Kata “takut” memiliki banyak definisi. Kalau kamu ketik kata “Fears” disertai kata “Pyschology Today” di belakangnya pada google.com, kamu akan menemukan banyak artikel tentang rasa takut. Coba saja.

Begitu pula dengan aku. Aku memiliki banyak definisi rasa takut.

Sebagai anak, aku takut mengecewakan orang tua dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sebagai kakak, aku takut menjadi kakak buruk yang tidak memberikan teladan baik untuk adik-adiknya. Sebagai teman, aku takut menjadi teman buruk yang melupa teman bahkan untuk sebuah pertanyaan “apa kabar?”. Sebagai seorang Shinta, aku takut melupa rasa syukur. Bila rasa syukur saja aku tidak ingat, bagaimana mungkin aku mampu mengingat Tuhan?

Menurutku, rasa takut itu selalu ada pada setiap manusia. Dan tidak melulu memiliki makna buruk. Rasa takut membuat kita lebih berhati-hati. Rasa takut juga menjadi petanda bahwa kita masih memiliki emosi normal. Jadi, bersyukurlah karena kita masih memiliki rasa takut.

Rasa takut yang sehat adalah rasa takut yang tidak menghambat seseorang menjadi sukses dan maju.

Pertanyaannya, gimana cara mengelola rasa takut? Khususnya, definisi rasa takut yang aku sebutkan pada paragraf panjang tadi? Caranya cuma dua. Pertama, pelajari bagaimana cara menjadi anak, kakak, teman, dan individu yang baik. Kedua, hadapi dan terima apapun hasilnya nanti.

Lakukan sebuah langkah kecil dan perlahan saja. Sesuaikan dengan “caramu bekerja”. Sebab, mengalahkan rasa takut itu tidak mudah dan cepat. Akan selalu ada seribu alasan agar kita berhenti mencoba dan berusaha.

Aku tidak tahu cara tersebut tepat atau tidak untukmu. Namun, aku sudah mencobanya. Dan Alhamdulillah memberikan perubahan baik.

Semua tulisanku pada blog ini adalah contohnya. Sedari kecil aku suka menulis. Namun, selalu gagal menulis diblog hanya karena takut mendapat penilaian dari orang lain. Aku merasa tidak pantas membagikan buah pikiran yang ada dikepala. “Aku ini siapa?” begitu kataku.

Dan ternyata ketakutanku itu hanya menghambatku saja. Karena rasa takut itu malah membuat aku berhenti menulis dan tidak melakukan perubahan apa-apa. Aku menjadi abai pada hobi menulis itu.

Sejak kesadaran itu muncul, aku pun memutuskan untuk terus menulis. Di awali menulis apapun yang aku suka. Kemudian muncullah ide-ide menarik selama perjalanan. Dan jadilah sebuah karya. Meskipun masih pemula, aku merasa senang dan bersyukur sudah menghasilkan beberapa karya tulisan pada blogku sendiri.

Hadapi rasa takutmu. Jangan menunggu rasa takut benar-benar hilang, baru kemudian melakukan perubahan. Lakukan saja langkah kecil bersama rasa takut yang kian menghilang. Dari pengalamanku selama ini, kurasa cara itu adalah yang paling baik dilakukan 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s