“Mempercayai bahwa semua orang baik itu petaka.” kata temanku.

“Dunia ini nggak kayak negeri dongeng yang pangerannya selalu baik.” tambahnya.

“Iya aku tau. Tapi, aku tetap percaya setiap orang pasti punya sopan santun.” sanggahku.

“Banyak orang yang rasa kemanusiaannya kurang. Kamu jangan senaif itu.” jawabnya.

“Senggak sopan apapun orangnya, paling nggak dia tau bagaimana ia harus betindak semestinya. Analoginya, kalo udah buka pintu ya seharusnya ditutup kembali, gitu.” harapku.

“Sekarang banyak orang aneh. Bahkan masih sering aku temui orang-orang yang lupa meucapankan terima kasih. Jangan naif lagi, ya.” ia mengingatkanku.

“Iya, aku akan berusaha.” jawabku.

Mungkin, dia adalah orang ke sekian yang merasa kesal dengan keyakinanku. Bahwa hati nurani selalu bekerja pada setiap orang. Padahal, kenyataannya tidak. Ada banyak nurani yang tertutup hanya karena keinginan duniawi.

Aku punya cerita lucu. Suatu ketika ada pasien meminta tanda tanganku. Kebetulan, bapak itu memang sering bertemu denganku. Tanpa memberikan banyak tanya, kutanda tangani saja sebuah kertas. Kemudian, kuberikan pada bapak itu.

Setelah melihat tanda tanganku sebentar, bapak berkata,“Tanda tangannya polos banget. Kayak orangnya. Jangan polos-polos, Mbak. Nanti mudah dibohongi.” Lalu, ia tertawa kecil sebentar dan kemudian pergi.

“Eh, pak?” belum selesai menyampaikan pertanyaan, bapak itu pun melambaikan tangan sambil tertawa kecil menjauhiku. Meski tidak memandang serius obrolan bersama bapak itu, aku cukup merenung sebentar memikirkan perkataannya.

“Masa iya kepolosanku benar-benar sejelas itu, hingga pak pasien menyimpulkan hal tersebut” aku bicara dalam hati.

Selain meyakini bahwa semua nurani pasti bekerja, aku juga senang bertanya. Bahkan untuk pertanyaan sederhana yang menurut kebanyakan orang tidak penting.

Aku juga senang jujur kepada orang lain. Aku tidak pernah malu memuji orang lain jika memang orang itu pantas dipuji. Karena perihal ini, adikku pernah meledek sekaligus menasehati begini,“Kepolosan lo ini kalo ditunjukkan ke orang baik akan menjadi anugerah. Dan sebaliknya, kalo ketemu orang jahat akan jadi malapetaka. Lo jadi sasaran empuk diakalin wkwkwkwk.” Sungguh, adik yang berbakti memang si adikku ini -_-

Setelah meledek, ia pun memberi nasihat serius. Katanya begini,”Mbak, ketika lo dapat kebaikan atau ketemu orang baik, lo harus memikirkan kemungkinan jahatnya. Hal yang mungkin banget lho, beberapa jam ke depan dia jadi jahat. Hati orang bisa dibolak-balikkan, Mbak. Hati manusia itu mudah berubah. Jangan percaya sepenuhnya!” ia memasang wajah serius kali ini.

“Iya, iya. Jadi, gue harus berprasangka buruk sama orang nih? Hahahaha.” kataku sembari meledek.

“Ya nggak gitu hahahaha maksudnya, lo lebih realistis aja gitu. Jangan percaya amat sama orang. Ada banyak banget Mbak orang jahat di dunia ini wkwk.” jawab adikku.

“Iya, iyaaaaa.” aku pun mengangguk tanda setuju.

Mempercayai semua orang adalah baik akan membuat kita lupa cara berhati-hati, bahwa hakikat manusia memang tidak sempurna. Yang akan berbuat salah.

Mempercayai semua orang adalah jahat akan membuat kita lupa cara menghargai, bahwa selalu ada kebaikan yang bisa dipetik dari siapa pun dan mana pun. Bahkan, untuk orang-orang yang membuat hati kita terluka sekali pun.

Lakukan apapun baiknya sekadarnya saja. Sebab, yang berlebihan sering kali membuat kita lupa berpikir sebagaimana mestinya.

Advertisements

12 thoughts on “[Day 13] Sekadarnya Saja

  1. The world has become a very selfish place. Just showing traits of humanity like being kind or appreciative is considered naive! It’s very sad. But people like this are very necessary today. Don’t change for anyone.

    Liked by 1 person

    1. Thanks a lot for your kind words, Anitha πŸ™‚ I agree and it’s a great motivation for me β™₯

      Do you understand Indonesian Language, Anitha?

      Like

  2. tulisan ini mengingatkanku pada pesen sahabatku, dulu dia bilang gini mbak. “sisakan satu petak di hati kita untuk menerima kesalahan orang lain. karena sebaik apapun seseorang, dia tetaplah manusia yg berpeluang salah.”

    jadi, benar kalanya kita percaya pada semua orang adalah sekadarnya. tetep menyisakan ruang kalau kalau dia berbuat salah.
    terima kasih tulisannya mbak Shinta. πŸ™‚

    Liked by 1 person

  3. Bagus, kata-katanya, temennya Mbak :’) ngebacanya bikin hati adem. Berasa dikasih nasihat hangat gitu :’) terima kasih, udah berbagi, Mbak Ikha β™₯β™₯

    Sama2, Mbaaak hihi Semoga pemahaman kita semakin baik ya, Mbak Ikha. Semangat! πŸ˜„

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s