Hujan selalu memiliki cerita bagi orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita.

Beberapa tahun lalu sahabatku tidak menyukai hujan. Katanya, ia tidak senang bila harus basah-basahan karena hujan. Dulu, aku juga tidak menyukai hujan. Sebab, bepergian dalam keadaan hujan sungguh menyulitkan. Saat ini, aku suka hujan. Entah dengan sahabatku. Semoga, saat ini ia juga menyambut hujan dengan suka cita.

Ini adalah cerita tentang hujan. Sore itu kita membuat janji temu. Meskipun sudah tahu setiap sore akan hujan, aku dan kamu tetap sepakat akan pergi pukul empat. Aku, tentu saja tidak masalah bila harus pergi saat turun hujan. Tidak ada yang salah dengan hujan. Masalah hanya pada kita. Kita tidak ingin repot sebentar saja untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak sulit. Semua selalu ada caranya bila kita mau mencari. Kupikir, bila ingin naik motor, aku bisa menggunakan jas hujan. Bila tidak ingin repot memakai jas hujan, aku bisa menggunakan jasa grab car. Kamu, ternyata juga tidak masalah bila harus hujan-hujanan. Kita pun sepakat menerjang hujan untuk memenuhi janji.

Jalan dekat rumahku memang selalu banjir bila hujan deras. Aku menebak masalah ada pada sistem drainasenya. Tidak ada satu saluran air pun di dekat sana. Pantas saja air yang turun menggenang begitu saja. Kamu mengabariku bahwa banjir menghalangimu melewati jalan itu. Kamu terjebak dan tidak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, aku pun memintamu untuk menunggu di ujung jalan jembatan layang itu. Yang sesungguhnya, lumayan jauh dari rumahku. Namun, aku tidak masalah berjalan kaki dalam kondisi hujan. Entah apa yang kupikirkan sore itu.

Hujan semakin deras saja. Di rumah, aku bergegas mengganti sepatu dengan sendal dan membawa payung biruku. Keluargaku tentu saja bingung dengan apa yang kulakukan. Kata mereka,“Mengapa tidak menunggu reda dulu?”. Kujawab saja,“Kita tak tahu kapan hujan ini berhenti. Hujan tidak akan menyakitiku! Hihi.

Aku aneh? Iya, memang. Tetapi, itulah pilihanku. Seseorang pernah mengatakan, bila kita bingung memutuskan sesuatu, ikuti saja kata hati. Sore itu, hatiku memilih untuk tetap pergi. Sederas apapun hujan yang menghantam payung biruku, aku tetap berjalan menuju kamu. Bukankah satu-satunya pengobat rindu adalah temu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s