Dua hari beristirahat di rumah Alhamdulillah cukup mengembalikan energiku. Dua hari lalu berada di keramaian cukup membuat aku kelelahan. Sebenarnya bukan lelah fisik karena tugas yang banyak. Melainkan lelah karena terlalu lama berada pada lingkungan yang bising.

Ketua KPPS menginstruksikan agar kami berkumpul pukul enam pagi. Pada kenyataannya, aku terlambat sepuluh menit. Aku terlalu ngantuk untuk bangun pagi karena malam harinya petugas KPPS harus menyiapkan lokasi tempat pemilihan umum. Kami selesai menyiapkan semuanya pukul sebelas malam. Kalau kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak tentu saja jawabannya iya. Apalagi aku tidak terbiasa tidur larut malam. Pukul sepuluh malam lewat masih di luar rumah mengerjakan tugas adalah kegiatan yang menyulitkan untukku. Mata benar-benar tidak kuat untuk tetap terjaga.

Tanggal 17 April 2019, tepat pukul tujuh pagi warga sudah berkumpul di TPS 41. Mereka antusias sekali. Tetapi kasihan, mereka harus menunggu lama di luar TPS. Tak ada bangku pula. Aku baru tahu ternyata sebelum memulai proses pencoblosan, ada proses panjang yang harus dilakukan. Aku kira petugas KPPS hanya perlu bersumpah saja dan kemudian warga boleh masuk ke dalam. Ternyata masih ada perhitungan kertas suara yang membutuhkan waktu cukup lama. Warga pun tampak mulai gelisah dan lelah menunggu.

Setelah semua kertas suara dihitung oleh panitia, warga segera masuk ke dalam TPS untuk memberikan suaranya. Sekitar 80 % warga RT 03 hadir. Bahkan tetanggaku yang baru saja terserang stroke tetap memberikan suaranya. Padahal berjalan pun ia belum mampu. Beberapa panitia dan saksi pun akhirnya datang ke rumahnya.

Proses pemilihan suara berakhir tepat pukul satu siang. Ada beberapa orang datang pukul satu lewat. Dengan terpaksa dan bersedih kami pun menolaknya.

Proses perhitungan suara berlangsung panjang sekali. Karena pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD kota, dan DPRD Provinsi dilakukan pada satu waktu. Butuh waktu sangat lama untuk menghitung suara yang warga berikan. TPSku saja selesai menghitung suara kurang lebih pukul sembilan malam. Perjuangan tidak selesai sampai di sana. Setelahnya, petugas KPPS harus menulis hasil perhitungan suara pada lembar khusus yang disebut C1. Berita acara juga harus ditulis pada formulir khusus. Semua harus ditulis secara manual dan dibubuhkan tanda tangan panitia dan saksi. Ada beberapa formulir yang harus diisi. Sebenarnya, yang membuat lama bukanlah proses perhitungannya. Melainkan, proses tulis menulis pada banyak formulir dan amplop. Lelahkah? Iya, lelah sekali. Otot-otot tangan dan lengan yang lelah karena dipakai terus menerus sedari pagi.

Bagi aku dan beberapa anggota yang kali pertama bertugas tentu merasa kelelahan. Apalagi tak sempat mandi hingga sore hari. Badan lelah dan tak segar. Urusan administrasi rupanya benar-benar membuat pusing kepala bagi aku yang tidak terbiasa. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Budi dan bapak-bapak lainnya. Mereka tetap semangat dan ceria. Padahal tugas mereka lebih melelahkan dibanding aku. Merentangkan kertas suara seluas koran ke langit-langit sambil berteriak “SAH” adalah kegiatan yang pastinya melelahkan. Meskipun begitu, candaan kerap mereka lakukan untuk membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Ketua KPPS membagi tugas secara rata. Para bapak menghitung suara dan para wanita menuliskan hasil perhitungan suara. Ada yang bertugas mengelompokkan kertas suara yang sah dan tidak ke dalam amplop. Ada yang bertugas menulis pada amplop dan formulir. Lalu, semua petugas bertugas membubuhkan ratusan tanda tangan pada formulir.

Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Mengapa formulir harus dituliskan secara manual? Satu formulir berisi lebih dari lima lembar. Dan kami harus menyalin formulir itu sebanyak minimal lima buah. Coba kita kalikan saja hasilnya berapa. Ada ratusan kertas yang harus kami isi. Padahal jika saja hasil perhitungan suara kita ketik pada laptop akan jauh lebih efektif. Lalu, diprint saja sesuai kebutuhan. Kalau perihal tanda tangan, jika memang harus, mungkin boleh saja dilakukan secara manual. Namun, aku belum memahami mengapa urusan tulis menulis juga harus dilakukan secara manual.

Secara menyeluruh aku bersyukur bisa terlibat dalam pesta demokrasi tahun ini. Pengetahuanku tentang persiapan pemilu menjadi lebih baik. Bahwa saat kita begitu mudahnya menyoblos pada lembar suara, ada usaha para petugas KPPS di belakangnya. Selain petugas KPPS, ada banyak pihak lain yang membantu sehingga pemilu berjalan lancar, aman, dan damai. Aku juga banyak berdiskusi dengan para ibu dan bapak yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ternyata ada banyak sekali orang berjiwa sosial tinggi di sekitarku. Mereka mengabdi dengan tulus untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya 😊

Jika ditanya apakah aku bersedia menjadi petugas KPPS lagi, aku belum tahu jawabannya. Sebab, berada dalam keramaian lebih dari 12 jam ternyata hal yang tidak mudah untukku. Aku seperti kehabisan tenaga wkwk Tidak mandi dalam waktu lebih dari 10 jam juga bukan hal yang mudah πŸ˜‚

Sekian ceritaku tentang pengalaman menjadi petugas KPPS. Semoga menambah informasi untuk teman-teman yang membutuhkan, ya. Berlelah-berlelah untuk kepentingan orang banyak Insya Allah berkah 😁

Advertisements

5 thoughts on “Pesta Demokrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s