Akan ada waktu di mana kamu akan mempertanyakan kebermanfaatan diri di lingkungan rumah. Dan hal apa sajakah yang sudah kamu berikan pada masyarakat.

Kita mungkin sering berpartisipasi pada kegiatan sekolah dan perkuliahan. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi staff dan koordinator suatu divisi. Atau menjadi ketua suatu acara. Bahkan menjadi kepala suatu organisasi. Kita begitu aktif membuat dan melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, lupa berkontribusi pada lingkungan rumah kita sendiri.

Entah aku yang kurang mencari informasi atau memang para pemimpin lingkunganku yang kurang mensosialisasikan, aku tak pernah menjadi panitia apapun di lingkungan rumahku. Waktu kecil, tentu saja aku tak akan peduli dan tak memikirkannya. Setelah besar, aku baru menyadari bahwa tak pernah memiliki peran apa-apa di lingkungan. Kesadaranku semakin membesar ketika menjadi pemilih pada pesta pemilu dan mengantar adikku imunisasi di Kantor RW. Mereka yang menjadi panitia adalah para orang tua. Bahkan ada yang sudah tua renta. Aku lirih berkata dalam hati,“Kemana para pemuda? Bukankah aku ini salah satu pemuda? Mana peranku?” Ah, seketika langsung malu.

Aku pernah bertanya kepada mama, bagaimana cara membantu kegiatan imunisasi. Kukatakan pada mama, aku bisa membantu apa saja. Hatiku benar-benar sedih ketika melihat para orang tua kebingungan mengukur tinggi badan anak pada saat imunisasi. Padahal, untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak bukan hal yang sulit bagiku. Semua itu adalah kegiatan ‘akrab’ yang biasa kulakukan sehari-hari. Saat itu juga, aku bertekad akan membantu kegiatan imunisasi selanjutnya. Tak apa bila tidak diundang. Aku bisa mengajukan diri, kan?

Suatu sore datang sebuah undangan ke rumahku. Sayangnya, aku tidak berada di rumah saat itu. Aku tahu informasi tersebut saat malam ketika sudah sampai di rumah. Menurut informasi mama, Pak RT memberikan dua undangan menjadi petugas KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) pemilu April 2019 nanti untuk aku dan adikku. Pak RT tampak putus asa karena sulit sekali mencari orang yang bersedia membantu. Saat Pak RT di rumahku, beliau bercerita bahwa masih membutuhkan 6 orang lagi untuk mengisi posisi panitia. Saat mendengar cerita mama, aku turut bersedih juga. Pasti si Pak RT kebingungan terhadap kondisi itu.

Tanpa perlu memikirkan dan meyakinkan diri, aku langsung menyetujui tawaran Pak RT. Tanpa perlu membujuk, adikku juga menyetujui tawaran itu. Kami pun mengisi formulir, menyerahkan Foto Kopi KTP, Foto kopi ijazah terakhir, dan Pas Foto.

Satu minggu lalu kami menghadiri rapat pertama. Rapat ini dihadiri oleh seluruh petugas KPPS di RW 10. Aku dan adik hadir tanpa didampingi orang tua. Kata hatiku, sebenarnya ada ragu dan takut karena tak mengenal siapapun selain Pak RT. Kata hatiku yang lain, ada semangat yang membuncah karena akan membantu lingkungan rumahku. Aku memang begini, selalu bersemangat tiap kali terlibat pada kegiatan sosial dan sukarelawan. Ada rasa bahagia yang kudapatkan setelah membantu orang lain. Rasa bahagia yang hanya bisa kurasakan tiap kali menjadi bermanfaat untuk sesama. Rasa bahagia yang berbeda dengan rasa bahagia yang lainnya. Benar adanya, kebahagiaan yang dirasakan bersama-sama memang akan selalu terpatri dalam relung hati.

