Aku tidak pernah membicarakan arti namaku sendiri secara serius. Pernah suatu ketika aku menanyakan arti namaku, mamaku malah menjawab begini,“Dulu saat mengandung kamu, mama nonton film india Rama dan Shinta. Pemeran Shintanya si Sri Devi, Mbak. Cantik banget. Yaudah, mama namain kamu Shinta aja hahaha.”

Pembicaraan serius pun paling seperti ini,“Shinta itu artinya perempuan yang pemberani. Anggraini itu artinya Hari Selasa.” jawab ayahku. Singkat dan tidak menarik hahaha

Karena kedua orang tua menjawabnya sambil bercanda, aku pun jadi hilang minat untuk bertanya lebih rinci lagi. Saat itu, sepertinya aku juga belum terlalu peduli arti sebuah nama.

Saat Sekolah Dasar (SD) pada zamanku, nama-nama yang ada disinetron itu keren banget. Semisal, Chika, Nadia, Anastasya, Nafisa, Citra, dan lain sebagainya. Ingin rasanya punya nama seperti itu. Entah apa definisi keren pada zaman itu. Dan entah apa motifnya. Yang jelas, aku tidak terlalu bangga dengan namaku sendiri. Dan nama-nama yang ada disinetron selalu menjadi kesukaan.

Apalagi nama belakangku adalah nama ayahku, Karsono. Dulu, saat SD ejekan nama ayah sedang booming sekali. Anak SD selalu merasa bangga dan terhibur tiap kali menemukan “sebutan lucu” untuk nama orang tua. Bagi teman-temanku itu hiburan.

Dulu, nama ayahku diubah menjadi “ke sono”. Dan semua tertawa. Untuk angkatanku, yang biasa membuat lelucon biasanya laki-laki. Akibat hal tersebut sebuah nama tidak menjadi berharga dan spesial lagi. Malahan, bagi orang-orang yang memiliki nama ayah di belakang namanya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan sama sekali.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), lelucon dengan nama orang tua sudah tak terdengar lagi. Namun, pada zaman itu, menggunakan nama samaran sedang ngetrend sekali. Nama samaran seperti, botak, koplak, gendut, kurus, cungkring, dan lain-lain. Siapa pun tidak ada yang merasa tersinggung. Dan nama tersebut biasanya melekat hingga lulus sekolah.

Oh iya, aku sempat dipanggil gendut πŸ˜‚ Alhamdulillah tidak tersinggung, karena pada saat itu aku menganggapnya sebagai “panggilan sayang” dari para sahabat hahaha

Sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) pun arti nama hanya sebatas itu saja. Usia dan pengalaman pun akhirnya berperan. Semenjak kuliah, sebuah nama menjadi sesuatu yang berbeda untukku. Sebuah nama menjadi lebih berharga.

Saat awal kuliah, aku disuruh mengisi biodata dengan benar. Dan diingatkan bahwa nama yang dicantumkan pada biodata, akan tercantum pada lembar ijazah. Jadi, mengisinya harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan.

Ditambah, diwajibkannya menulis nama lengkap teman-teman untuk cover sebuah karya ilmiah atau laporan. Aku terbiasa memperlakukan sebuah nama dengan benar. Kesalahan ketik tidak diizinkan. Berkat semua itu, aku menjadi semakin tahu bahwa sebuah nama selalu spesial dan tidak boleh diperlakukan asal-asalan.

Apalagi diusia sekarang. Ketika melihat kawan-kawan mencari nama untuk buah hatinya. Mereka mencari informasi melalui buku, internet, atau pun berdiskusi dengan banyak orang. Perjuangan mereka sungguh membuat terkesan.

“Nama adalah doa. Maka, memilih nama dengan baik adalah sama seperti mendoakan anak dengan banyak kebaikan.” begitu kata mereka.

Hatiku pun akhirnya tergerakkan. Sore tadi aku bertanya lagi sama ayah tentang arti namaku. Setelah sekian tahun berlalu, keingintahuanku tentang arti nama muncul kembali.

“Apa arti Shinta Anggraini Karsono, yah?” tanyaku.

“Kenapa kok tiba-tiba nanya?” tanya ayahku dengan mimik muka penasaran.

