Tepat saat adzan magrib berkumandang, masuk sebuah pesan singkat pada gawaiku. Ternyata pesan tersebut dari Pak Budi. Bapak ini adalah ketua kpps timku, TPS 41. Pak Budi mengajak aku dan anggota lainnya menyebar undangan pemilu ke rumah-rumah warga. Saat membaca pesan singkat, ada rasa malas muncul dalam benakku. Malam itu hujan lumayan deras. Pikirku, akan ribet sekali kalau harus hujan-hujanan dan becek-becekkan. Lagi pula, aku juga lelah karena baru saja pulang bekerja. Inginnya berbaring saja di kasurku.

Dibalik rasa dan pikiranku itu, kata hati menolak. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku tak perlu hujan-hujanan, sebab ada payung. Aku juga bisa mencuci kaki bila nanti kakiku penuh dengan tanah basah. Semua petugas kpps kurasa juga lelah. Kami memiliki kesibukan yang berbeda. Enam orang sudah bekerja. Dan tiga orang sedang kuliah di tahun terakhir. Tak ada yang paling lelah diantara orang-orang bekerja. Sebab, rasa lelah ada pada setiap kita yang berusaha.

Aku segera menghubungi Dhea untuk mengajak ia pergi bersama. Ternyata Dhea tidak bisa menemani. Katanya, pintu rumahnya sudah terlanjur terkunci. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Aku sungguh tak tega membiarkan Pak Budi dan Pak Arifin menyebar undangan hanya berdua saja. Para bapak sudah mengurus tenda dan segala keperluan lainnya. Bebal sekali hati bila menyebar undangan pun aku tak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu.

Dari kejauhan tampak dua orang bapak menggunakan payung hitam besar. Mereka adalah Pak Arifin dan Pak Budi. Wajah keduanya tampak senang saat melihat aku datang. Supaya cepat, aku langsung menyapa mereka dan meminta undangan yang masih belum tersebar. Dan ternyata masih banyak sekali undangan yang tersisa. Pak Budi mengatakan, semua undangan harus selesai disebar malam ini.

Aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal kecil. Contohnya malam itu. Aku terharu dengan perjuangan para bapak. Dibalik undangan pemilu yang biasa kudapat selama ini, ternyata ada perjuangan beberapa orang di belakangnya. Orang yang tak tampak usahanya, namun kebermanfaatannya dirasakan oleh banyak orang. Orang-orang yang meluangkan waktunya meski rasa lelah menyerang tubuhnya. Hujan malam itu tak menghentikan tekad para bapak menunaikan tugasnya. Melihat para bapak berusaha sekeras itu, mana mungkin aku bisa membiarkan rasa malas ini bersemayam dalam diri?

Ada banyak hal aku dapatkan setelah menyebar undangan pemilu. Semenjak lulus sekolah dasar, aku tak pernah bertatap muka dengan tetangga, kecuali tetangga dekat rumahku. Aku juga tak pernah berkeliling rumah-rumah tetangga lagi. Aku terlalu ‘sibuk’ dengan aktivitas sekolahku. Sepertinya kata sibuk kurang tepat. Akulah yang enggan meluangkan waktu. Sikap yang buruk, bukan? Dan malam itu, setelah lebih dari 10 tahun berlalu, aku melakukannya lagi. Aku berkeliling rumah dan bertatap muka dengan mereka :’) Ada rasa tiba-tiba datang. Rasa rindu yang terobati. Sebuah kelegaan dan kebahagiaan. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu lingkungan dan orang-orang di dalamnya.

“Assalammu’alaikum, bude. Maaf mengganggu malam-malam. Kami mau kasih undangan pemilu, bude.” aku mengetuk pintu sambil memberitahu tujuan kedatangan kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Silakan masuk, mbak.” kata bude. Ia mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.

“Bude, ini undangannya. Bude apa kabar? Hayooo, inget nggak ini siapa bude? kataku. Aku menyodorkan undangan sambil merangkul bahu bude.

“Aduh, maaf, bude nggak inget. Ini siapa ya? Maklum ya mbak, udah tua ingatannya begini deh.” Bude menjawab dengan nada merasa bersalah.

“Hehehe, ini Shinta bude. Beda ya, bude? Udah tinggi ya? Hahaha” kataku.

“Yaampun, Mbak Shinta, bude nggak ngenalin. Iya tinggi banget, kalah nih bude hahaha Udah lulus kuliah ya sekarang mbak?” jawab bude.

“Iya bude. Bukan cuma lulus kuliah, bude. Sekarang udah kerja dan udah memasuki usia nikah malah hahaha.” candaku pada bude.

“Hahaha kamu ini. Semoga bude segera diundang ya!” kata bude.

“Siap bude!! Haha.” jawabku.

Begitulah percakapan hangat singkat yang mengobati rasa rinduku. Iya memang benar adanya, pengobat rindu memang temu.

Lingkungan rumah warga RT 03 tidak terlalu luas ternyata. Aku tidak berjalan begitu jauh. Meskipun seperti itu, kami menghabiskan waktu tiga jam hingga akhirnya seluruh undangan tersebar semuanya.

Aktivitas menyebar undangan berakhir tepat saat rintik hujan berhenti membasahi payung kami. Aku bersyukur bisa mengalahkan rasa malas yang singgah dalam diri. Tanpa itu, mungkin pemahamanku tentang undangan pemilu tidak sebaik sekarang ini. Tanpa itu, rasa rindu pada masa kecil tidak terobati. Dan tanpa itu, aku tidak akan bertemu bude yang meminta diundang bila aku menikah nanti πŸ˜‚

Advertisements

5 thoughts on “Menyebar Undangan Pemilu

      1. ya sama, suaminya ini ternyata namanya ini. Mbah itu ternyata namanya Painah, Bu Lurah ternyata Sumikem dan lain-lain, ah apalagi para pemilih pemula itu, lupa semua

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s