Rapat dilakukan di mushola sehabis Isya. Kami datang tepat waktu. Di mushola hanya ada dua laki-laki. Satu orang bapak dan satu orang pemuda. Aku hanya mengenal si pemuda itu saja. Meskipun tak mengenal dekat, aku mengingat wajah itu sebagai teman kecilku. “Bang Angga, ya?” aku memulai percakapan dengan pertanyaan. “Masih inget saya, bang?” kulontarkan satu pertanyaan lagi sambil tersenyum. “Ini Shinta ya? Ya Allah sudah besar banget. Ingetlah. Kemana aja Shin? Kok Bang Angga nggak pernah liat Shinta?” Bang Angga menanggapi pertanyaanku dengan antusias dan ramah. Ah senangnya. Bertemu teman bicara yang komunikatif dan ramah memang selalu menyenangkan 😀

Agenda rapat ini adalah pengenalan tentang proses pemungutan dan penghitungan suara. Materi disampaikan oleh Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) Beji. Aku tak ingat nama bapak ini. Yang jelas, bapak menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh awam. Seperti siapa saja yang menjadi pemilih tetap, siapa yang menjadi pemilih tambahan, siapa yang menjadi pemilih khusus, bagaimana aturan pemilihan suara, bagaimana aturan penghitungan suara, apa saja kriteria surat suara dikatakan sah dan tidak sah, dan sebagainya. Karena segala hal tentang pemilu adalah hal baru bagiku, maka aku mendengarkannya dengan sangat saksama dan tidak terpengaruh oleh apapun. Bahkan untuk camilan dan kopi yang melimpah ruah di depanku :p

Selain itu, firasakatku juga mengatakan, sepertinya aku akan mendapat bagian yang ‘agak sulit’. Penting bagiku untuk memahami dengan baik materi ini. Timku, yaitu, TPS 41 terdiri dari sembilan orang. Dua orang sebagai Pengamanan Langsung atau disingkat Pamsung (Bagian Keamanan selama proses Pemilu), Satu orang ketua KPPS (Pak Budi, sudah berpengalaman dalam kegiatan ini), Satu orang ibu (baru pertama kali menjadi panitia), dan empat orang anak muda yang juga baru pertama kali menjadi panitia. Di antara anak muda ini, usiaku lebih tua dibanding mereka. Oleh karena itu, menurut firasatku, Pak Ketua sepertinya akan mempercayakan tugas yang ‘agak sulit’ kepadaku :’)

Firasatku benar. Aku dan Dea ditugaskan dibagian pendaftaran. Yang aku maksud dengan ‘agak sulit’ sebenarnya bukan benar-benar sulit. Seperti kata Pak PPS, menjadi panitia tidak sulit. Kami hanya perlu teliti dan hati-hati. Tentunya kesabaran. Dan tidak perlu terburu-buru. Setelah Pak PPS selesai menyampaikan materi, kami dibolehkan pulang.

Saat rapat, aku berkenalan dengan ketua timku. Namanya Pak Budi. Pak Budi ini aktif sekali di lingkungan rumahku. Pak Budi menjalani peran dengan seimbang. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai pegawai negara, dan peran sebagai masyarakat yang baik. Beliau juga seru diajak diskusi. Pengalaman yang banyak tidak membuat beliau berpikiran keras dan tertutup. Pak Budi memberikan banyak ruang untuk kami bertanya dan memberikan pendapat.

Bahkan saat rapat kedua kemarin (rapat khusus TPS 41), Pak Budi berulang kali mengingatkan bahwa menjadi Petugas KPPS ini mudah. Kita hanya perlu bekerja sama. Kita juga harus berkoordinasi dengan baik. TPS 41 harus memberikan suara yang sama tiap kali memberikan jawaban kepada masyarakat. Pak Budi juga menyemangati kami. Katanya, para pemuda harus belajar menjadi panitia kegiatan sosial seperti ini. Harus ada regenerasi. Beliau tahu kami masih awam tentang hal ini. Pak Budi mengerti dan memahami. Dan siap mengajari. Keren banget ya Pak Budi?

