ini akan selalu menjadi renungan untukku.

Orang-orang yang telaten memelihara kucing menurutku hebat banget. Mereka memang benar-benar cinta sama kucing. Mereka mau melakukan segalanya untuk kucing.

Aku ternyata belum mampu seperti itu. Aku bukan apa-apa dibanding mereka. Aku mengaku sayang sama kucing, namun masih enggan membersihkan kotorannya.

Meskipun menggunakan masker dan sarung tangan, aku tetap tidak kuat membersihkan kotorannya 😭 aku pernah beberapa kali membersihkan kandang kucing-kucingku. Ternyata aku tidak nyaman. Meskipun mampu membersihkan si kandang sampai bersih, aku tidak dalam keadaan hati yang bahagia saat melakukannya.

Rasanya beda saat aku membantu adikku yang kecil buang air besar. Meskipun tetap saja ada sedikit rasa tidak nyaman (Mungkin nanti rasa ini akan hilang ketika sudah punya anak πŸ˜…), aku dengan tulus melakukannya. Aku juga telaten mengajarkan si kecil cara membersihkan kotorannya. Setelah selesai, hatiku pun tetap berbahagia tanpa meninggalkan rasa tidak suka berkepanjangan.

Adikku pun juga begini. Mereka enggan membersihkan kotoran si kucing. Yang paling rajin membersihkan hanya mama. Tetapi, mama kesal. Karena kekesalan inilah akhirnya mama membuang Moi dan anak-anaknya tanpa seizin kami 😭

Kami tahu tentang pembuangan ini pun hanya dari pesan singkat yang mama kirimkan dalam group keluarga. Isi pesan singkat itu adalah tentang izin sekaligus permintaan maaf karena telah membuang para kucing.

Bagaimana perasaan aku dan adik-adik? Hati kami patah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami memang salah. Kamilah yang membuat mama marah karena tidak mau membersikan kotoran kucing.

Karena rasa bersalah inilah kami tidak protes atas tindakan mama. Aku hanya berbagi kesedihan sama Niar. Danang dan Satria masih kecil. Meskipun sedih, mereka tidak bisa benar-benar menunjukkan.

Tubuh ternyata tidak bisa menyembunyikan bagaimana keadaan pikiran.

Esok harinya setelah kucing-kucingku dibuang, adik-adikku sakit. Mereka sama-sama demam. Kurasa, enam bulan adalah waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan perasaan. Adik-adikku sering bermain bersama-sama Moi. Raut wajah mereka juga selalu ceria tiap kali menghabiskan waktu bersama Matcha dan Mocca. Mereka sayang sama Moi anak-anaknya.

Dari lubuk hati yang terdalam aku benar-benar sedih dan menyesal. Sedih karena tidak bisa mempertahankan Moi dan anak-anaknya agar tetap tinggal. Menyesal karena rasa sayangku untuk para kucing bersyarat. Tidak mau membersihkan kotoran hanya karena rasa tidak nyaman, pantaskah aku dikatakan sebagai si penyayang hewan? Sepertinya tidak.

Lalu, aku pun menyadari. Aku belum pantas dan berhak memelihara hewan. Karena aku belum menerima segala hal tentang kucing sepenuhnya. Mereka yang pantas dan berhak adalah orang-orang yang mampu menjaga serta menerima kucing tanpa syarat. Bahkan untuk segala kotoran yang kebanyakan orang tak suka.

One thought on “[Day 23] Mereka yang Berhak Memelihara Hewan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s