Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Advertisements

13 thoughts on “Kebaikan di Pagi Hari

  1. bener banget ini mbak, kebaikan itu nular :”)
    jadi inget mbak, pernah waktu itu saya dan teman naik mobil kantor (mobil VW yang keluaran tahun lamaa sekali) tiba-tiba di tengah jalan mobil mogok. karena jalan sempit dan mogoknya mobil kita bikin macet, akhirnya ada seorang pengendara sepeda motor yang berhenti memarkir sepedanya lalu mendorong mobil kita agar bisa jalan lagi. terus kalau ga salah dateng 1 orang lagi.

    Liked by 2 people

    1. Iya, Mbak Ikha :”)

      Waaa, mbak ngerasain sendiri ya jadi yang ditolong. Baik banget orang-orang itu ♥ Perasaannya gimana mbak jadi penyebab kemacetan dan jadi seseorang yang ditolong? :’)

      Oiya mbak. Aku pernah mengalami motor mogok juga. Malam hari dan sendirian mbak. Di jalan sempit dan sepi pula. Nggak ada yang mau bantu mbak huft mungkin orang takut aku ini orang jadi-jadian wkwk atau orang mungkin juga takut aku ini orang jahat yang pura2 motornya mogok. Akhirnya setelah dorong motor lama, ada seorang bapak yang bantu aku. Bapak itu nuker motornya. Aku naik mtr dia dan bapak dorong motor aku. Saat itu juga pingin banget nangis terharu :””

      Like

      1. perasaannya waktu itu ga enak campur malu juga mbak. malu pula karena sebenarnya temen saya ini kurang bisa naik mobil VW, tp kondisi karena g ada mobil lain jd terpksa naik. pas ditolongin terharu campur-campur bahagia gitu mbak. posisinya waktu itu lagi panas banget, khas panasnya Surabaya. siapa sih yg betah panas2an dorong2 mobil, plus di jalan sempit jg. Alhamdulillah ternyata ada, ada bapak-bapak yang baik hati yg lngsung bantu-bantu itu. :’)

        ga ngebayangin jd mbk Shinta, kalau aku pasti udah bingung. apalgi aku takut kalau di tempat2 sepi gitu dan sendiri pula. 😆😆
        Alhamdulillah ya mbak, masih ada orang-orang baik di sekitar kita. :’)

        Liked by 1 person

      2. Duh, ngebayangin jadi mbak ikha aku super deg degan. Pasti malu juga karena menjadi penyebab macet di jalan raya ya mbaaaak :”’ Mbak Ikha dan temannya sempat dorong2 mobil? Pasti capek banget itu :”’

        Alhamdulillah. Pertolongan Allah selalu sampai ke orang2 yang hatinyanya mulia ya mbak :’)

        Saat itu aku pun juga takut mbak. Aku dorong motornya setengah lari hahaha oiya, aku mogok karena kehabisan bensin mbak. Akunya yang kurang persiapan. Sejak saat itu, aku jadi lebih bertanggung jawab mbak. Selalu mengecek keadaan tangki bensin tiap kali mau naik motor :”’)

        Like

      3. huhu iyaa mbak, tapi waktu itu aku ga ikutan dorong, temenku sibuk ngehidupin mobil, aku turun dan menyingkir agar (setidaknya) tidak menambah beban. >.<

        Alhamdulillah ya mbak, berkat mogok2 gini kitanya jadi aware sama kendaraan, kondisi bensin misalnya kayak mbk Shinta. jadi pelajaran banget pastinya :")

        Liked by 1 person

      4. ((Setidaknya tidak menambah beban)) kok aku ngakak si baca kalimat ini wkwk mbak ikha seberat apa si emang :p

        Iya, Alhamdulillah mbak. Jadi pelajaran bangetttt mbak :’)

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s