Setiap kita tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kita juga memiliki nilai yang selalu menjadi acuan. Tetapi, menuju tujuan dan menjalani nilai tidak semudah menuliskannya menjadi kata. Sebab kita, di dunia ini tidak hidup sendiri saja. Ada mereka di sekitar kita. Mereka yang memiliki tujuan dan nilai yang berbeda, namun harus tetap hidup bersama. Maka, menjadi manusia yang keras kepala dan tidak fleksibel akan menjadi malapetaka.

Seorang mahasiswa baru, bernama Tita memiliki semangat yang membara dan mental sekuat baja. Ia menyambut tugas dengan suka cita. Meskipun saat menjalaninya tidak melulu tentang suka, Tita akan berusaha sekuat tenaga. Namun, kehidupan kampus tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saja hambatannya.

Ketika bekerja sama dengan kawan yang berbuat semaunya, misalnya. Yang tak juga mengirimkan bagian tinjauan pustaka saat diminta. Ah, membuat pusing kepala, bukan?

Tetapi inilah tantangannya. Bagaimana cara Tita mengajak kawan yang berbuat semaunya itu mau bekerja sama. Sebab, defisini berhasil bukanlah saat Tita mampu mendapat nilai A sempurna. Melainkan, bagaimana Tita menjadi bermanfaat untuk sesama.

Atau cerita tentang seorang karyawan baru yang tak akur dengan seniornya. Perihal ini bukan tentang kesalahan dalam bekerja. Melainkan hanya tentang dua orang manusia yang memiliki karakter berbeda. Si karyawan baru mendapat kritik subjektif yang tak enak didengar telinga. Sampai-sampai membuat hati si karyawan baru terluka.

Tetapi, hidup hanya menjadi sia-sia bila segala luka dibiarkan mengendap begitu saja. Maka, si karyawan baru berusaha mengubah pola pikirnya. Ia mencoba, bagaimana bila berusaha memahami seniornya.

Ia tidak memosisikan dirinya menjadi korban. Atau menjadikan sang senior sebagai sosok yang merisak. Ia berusaha menjadi orang dewasa. Katanya, orang dewasa adalah ia yang mampu bertanya tentang apa yang orang lain butuhkan. Maka, ia pun berusaha mencari tahu tentang apa yang senior butuhkan.

Keberhasilan bukan tentang mendapatkan kritik pedas atau bukan. Bagi karyawan baru itu, keberhasilan adalah ketika mampu memahami si senior. Dan menerima secara utuh tentang karakter baik dan buruk si senior itu. Sebab ia tahu, sebaik-baiknya kehidupan adalah ketika sesama manusia bisa berjalan beriringan dalam damai.

Api yang panas akan terus membesar bila kita tidak padamkan dengan kain basah. Es beku akan tetap membeku bila kita tidak memberikan waktu agar ia mencair.

Semua hanya tentang usaha kita dan waktu, kan? Semua hanya tentang kemauan kita untuk menunggu dengan sabar. Bahwa segala tujuan dan nilai yang kita anut tidak melulu berjalan beriringan. Tidak melulu berjalan sesuai tolak ukur yang kita tentukan. Terkadang kita perlu menunggu sebentar, untuk mendapatkan pemahaman baru yang menakjubkan. Hidup memang begini, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s