Ini foto bersama sebelum ban motor bocor. Kami baru saja selesai menonton film Upin Ipin. Takdir memang begini. Kita tak pernah tahu kejadian apa yang menghampiri beberapa jam lagi :’)

Ini adalah kejadian ke sekian kalinya. Ketika logika seakan mati rasa karena keberanian yang berlebihan. Aku yang menolak ingat bahwa kejahatan itu sangat dekat.

Beberapa bulan lalu, ayah memarahi karena aku selalu nekat melewati jalan raya kampus itu pada malam hari.

Aku tidak takut. Karena di sana masih banyak mahasiswa berkumpul mengerjakan tugas.

Lagi pula, aku dapat memangkas jarak. Tidak ada kemacetan pula. Dan mendapat bonus merasakan udara malam yang dingin.

Ayah pun segera memberi pertanyaan menohok,“Lebih sayang sama nyawa atau mengutamakan jalan yang tidak macet?”

“Di sana rawan begal, Mbak. Jangan lewat sana.” tambahnya.

“Siap, yah!” kataku menurut.

Kejadian malam tadi,

Ban motorku bocor. Malam ini, aku bersama adik-adik. Danang dan Satria. Sebelum mengambil keputusan sendiri, seperti biasanya, aku pun meminta izin kepada ayah. Dan ayah mengizinkan.

Singkat cerita, aku akhirnya mendorong motor sampai rumah. Si kecil aku dudukkan di atas motor. Sedangkan Danang berjalan kaki memantau kami dari belakang.

Mendorong motor, aku kuat. Menjaga adik-adik, tentu saja aku bisa. Namun, mendorong motor di kegelapan bersama dua anak kecil ternyata super menakutkan. Bukan takut hantu. Melainkan, takut ada orang yang berbuat jahat.

Kejadian malam ini membuatku sadar bahwa tidak selamanya kita harus menuruti keberanian dalam diri. Ada kalanya, kita harus berpikir berulang kali untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Tidak masalah, menunggu lama atau melalui jalan yang lebih jauh. Sebab, keselamatan selalu utama.

Kejahatan itu dekat. Ia tidak datang kepada orang yang lalai saja.

Kita harus waspada. Kalau kata Bang Napi pada berita sergap, kejahatan bukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

Saranku untuk perempuan, sekuat apapun kita, kodrat perempuan memang tak memiliki kekuatan fisik sekuat laki-laki. Maka, bila berada dikondisi yang membahayakan, baiknya jangan terlalu merasa “mampu”. Karena, pada beberapa kondisi perempuan memang tidak bisa berjuang sendiri.

Apalagi seperti kedua contoh yang aku berikan di atas. Kita harus berhati-hati. Sebab, potensi para pelaku kejahatan adalah laki-laki. Kita sebagai perempuan tak akan mampu beradu fisik seorang diri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day24

***

Aku sedang latihan menulis rutin lagi. Jadi, aku mengikuti 30 hari bercerita yang diadakan akun instagram (IG) @Pejuang30dwc. Karena IG sedang bermasalah, untuk sementara aku unggah tulisan di wordpress ini.

Barangkali, teman-teman ingin membaca tulisan day 1 sampai day 21, silakan lihat di IG @shintakrs 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s