Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku πŸ™‚

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta πŸ™‚

Advertisements

6 thoughts on “[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

  1. Ada angka di depan judul artinya apa ya mbak?
    Setuju sama artikel ini, cintai tubuh sendiri. Kadang sedih kalo mikir ada kekurangan di fisik, tapi harus bersyukur masih bisa beraktivitas seperti biasa. ☺️

    Liked by 1 person

    1. Artinya artikel hari ke berapa, Mbak πŸ˜€

      Semoga, memikirkan kekurangan diri dibarengi dengan memperbaikinya. Kalau kekurangannya tidak bisa diperbaiki, semoga kita fokus mengoptimalkan potensi diri, ya Mbak.

      Sehingga kita tidak berdiam diri saja dan terus meratapi diri.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s