Foto di atas adalah Milo. Satu dari tiga anaknya si Moi kucingku. Foto tersebut aku ambil satu hari yang lalu. Usia Milo belum genap satu bulan. Ia lahir tanggal 12 Maret kemarin.

Anak Moi baru aku belikan kandang kurang lebih satu satu minggu yang lalu. Aku tidak ingat kapan waktu tepatnya. Aku dan Niar sepakat membeli kandang karena kami tahu anak-anak Moi akan lincah sekali bila sudah bisa jalan. Kami khawatir mereka yang kecil itu bisa berjalan-jalan sembarangan. Rawan sekali terinjak orang.

Beberapa hari yang lalu Milo dan dua saudaranya sudah lancar berjalan. Bila hari sebelumnya mereka berjalan merayap pelan-pelan, menjelang usia sebulan mereka sudah bisa berjalan lebih cepat. Aku dan keluarga menyambut dengan riang setiap tumbuh kembang anak-anak Moi.

Hari ini kabar duka datang. Kejadian yang tidak kami inginkan benar-benar terjadi. Salah satu anak Moi tidak sengaja terinjak. Dan tersangkanya adalah aku.

Kronologinya seperti ini, siang tadi Satria dan mama sedang membersihkan kipas angin. Kami sedang asyik meledek si kecil Satria yang begitu sigap dan semangat membantu mama. Padahal, beberapa kali ia mengalami bersin-bersin. Karena tidak ada masker si rumah, aku pun menyodorkan selembar tissue kepada Satria untuk menutup hidungnya. Kondisiku saat itu adalah aku sudah siap berangkat kerja. Aku sudah menggunakan jaket, tas, dan sepatu. Hanya tinggal motor saja belum aku siapkan.

Posisi motorku dan Satria tidak jauh. Aku hanya perlu mundur satu langkah ke belakang dan menghadap kiri. Tanpa pikir panjang aku pun segera bergerak seperti itu. Aku berjalan mundur tanpa menoleh ke belakang. Dengan gerakan cepat dan tidak disadari, ternyata kaki kiriku menginjak sesuatu yang ‘lunak’. Aku nyaris jatuh karena menghindari sesuatu yang ‘lunak’ itu. Namun, terlambat sudah. Meskipun kakiku tidak menumpu penuh, aku tetap menginjaknya. Aku menginjak Milo. Iya, sesuatu yang ‘lunak’ itu adalah Milo.

Milo kesakitan. Aku melihat sendiri bagaimana Milo kesakitan. Aku melihat sendiri ada darah yang mengalir dari hidungnya. Milo bergerak lemas dan perlahan ia tidak bergerak lagi. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku tidak bisa mendeskripsikannya menggunakan kata. Jantungku berdegup sangat kencang. Napasku tersengal. Aku gemetar. Aku tak dapat berbicara. Aku menangis.

Sungguh, aku ingin bolos bekerja saat itu. Aku tidak mengambil keputusan itu. Dalam keadaan shock, aku tetap berangkat. Sebelum berangkat, aku tidak berkata apa-apa pada keluarga. Aku tidak menenangkan mereka. Mereka juga tidak menenangkanku. Suasana sunyi dan senyap. Pemandangan terakhir yang aku lihat, mama dan Danang sedang memercikan air ke wajah Milo. Aku pun tetap pergi.

Di perjalanan, aku tak sanggup menahan semuanya. Aku menangis. Aku memang tidak sengaja. Tetapi, aku tetap berdosa pada Milo. Aku tidak berhati-hati. Semua kalimat berawalan ‘andai’ bermunculan di kepala. Andai, siang tadi aku lebih sigap saat mama menyuruh kami memindahkan Milo ke kandang. Andai, aku lebih inisiatif dan tidak menunda-nunda. Andai, aku lebih peduli dan perhatian. Aku tahu kata ‘andai’ tak pernah berguna dalam sebuah penyesalan. Tetapi, aku tetap ingin mengatakan semua kata ‘andai’ pada pikiranku. Andai, andai, dan andai.

“Milo udah dikubur di depan rumah. Mas Danang yang menggali dan menguburnya.” masuk sebuah pesan singkat dari mama. Milo meninggal. Mamaku mengirim foto terakhir Milo sedang terbujur kaku di atas bantal. Hatiku perih dan sakit. Seperti ada pisau yang menyayat hati. Seperti ada sebuah batu besar menghantam hatiku. Tubuhku lemas. Aku kehilangan tenaga. Aku terisak. Rekan kerjaku kebingungan. Biarlah, aku begini. Aku benar-benar tidak sanggup menahannya sore tadi.

Sepulang kerja, aku memandangi kandang Milo, Moi, dan Matcha. Kini, hanya ada Matcha dan Mocca. Danang membuka pintu dan berkata,“Keinjek lagi?!” Langsung kujawab dengan suara parau,“Menurutmu bagaimana perasaanku, seseorang yang sangat menyesal dan bersedih karena tidak sengaja menginjak Milo, kamu tanyakan seperti itu?”,”Tolong jangan berkata seperti itu lagi.” aku menambahkan.

Ternyata begini rasanya menjadi sebab sebuah kematian. Ada rasa bersalah yang terus menerus bersemayam dalam diri. Ada bayang-bayang Milo tiap kali melihat kucing. Seketika itu pula langsung teringat apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Aku diburu rasa bersalah. Dan tak tahu bagaimana caranya rasa ini kubawa kelak.

Sisi kiri yang berwarna belang-belang, Milo. Sisi kanan yang berwarna hitam, Matcha.
Advertisements

3 thoughts on “Berita Duka Hari Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s