Ms Nina baru saja mengunggah sebuah foto dalam akun instagramnya. Captionnya sangat menarik,”If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” Kalimat sederhana yang memiliki arti bermakna.

Ms Nina adalah guru sekolah dasar di sekolah inklusi swasta di Jakarta Barat. Pernah menjadi rekan kerjanya adalah anugerah yang berharga. Ms Nina juga teman diskusi yang seru. Dulu aku banyak bertanya tentang anak-anak berkebutuhan khusus dengannya. Dan Ms Nina selalu menyediakan banyak waktu untuk menjelaskan dengan rinci dan lengkap.

Tanggal 2 April adalah Hari Autis Sedunia. Sebenarnya aku lupa. Namun, berkat unggahan ibu-ibu guru sekolah inklusi itu, aku kembali diingatkan. Ibu-ibu guru mengunggah tulisan pada status whatsapp ‘World Autism Awareness Day‘. Mereka juga mengunggah beberapa video murid-murid membawa poster berkeliling sekitar sekolah. Mereka mengedukasi masyarakat sekitar bahwa penyandang autis adalah teman kita. Tak perlu memandang dengan tatapan aneh dan sebelah mata. Seperti caption Ms Nina, jika mereka kesulitan belajar dengan cara kita karena keterbatasannya, mengapa kita yang lebih mampu tidak mengajari mereka dengan caranya?

Aku teringat saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan krl. Saat itu, ada dua orang mahasiswi sedang berbincang. Karena mereka memang berdiri persis di sampingku, aku pun mendengar jelas percakapan mereka. “Iya, dia tuh cowok aneh. Setiap di kelas dia sendirian aja. Kalo jalan kaki, ya nunduk aja. Kalo gue tanya, ngejawabnya pake bahasa baku. Oh iya! Gue pernah ketemu di lift kampus. Masa dia muter-muter di depan lift. Dia baru berhenti muter saat pintu liftnya kebuka. Temen-temen di kelas nggak ada yang bully dia sih. Kita cuma aneh aja.” cerita panjang lebar si mahasiswi berambut panjang itu. Dari intonasi suaranya, aku tahu ia benar-benar bingung.

Dari ceritanya aku bisa menduga siapa yang ia bicarakan. Kata kuncinya adalah ia ‘muter-muter di depan lift’ dan bahasanya ‘baku’. Aku menduga, kemungkinan teman sekelasnya adalah penyandang autis. Penyandang autis tidak asing di telingaku. Aku pernah membersamai mereka selama 1,5 tahun. Meskipun belum ahli menangani mereka, aku memiliki pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Langsung saja aku tulisan ceritanya, ya.

Kali Pertama Bertemu Raka, Patra, dan Fakhri

Di sekolah inklusi tempatku bekerja dulu, aku berkenalan dengan tiga anak penyandang autis. Dua anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi, satunya lagi belum bisa berkomunikasi apa-apa.

Yang pertama sebut saja namanya Raka. Saat aku bertemu dengannya Raka sudah kelas 6 SD. Raka bisa bertanya dua hal yaitu tentang alamat rumah dan tentang rumah. Raka biasanya mengajukan pertanyaan seperti ini, ‘Ms rumahnya di mana?‘, ‘Ms rumahnya warna apa?’, ‘Di rumah Ms ada AC tidak?, ‘Ms rumahnya tingkat tidak?‘. Ketika kita sudah menjawab semua pertanyaannya, Raka akan mengingat semua jawaban kita. Ia hafal betul semua kalimat yang kita ucapkan tadi. Kali pertama tahu kemampuannya, aku kaget sekali. Ia benar-benar hafal jawabanku dalam hitungan detik.

Yang ke dua, sebut saja namanya Patra. Patra kelas 3 SD. Kebetulan aku mengajar di kelas itu. Jadi, aku lumayan tahu kemampuan dan sikap Patra sehari-hari. Patra berbeda dengan Raka. Patra masih sulit melakukan kontak mata. Masalah ini memang hampir dimiliki sebagian besar penyandang autis. Maka, yang dapat kita lakukan ketika berbincang dengannya adalah duduk sejajar dengan dirinya, memegang kepalanya agar menatap wajah kita, dan kemudian ajukan pertanyaan singkat jelas kepadanya. Apa yang kita lakukan itu akan memudahkan Patra menjawab pertanyaan.

