Sabtu kemarin adalah liqo pertamaku tahun ini. Dengan guru dan tempat belajar yang baru. Masjid yang aku datangi berada di dalam sebuah kompleks perumahan muslim. Ini adalah pengalaman pertamaku masuk ke dalam kompleks perumahan muslim. Masjid yang aku datangi tidak jauh dari gerbang utama. Saking dekatnya, kita bisa melihat masjid hanya dari depan gerbang. Keren, ya?

Di depan masjid ada abang tukang sayur dan beberapa ibu-ibu sedang memilih sayur. Karena ini adalah kompleks perumahan muslim, seluruh ibu-ibu pun menggunakan jilbab. Beberapa anak bermain di depan masjid. Mereka juga menggunakan jilbab. Benar-benar lingkungan yang indah, gumamku dalam hati.

Setelah mengamati mereka sekilas, aku segera masuk ke dalam masjid. Rupanya Bu Cucu lebih dulu sampai dan sedang duduk di karpet itu. Sebenarnya aku belum pernah bertemu Bu Cucu. Tetapi, bermodalkan informasi foto profile whatsapp, aku yakin betul itu Bu Cucu.

Bu Cucu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku tersenyum balik dan menyapanya. Bu Cucu masih muda. Mungkin berusia 40 tahun. Berwajah teduh dan ramah. Siapapun tak akan sungkan menyapanya lebih dulu. Seperti perkenalan pada umumnya, kami saling memperkenalkan diri dan bertukar tanya. Kesan pertama bertemu dengannya, Bu Cucu adalah orang yang komunikatif dan rendah hati. Saat asik mengobrol, beberapa temanku datang dan pengajian pun di mulai.

Tidak seperti kelompok pengajianku sebelumnya yang lebih banyak didominasi wanita muda dan belum menikah, kelompok ini kebalikannya. Aku adalah yang paling bungsu. Teman-temanku sudah menikah dan memiliki anak. Mayoritas rentang usia mereka adalah 35-40 tahun. Meskipun begitu, dari segi fisik, mereka tampak tak jauh dariku. Mereka begitu ceria dan senang tersenyum. Mungkin perihal tersebut yang membuat mereka awet muda 😀

Bu Cucu menjelaskan, kegiatan pengajian ini ada empat yaitu, kultum yang disampaikan oleh anggota, tilawah, materi oleh Bu Cucu, dan setor hafalan. Program kami adalah menghafal juz 30. Dimulai dari Surat An-Naba.

Materi yang disampaikan Bu Cucu adalah tentang keutamaan Bulan Ramadhan. Bu Cucu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ia membuka materi dengan pertanyaan ini,“Apa yang ibu-ibu persiapkan untuk Bulan Ramadhan? Kulkas yang dipenuhin untuk buka puasa dan sahurkah, bu?” kami saling melempar tatap dan terseyum malu. Benar sekali Bu Cucu. Kita seringkali salah memaknai suatu hal penting.

Meteri yang Bu Cucu sampaikan seperti ini,

Bulan ramadhan itu istimewa. Tetapi, orang-orang tidak mempersiapkannya dengan baik.

Ada satu contoh, mungkin akan menggerakkan hati kita. Jika saja kita memiliki baju seharga 100.000 dengan baju seharga 10 juta apakah kita akan memperlakukan keduanya dengan sama? Tentu tidak. Kita akan merawat dengan baik baju yang 10 juta. Mungkin, baju tersebut akan kita kirim ke laundry. Mungkin, kita akan memberi pesan kepada pihak laundry agar mencuci baju dengan hati-hati. Begitu pula dengan Bulan Ramadhan. Jika saja kita tahu keutamaan Bulan Ramadhan, maka kita akan menjaga amal ibadah sebaik mungkin. Sebab, kita tahu Bulan Ramadhan begitu berharga.

Muslim memiliki empat Bulan Haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Al-Muharram) yang bila kita melakukan banyak amal ibadah, akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Begitu juga sebaliknya. Tetapi, Bulan Ramadhan lebih istimewa dibandingkan bulan tersebut. Kebayang tidak betapa mulianya Bulan Ramadhan ini? Hanya Bulan Ramadhanlah, bila kita beribadah dengan baik, maka segala dosa akan digugurkan. Bulan Ramadhan ibarat Olimpiade bagi umat Islam, goalnya adalah takwa.

Bu Cucu juga menceritakan beberapa fakta di sekitar kita. Aku tertunduk malu mendengarnya. Fenomena itu begitu ‘akrab’ denganku. Sebelum Bulan Ramadhan tiba, semua orang memuaskan diri menyantap makanan yang disuka dan mendatangi tempat yang disenangi, sebab kita tahu saat Bulan Ramadhan tiba akan sulit melakukan semua itu. Saat Bulan Ramadhan tiba, kita begitu sibuk mempersiapkan menu buka puasa dan menyusun agenda kegiatan buka puasa bersama. Saat Bulan Ramadhan berakhir, kita bergembira karena tak sabar menunggu lebaran tiba.

Ada apa dengan kita? Kita seringkali salah fokus terhadap banyak hal. Kita tidak berusaha beribadah sebaik mungkin. Kita malah memikirkan hal lain. Mungkin semua itu dilakukan tanpa sadar. Sebab, kita tak tahu ada banyak kemuliaan yang didapat selama Bulan Ramadhan. Kita tak tahu, Allah memberikan banyak pahala berlimpah bila kita melakukan amal kebaikan. Dan kita tak tahu, Allah mengampuni segala dosa bila kita memohon ampun atas segala kekhilafan.

Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bergembira menyambutnya datang? Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bersedih bila bulan mulia ini berakhir?

Kamu tahu? Para sahabat Rasul mempersiapkan diri sebelum Bulan Ramadhan tiba enam bulan lamanya. Mereka berlatih beribadah sunnah dan berdoa. Mereka berdoa, agar mendapat keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan dan meraih derajat ketakwaan. Setelah Bulan Ramadhan, mereka juga berdoa agar semua amal kebaikan yang dilakukan diterima oleh Allah. Para sahabat yang sudah dijamin masuk surga saja begitu cemas terhadap amal ibadahnya, bagaimana dengan kita? Kita sepertinya harus banyak introspeksi lagi :’)

Kemarin, ada doa bagus yang Bu Cucu ajarkan. Begini doanya,”Allahumma Ahillahu ‘Alaina Bilyumni. Wal-iman Wassalaamati, Wal-Islam Rabbi Warabbakallah.”

Ya Allah hadirkanlah ramadhan itu kepada kami dengan rasa tenang dan keimanan. Dengan keislaman. Wahai Allah Tuhanku dan Tuhanmu juga.

Advertisements

2 thoughts on “Seandainya Kita Mengenal Bulan Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s