Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Advertisements

2 thoughts on “Definisi Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s