Patra juga terlalu sensitif dengan suara keras. Ia masih mampu mendengar musik. Namun, mendengar suara anak-anak yang berteriak atau suara drum saat pelajaran musik akan membuat Patra ketakutan. Perihal ini juga ciri khas anak-anak penyandang autis. Mereka mengalami gangguan pada beberapa panca inderanya. Untuk Patra, ia mengalami gangguan pada pendengarannya. Aku pernah dijelaskan oleh koordinatorku saat di sekolah inklusi dulu. Katanya, pendengaran Patra terlalu sensitif. Jika kita mendengar suara tertawa dan drum biasa saja, bagi Patra tidak. Suara-suara itu super keras terdengar oleh telinganya. Dan kenyataan tersebut sangat menganggu Patra. Maka, tidak heran bila Patra menutup telinga dan menangis tiap kali mendengar suara keras. Kami pun memahami itu. Kelainan itu bisa disembuhkan. Patra hanya perlu dibiasakan mendengar suara-suara itu. Pelan-pelan saja dan tidak perlu dipaksa. Bila dilakukan secara terus menerus dan konsisten, Patra akan mengenal suara-suara keras.

Sama seperti Raka, Patra memiliki kemampuan menghafal yang super baik. Patra paling senang dengan gadget. Ia hafal betul spesifikasi bermacam-macam gadget. Aku takjub sekali saat ia berhasil menyebutkan spesifikasi Samsung Galaxi S7 beberapa tahun lalu 😂

Yang ke tiga, kita sebut namanya Fakhri saja, ya. Fakhri kelas 1 SD. Aku tidak banyak berinteraksi dengan Fakhri. Kelainan Fakhri cukup berat. Ia belum memiliki kontak mata, masih berbicara sendiri tanpa makna, dan masih sering melakukan gerakan berulang. Berbicara dengan Fakhri harus di tempat yang sunyi supaya ia tidak terdistraksi dengan apapun. Fakhri juga belum mengenal instruksi. Dan tidak semua guru bisa berinteraksi dengan dia. Hanya Ms Nisa saja yang mampu mengarahkan Fakhri. Aku pernah beberapa jam bersamanya. Bahkan untuk menginstruksikan Fakhri memakai kaos kaki saja aku belum mampu.

Mereka Membutuhkan Perhatian dan Bantuan Kita

Apa yang penyandang autis lihat dan rasakan memang berbeda. Ada kerusakan pada bagian otak yang membuat beberapa fungsi menjadi terganggu. Beberapa kesulitan yang paling banyak dialami mereka adalah komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta melakukan gerakan berulang. Mereka melihat dan mendengar hal sekitar dengan cara yang berbeda. Kalau kata dokter yang ahli di bidang ini, otak mereka terlalu penuh dan sibuk, namun, mereka tak mampu mengendalikannya. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk memudahkan setiap hal.

Contohnya saja dalam hal komunikasi dan belajar. Dalam komunikasi, jangan berbicara pada mereka sebelum matanya benar-benar menatap mata kita. Ajarkan mereka pengalaman ini. Bahwa ketika berbicara dengan orang lain mata harus menatap lawan bicara. Jangan berbicara saat lingkungan tidak kondusif. Mudahkan mereka melakukan percakapan ini. Lingkungan yang sunyi akan memudahkan mereka menangkap informasi. Dalam belajar, bantu mereka menggunakan media pembelajaran. Belajar menggunakan bantuan gambar dan contoh konkret akan memudahkan mereka mengerti.

Karena mereka memandang segala hal dengan berbeda, memang akan ada banyak perilaku mereka yang menganggu. Mereka akan berteriak dan melempar barang tiap kali merasa cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain bila merasa terancam. Bila anak kecil normal diibaratkan seperti kertas kosong dan dapat kita isi. Anak-anak penyandang autis adalah ibarat kertas yang sudah terisi dan perlu kita perbaiki dan ajari. Mereka membutuhkan berkali-kali lipat pengertian dan bantuan kita. Mengerti segala keterbatasan mereka dan membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Tatapan aneh yang biasa kita berikan pada mereka yang berbeda, kurasa hanya karena ketidaktahuan kita. Jika kita mengenal mereka, aku yakin kita tidak akan memberikan tatapan itu lagi. Malah sebaliknya, kita akan bersemangat memberikan perhatian dan bantuan. Sesederhana menyapa, menanyakan nama, dan mengajak mereka bersalaman, misalnya 😊

Aku tidak memberi apa-apa pada Raka, Patra, dan Fakhri. Akulah yang mendapat banyak hal dari mereka. Berkenalan dengan mereka membuat aku sadar bahwa ada banyak anak spesial yang membutuhkan uluran tangan kita untuk melangkah bersama. Mereka membutuhkan tatapan hangat kita untuk meyakinkan bahwa dunia ini tidak mengerikan seperti yang mereka rasakan. Mereka membutuhkan kehadiran kita untuk memudahkan apa-apa yang sulit mereka mengerti.

Berkat mereka, aku sadar, ada banyak usaha perlu diapresiasi. Ada banyak proses memang harus dilalui supaya kita mendapatkan ilmu yang baru. Berkat mereka, aku lebih banyak bersyukur. Ternyata, ada begitu banyak kemampuan dan nikmat lupa untuk disyukuri.

If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” – Ms Nina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s