Beberapa hari lalu mama memberi kabar tentang kecelakaan seorang wanita di jalan margonda sambil menunjukkan sebuah gambar KTP dari gawainya. Aku tidak merespon secara serius. Aku hanya mendengarkan ceritanya, mengangguk sebentar, dan kemudian melanjutkan kegiatanku lagi. Esok harinya ada kiriman video dari ayahku dalam group keluarga. Ternyata isi video tersebut adalah suasana paska kejadian kecelakaan di jalan margonda yang merenggut nyawa. Bulu kudukku langsung berdiri saat melihat videonya dan tak sanggup menonton sampai selesai. Ada rasa sedih karena turut berduka dan perasaan takut karena aku pengendara motor juga.

Setelah mendapat kabar dan menonton video aku tak kunjung googling berita itu. Aku tak tahu mengapa melakukan itu. Mungkin aku terlalu ‘ngeri’ membayangkan bagaimana kronologi kecelakaan. Namun, setelah melewati lokasi kejadian semua menjadi berbeda. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kejadiannya hingga korban mengalami kecelakaan sadis seperti itu.

Ini adalah pengalaman pertama aku melewati tempat kejadian perkara (TKP) sebuah kecelakaan. Lokasi kejadian diberi tanda dan digambar menggunakan cat putih. Terlihat sebuah tanda bertuliskan huruf a, b, dan c. Serta tanda berbentuk motor dan manusia. Saat itu, aku belum tahu arti tanda-tanda itu. Meskipun begitu, aku langsung merinding seketika melihatnya. Pikiranku langsung mengoneksikan informasi video paska kecelakaan yang aku punya dengan dengan suasana TKP. Aku membayangkan betapa mengerikan suasana saat kecelakaan. Aku pun tak sanggup membayangkannya.

Tadi malam akhirnya aku bertanya pada ayah tentang kronologi kejadian sesungguhnya dan apa arti tanda-tanda yang kutemui di jalan tadi. Ayah bilang, penanda dibuat untuk menunjukkan lokasi korban, motor, dan kronologinya.

Lalu, ayah kembali bercerita, katanya, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal. Sudah dibuktikan melalui CCTV. Kemungkinan korban mengebut dalam keadaan kantuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, korban pun menabrak median jalan. Kebetulan, median jalan adalah sebuah taman yang dipinggirnya terdapat pagar besi. Dan terjadilah kecelakaan itu. Aku tak sanggup menceritakan lebih lanjut. Kalau ingin tahu, sebaiknya baca saja di berita, ya.

Kemudian ayah memberitahu bahayanya mengemudi dalam keadaan kantuk. Orang yang tidur tentu akan mengalami penurunan kesadaran. Begitu pula saat kita bangun. Kita tak akan mampu secara cepat sadar penuh. Kita pasti membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya kesadaran kembali. Terbayang kan bagaimana keadaan seseorang yang tertidur saat mengemudi? Apalagi dengan kecepatan tinggi? Saat bangun, ia pasti kaget sekali dan hilang kendali. Syukur-syukur secara refleks tombol ‘rem’ yang ia tekan. Bagaimana kalau ‘gas’ yang ia aktifkan? Tentu keadaan dirinya dan kendaraan tak akan terkendali. Oleh karena itu ayah menyarankan, lebih baik menunda perjalanan dan beristirahat dahulu, daripada harus memaksakan diri. Akibatnya fatal, bisa merenggut nyawa kita sendiri.

Aku sangat menyetujui saran ayah. Sebab, aku pernah merasakan sendiri. Aku pernah hampir menabrak kendaraan di depan karena kelalaianku. Untung, aku masih bisa mengerem. Terakhir kali, aku pernah mengalaminya lagi. Kali ini aku menabrak polisi tidur di jalanan kampus UI. Di sana, polisi tidur memang dipasang beberapa dan berjajar. Ada sekitar 4-5 polisi tidur dipasang berdekatan. Tujuannya pasti agar pengendara tidak mengebut. Jalanan Kampus UI itu mulus sekali. Tempat yang asyik untuk mengebut memang. Sayangnya, kala itu aku tidak beruntung. Lagi-lagi aku mengerem mendadak dan akhirnya motorku jatuh ke samping. Tidak ada luka serius. Lutut dan pahaku luka sedikit. Ini memang teguran dari Allah supaya aku tak lalai lagi. Aku salah. Dan aku akan introspeksi diri. Aku akan berusaha berhenti bila kantuk datang lagi. Tak ada yang paling penting daripada keselamatan.

Kecelakaan ini teguran keras untuk diriku sendiri. Aku masih sering mengebut bila berkendara di jalan raya. Aku masih sering lalai. Aku menyepelekan nyawa sendiri. Semoga aku lebih mawas diri lagi.

**

Mbak Ita,

Kejadian yang menimpamu adalah duka teramat berat untuk keluargamu. Namun, pembelajaran besar untuk kami di sini.

Wanita mana yang tak takut berkendara sendiri pada dini hari? Aku yakin kamu pun begitu. Namun, kamu tetap melakukannya. Kamu mengalahkan rasa takut dan tetap tegar bekerja setiap hari. Kamu berjuang untuk keluarga yang kamu cintai.

Entah bagaimana perasaanmu saat peristiwa itu terjadi. Pasti takut sekali. Hingga kami di sini tak sanggup dan tak mampu membayangkannya.

Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah. Semoga Allah melapangkan kubur, mengampuni dosa, dan memberatkan timbangan kebaikanmu. Aamiin. Allah tahu perjuanganmu dan tak akan pernah alpa menghitungnya :’)

Advertisements

3 thoughts on “Bahaya Mengemudi dalam Keadaan Kantuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s