Kata Pak Budi, nanti akan ada rapat lagi. Satu minggu sebelum Pemilu juga akan dilakukan simulasi.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku dan adik sangat antusias menjalani prosesnya. Bahkan di rumah pun, kami membuka forum diskusi hahaha

Untuk aku, berkenalan dengan orang baru dan melakukan adaptasi mungkin bukan hal yang begitu sulit. Tetapi, meluangkan waktu di tengah kesibukan bukan hal yang mudah. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Terima kasih telah memikirkan orang lain.

Terima kasih juga untuk adikku. Keinginanmu untuk menjadi petugas KPPS perlu diapresiasi. Keberanianmu menghadiri rapat kedua khusus TPS 42 tanpa aku yang menemani juga perlu diapresiasi. Terima kasih telah bersedia menjadi teman belajarku untuk banyak hal. Seperti kali ini, kita belajar menjadi petugas KPPS.

Ada kalimat bagus yang sesuai dengan keadaan ini, keraguan adalah ketika kita tidak memahami apa yang diri ini inginkan. Maka, untuk menjadi tidak ragu, jadilah orang yang yakin dengan keinginan diri. Lalu buatlah sebuah keputusan.

Rasa takut bukan untuk terus dinikmati. Tetapi, untuk dihadapi. Maka, jangan takut untuk memulai hal yang baru. Sebab, ketakutan hanya menghentikan langkahmu. Tak akan membuatmu maju.

Jadi, siapkah kamu memulai hari baru dengan sesuatu yang baru? Kalau aku dan adik, sudah siap menjadi petugas KPPS. Sudah siap juga menjalani dengan tanggung jawab. Kalau kamu? Pilihanmu, akan menentukan bagaimana kisahmu. Aku tunggu ceritamu♥

Advertisements

11 thoughts on “Menjadi Petugas KPPS Pemilu 2019

    1. Gitu ya mas? Hahaha Alhamdulillah di tim aku tugasnya dibagi rata mas.

      Yang bagian menghitung suara bapak-bapak dan mas-mas. Para perempuan, bantu bikin berita acara yang buanyakkkk itu mas :””D

      Like

  1. Tak ada yang berminat ya?
    Kalo di sini sepertinya banyak yang berminat. Di kompleks kami juga sepertinya sudah langganan dan orangnya itu -itu juga dan tak mungkin digantikan lagi.
    Kemarin dulu aku pernah sedang di kantor teman di kantor camat, malah datang ibu2 yang nyodorkan diri dan saudara2nya padahal waktu itu belum ada pengumuman resmi dan belum dibuka pendaftaran.
    Kita sama,,, aku juga dulu tidak pernah tahu tentang kepanitiaan dan kader segala macam di masyarakat.
    Baru sejak April lalu sejak aku pindah instansi kerja jadi aku mulai mengetahui bagaimana kegiatan 2 di masyarakat

    Liked by 1 person

    1. Halo, Mbak Sondang 🙂

      Aku sebenarnya kurang paham keadaannya mbak. Informasi dan sosialisasi yang kurang luas, atau memang masyarakatnya yang kurang berpartisipasi. Soalnya, menurut pengalamanku, aku belum pernah ditawarkan jadi panitia2 kegiatan masyarakat. Seperti yang Mbak Sondang tahu, kebanyakan bapak2 dan ibu2 yang jadi panitia ya :”’D

      Semoga ke depannya anak muda lebih banyak terlibat ya, mbak. Karena manfaatnya banyak banget. Kita jadi mengenal tetangga, melatih kepedulian dan kepekaan sosial, dan menjadi bermanfaat untuk orang lain 😀

      Like

  2. teman-temanku tahun ini banyak yang ikut juga mbak, alhamdulillah pemudanya masih rame yang bergerak…
    kalau aku pernahnya jadi petugas saksi jaman 2014, tahun ini libur dulu. mau pulkam saja pas pilihan nanti hehe.

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulillah, turut senang ya mbak kalo pemudanya semangat partisipasi 😀

      Petugas saksi itu berasal dari sukarelawan partai ya mbak? Yaudah pulkam aja mbak, sekalian nyoblos di sana hihi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s