Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

One thought on “[Day 3] Mengenal Kata Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s