Aku membaca beberapa artikel untuk memenuhi tentangan menulis bertemakan Self-Esteem. Selama membaca, aku tersenyum sendiri. Ternyata, perjuanganku mengendalikan diri sendiri sejak beberapa tahun lalu adalah untuk memperjuangkan Self-Esteem ini.

Self-Esteem adalah harga diri. Selama ini aku keliru memahami makna harga diri. Dalam lingkunganku, harga diri biasa digunakan untuk memaknai “perbuatan sombong”. Contohnya saja ketika seseorang tidak pernah mengakui kesalahannya, biasanya orang-orang menyebutnya “harga diri dia tinggi!”. Atau ketika seseorang yang terlalu pemilih dalam berteman, biasanya orang-orang melabeli dia “dia mah emang harga dirinya tinggi!”. Aku tidak tahu di lingkunganmu seperti itu juga atau tidak. Tapi, di lingkunganku masih “akrab” dengan makna itu.

Padahal, setelah aku membaca beberapa artikel, maknanya jauh sekali dari hal tersebut. Self-Esteem biasa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki nilai untuk dirinya sendiri (personal value). Atau singkatnya, seberapa banyak orang tersebut menghargai dan mencintai diri sendiri.

Kita harus memiliki kadar Self-Esteem yang normal atau biasa disebut dengan Healthy Self-Esteem. Kadar Self-Esteem yang terlalu rendah, yakni too little Self-Esteem akan menghambat kesuksesan kita dalam kehidupan. Mengapa? Karena kita tidak percaya kalau diri ini mampu untuk sukses.

Kadar Self-Esteem yang terlalu tinggi yakni, too much Self-Esteem akan menyebabkan sebuah gangguan yang disebut dengan Narcissistic Personality Disorder. Dan dampak negatifnya bahaya sekali. Ia akan merusak hubungan terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Self-Esteem biasanya dipengaruhi dua hal yaitu, faktor genetik dan pengalaman. Dan biasanya dari faktor pengalaman, seseorang yang secara konsisten mendapat kritikan negatif yang berlebihan dari keluarga dan teman, akan memiliki Self-Esteem yang rendah.

Dan aku mendapat benang merahnya. Aku ini sedang menggalakkan pentingnya apresiasi sejak beberapa tahun lalu. Karena, aku merasa kita itu tidak adil. Mengapa kebanyakan orang terlalu fokus pada kesalahan, lalu menyalahkan. Padahal, ada begitu banyak pencapaian dan kebaikan yang perlu kita beri pujian dan penghargaan. Aku baru tahu, ternyata pembiasaan mengapresiasi ini berpengaruh pada Self-Esteem kita.

Perjuangan Meningkatkan Self-Esteem

Di artikel disebutkan bahwa beberapa tanda seseorang yang memiliki Healthy Self-Esteem adalah percaya diri, kemampuan untuk mengatakan tidak, berpikiran positif, kemampuan menerima kekurangan dan melihat kekuatan diri, pengalaman negatif tidak memengaruhi cara pandang, dan kemampuan mengungkapkan apa yang dibutuhkan.

Dari beberapa tanda itu, aku ingin mengevaluasi diri tanda apa yang belum aku miliki saat kecil dulu. Sepertinya masalahku ada pada belum mampunya melihat kekuatan dan belum menerima kelemahan diri.

Aku juga ingin tahu, faktor apa yang paling besar memengaruhi hingga aku tetap bisa berkembang meski masih belum sepenuhnya memiliki Healthy Self-Esteem.

Pada postingan sebelumnya yang berjudul “Cintai Tubuhmu Sendiri”, aku memiliki masalah pada kepercayaan diri. Aku tidak mencintai warna kulitku sendiri. Meskipun begitu, aku masih bisa tampil dipublik dengan menutupi kekuranganku itu. Berkatnya, aku masih bisa berpartisipasi dan berprestasi. Aneh ya? Seseorang yang begitu memikirkan kelemahannya, tetap bisa maju untuk mengembangkan potensi diri.

Orang tuaku bukan tipikal orang yang mudah mengapresiasi kerja keras anaknya melalui ucapan. Yang lebih parah itu ayahku. Dulu, ayahku berharap anaknya itu juara satu. Katanya, akan dapat hadiah. Kamu tahu? Aku mendapat rangking 5 atau 3 besar pun, ayah tidak akan mengucapkan selamat šŸ˜‚

Meskipun begitu, ayahku selalu mendukung kegiatan apa pun yang aku sukai. Selama itu positif dan baik, ayah akan memberikan dukungan penuh. Aku rasa, faktor dukungan orang tua inilah yang membuat aku mampu berpartisipasi dan berprestasi selama sekolah, meskipun masih belum sepenuhnya memiliki Healthy Self-Esteem.

Selain terlalu fokus dengan kelemahan, aku juga belum mampu melihat kekuatan pada diri sendiri. Jika dulu saat aku kecil ditanyakan apa kekuatan yang ada pada diri, maka aku tidak akan bisa menjawab.

Meskipun begitu, Alhamdulillah aku selalu mau bila diberikan amanah di sekolah. Dan selalu berupaya menjadi orang yang bertanggung jawab. Sesederhana diminta menjadi pengibar bendera, menjadi komandan pasukan saat ekstrakulikuler pramuka, atau menjadi pemimpin regu saat perkemahan sekolah.

Bila dipikirkan kembali saat ini, kurasa dulu, aku menemukan kekuatan diri karena diberi kepercayaan oleh orang lain. Faktor tersebut benar-benar membantu meningkatkan Self-Esteemku. Tanpa aku sadari.

Cerita di atas adalah tentang masa-masa sekolah dasarku. Bahwa benar adanya faktor pengalaman juga berpengaruh pada Self-Esteem seseorang. Contohnya aku, dukungan penuh orang tua terhadap kegiatan sekolah dan kepercayaan yang diberikan teman-teman ternyata mampu membantu aku mengenali diriku sendiri.

Meskipun tentu saja pada saat itu aku belum paham sepenuhnya manfaat-manfaat itu. Namun, berkat bantuan orang-orang terdekat, aku tidak mengalami penurunan Self-Esteem. Aku pun tetap mau berpartisipasi kegiatan apa pun kala itu.

Self-Esteem bisa diubah dan dibentuk. Semua hanya tergantung bagaimana lingkungan dan orang-orang yang terpapar dalam hidup kita. Dan tergantung mau atau tidak kita mengenali diri sendiri. Self-Esteem tidak boleh diabaikan. Kita harus selalu berusaha memiliki Healthy Self-Esteem. Kehidupan terlalu indah dan berharga, maka kita harus berusaha menjaga kesehatan jiwa dan raga šŸ˜šŸ˜Š

Yuk, artikelnya boleh dibaca:

https://www.verywellmind.com/what-is-self-esteem-2795868

https://positivepsychologyprogram.com/self-esteem/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s