“Nggak apa-apa. Mau nulis tentang nama hehehe.” jawabku singkat dan penuh harap supaya ayah segera menjawab rasa penasaran.

“Shinta itu artinya orang yang tenang dan mudah diatur. Anggraini itu asal katanya Anggoro. Itu bahasa Jawa, Mbak. Artinya Hari Selasa. Kamu lahir Hari Selasa. Karsono ya nama ayah. Biar orang tau kamu anak ayah hahaha.” jawab ayah panjang. Aku takjub ayah menjawab dengan super panjang. Sungguh, ini kejadian jarang.

“Kok ayah nggak pernah kasih tau arti nama ke anaknya?” tanyaku.

“Anak kecil dikasih tau nggak akan ngerti. Entar kalo udah dewasa juga akan paham.” jawab ayah. Pada poin ini aku tidak setuju sama ayah. Meskipun tidak akan mengerti dan paham, anak-anak harus tahu arti namanya sendiri. Untuk apa? Untuk kekuatan diri menjalani kehidupan.

Untuk memastikan dan semakin mantap, sesudah mengobrol aku browsing sebentar. Arti nama yang kutemukan sama persis seperti kata ayahku. Ternyata namaku berasal dari Bahasa Sansekerta. Setelah paham, aku jadi malu sendiri. Kemana saja aku, menunggu usia lebih dari seperempat abad dahulu untuk mencari tahu.

Seandainya sudah tahu sejak kecil, sepertinya pemahamanku tentang nama akan lebih baik. Kurasa, bullying verbal tentang nama dari siapa pun tak akan berarti apa-apa. Dan pengertianku tentang sebuah nama juga akan semakin bijak. Meskipun begitu aku tidak menyesal. Lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali, kan? 😊

Advertisements

9 thoughts on “[Day 14] Namaku

  1. dulu aku pernah sempet gimana gitu sama namaku mbak, soalnya tiap kenalan sama orang, sering orangnya agak heran gimana gt “umi? ibu2 dong, kn blm ibu2 “,
    pas nanya ke ibukku dijelasin kalau nama itu mengandung doa, orang tua pengen anaknya jd wanita/ibu yg salehah lagi baik.
    jadi makin ke sini makin PD aja kalau ditanya sama orang namanya siapa. meski tetep aja kebanyakan mereka agak heran πŸ˜…

    Liked by 1 person

    1. Respon orang emang lebih sering menjustifikasi daripada bertanya ya Mbak Ikha wkwkwk padahal nanya kan bisa “Mbak Ikha, ada cerita nggak dibalik nama Umi?” Kalo emang penasaran gituuuu.

      Mulai nerima dan cinta nama sendiri kapan, Mbak? Hehe

      Nama Anggraini sebenarnya berasal dari Dewi Anggraini, Mbak. Dia istri Arjuna di perwayangan. Artinya istri yang setia wkwk Selasa sebenarnya “Anggoro”. Karena aku perempuan, yaudah jadi Anggraini aja gitu wkwkwk πŸ˜‚

      Like

      1. Iya mbak Shinta, bener wkwkwk.

        Mulai nerima pas SD mbak, sekitaran kelas 5 atau 4 kalau ga salah.

        Oh begitu ya Mbak hehe. ❀ jadi makin bagus maknanya. Seorang yang tenang, mudah diatur dan setia. semoga Allah limpahi Mbk Shinta dengan keberkahan ❀

        Liked by 1 person

      2. Mantap Mbak Ikha, penerimaannya udah sejak dini, ya :”’)

        Wkwk, aku Aamiinkan ya, Mbak. Semoga pemahaman kita tentang makna nama ini semakin membuat kita tangguh dan bersemangat ya, Mbak Ikha πŸ˜€

        Like

  2. oh ya, btw kubaru tahu kalau anggraini itu artinya hari selasa. hehehe.
    Mbak Shinta waktu dulu blm tahu fotonya, blm tahu IGnya, ngebayangin mb Shinta cool, kalem, tenang gt. ternyata beneran 😍

    Liked by 1 person

  3. Keliatannya begitu kah, Mbak? Aslinya nggak kalem-kalem banget wkwk Diajak duet pose aneh-aneh juga mau
    πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Oh iya, arti nama Mbak Ikha apa? 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s