Beberapa orang berperan banyak dalam hidupku. Yang kehadirannya membuat aku berkali-kali lipat lebih mengenal diri sendiri dan lebih kuat.

Dela si perantau, misalnya. Ia sudah merantau sejak Sekolah Menengah Pertama. Rumah dela bukan di pusat kota. Butuh 2 jam perjalanan untuk sampai ke sana. Padahal, sekolah-sekolah bagus hanya ada di kota. Alhasil, Dela remaja sudah harus tinggal jauh dari keluarga.

Tahun ini adalah tahun ke 8 pertemanan aku dengan Dela. Pengalaman merantau membuat Dela menjadi perempuan tangguh dan pantang putus asa. Darinya, aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang suka. Mengeluh hanya membuat pikiran dan jiwa lelah saja. Maka, apapun kesulitannya, hadapilah.

Lalu, ada Wira perempuan santai namun tak kalah tangguh dari Dela. Wajah boleh saja imut-imut dan menggemaskan. Namun tekadnya sekuat baja. Dulu, saat menjadi pejuang skripsi, Wira adalah yang paling rajin memotivasi agar segera merampungkan semuanya. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa, Wira juga selalu mengingatkan bahwa bahwa rasa sakit tak boleh mematikan semangat kita.

Aku ingat betul saat kami menangis bersama-sama. Kala itu, kami mendapati dosen penguji yang kata-katanya sungguh tak terjaga. Namun, Wira kembali mengingatkan, bahwa tak mengapa sesekali hati kita terluka. Kita pasti bisa kembali ceria dan tertawa.

Atau tentang Hasan yang tak pernah lupa untuk meringankan beban kedua orang tuanya. Saat itu, kami sedang mengambil uang bersama di mesin ATM. Aku yang tidak sengaja melihat nominal saldonya bertanya,”Kalau uang bulananmu masih tersisa, apakah kamu akan meminta uang lagi kepada orang tua?” Ia menjawab,”Tidak. Aku tidak akan meminta. Bahkan bila dua bulan ke depan uangku masih ada, aku tidak akan menerima uang pemberian orang tua. Bahkan kalau bisa, aku tidak mau meminta uang lagi kepada mereka.”

Saat itu, kami sedang berkuliah di tahun terakhir program diploma tiga. Mendengar perkataannya, membuat hatiku tertohok dan merenung untuk hari-hari berikutnya. Aku baru tahu, ternyata ada banyak kawan-kawanku yang hatinya mulia. Bahkan saat usianya masih sangat belia.

Terakhir, ada Imam si anak rantau dari Minang. Ia bercerita, saat lulus program diploma, ia memutuskan untuk tidak meminta uang lagi kepada ibu dan bapaknya. Ia juga bercerita, kalau dirinya berjanji pada diri sendiri, bagaimana pun sempitnya finansial dirinya, ia tidak akan mau meminta uang kepada orang tua.

Hal itu dilakuan untuk mendidik dirinya sendiri. Agar lebih kuat berjuang dan tidak malas-malasan. Ia meyakini, kalau berada dalam keadaan sempit, daya juangnya akan semakin besar. Dan sebaliknya, kalau dirinya berada pada keadaan yang lapang, daya juangnya akan tidak optimal. Oleh karenanya, ia yakin akan keputusannya itu.

Memiliki kawan-kawan yang begitu kuat dan tangguh, membuat aku terus bercermin dan introspeksi diri. Ternyata, di luar sana ada banyak sekali orang yang berusaha mengalahkan rasa takutnya dan berjuang melebihi batas kemampuannya.

Melihat perjuangan mereka juga semakin membuat aku kuat. Sejak saat itu, aku pun semakin menemukan jati diri dan tidak takut lagi menghadapi kesulitan. Sampai-sampai keluargaku melabeliku sebagai “Shinta Si Pemberani”.

Mungkin mereka bingung dari mana keberanian itu melekat begitu kuat. Mungkin, logika mereka pun tak mengerti atas keputusan-keputusan “nekat” yang aku ambil.

Dan aku akan memberikan jawaban atas keheranan dan kebingungan mereka. Keberanian ini berasal dari keyakinan hatiku bahwa pertolongan Allah itu pasti datang. Maka, aku tenang.

Keberanian ini juga berasal dari kawan-kawan. Contohnya kawan-kawan hebat yang kusebutkan di atas. Setelah banyak mengamati orang, ternyata semua orang berjuang, lho. Semua orang berusaha mengendalikan dirinya. Dan semua orang berjuang agar menjadi sebaik-baiknya insan. Untuk siapa? Untuk yang tersayang. Untuk Allah, orang tua, kawan, dan yang utama untuk diriku sendiri. Untuk apa? Untuk bersyukur, berdaya, dan bermanfaat.

One thought on “[Day 12] Asal Muasal Menjadi Kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s