Belakangan ini, aku sedang membaca buku karya Fira Basuki. Judulnya Cerita di Balik Noda (2013). Sudah lama sekali ya, bukunya? Iya memang. Aku mendapat buku ini akhir tahun 2018 di cuci gudang Gramedia. Beruntung sekali menemukan buku Fira Basuki diantara tumpukan buku-buku itu.

Isi dari buku Cerita di Balik Noda sebenarnya adalah kumpulan cerita dari hasil lomba menulis yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Dan Fira Basuki diamanahkan membuat kumpulan cerita tersebut menjadi buku.

Aku belum menamatkan buku Cerita di Balik Noda. Meskipun begitu, energi positif sudah masuk ke dalam diri sejak kali pertama membaca buku ini. “Anak-anak itu polos, sederhana, dan banyak memberikan pelajaran, ya!” begitu kataku saat membaca cerita pertama. “Ah malunya diri ini, seringkali kita mengamati anak kecil dengan kaca mata orang dewasa. Mana mungkin pesan bermakna dari tingkah polos si kecil bisa menyentuh hati ini?” begitu kataku saat membaca cerita ibu-ibu pada lembar selanjutnya.

Karena tema ceritanya adalah Cerita di Balik Noda, maka seluruh cerita bercerita tentang anak yang bermain ‘kotor-kotoran’. Dan dalam seluruh cerita pun terdapat ibu bijaksana yang menghadapi ‘hal-hal kotor’ dengan tidak marah-marah. Sosok ibu dalam buku ini menunjukkan bahwa selalu ada cerita di balik baju anak yang kotor. Maka, memberikan respon marah saat kali pertama melihat mereka bercengkrama dengan kotoran itu tidak tepat. Para ibu memberikan telinganya untuk mendengarkan segala penjelasan dan cerita anaknya. Para ibu juga memberikan pikiran yang terbuka untuk menerima hal-hal menakjubkan yang anak-anak ini lakukan.

Innez yang Berhati baik

Innez 12 tahun menunggu di Pos Ronda karena takut pulang ke rumah. Baju Innez kotor dan uang untuk membeli buku pun telah habis. Dengan kondisi seperti itu, Innez tidak berani pulang.

Mengapa Innez mengalami hal-hal itu, ternyata Innez tidak sengaja menabrak bapak tukang sampah yang sedang makan nasi bungkus sambil berdiri. Alhasil, nasi bungkus tersebut tumpah ke jalan dan ke baju Innez. Karena merasa bersalah, Innez pun meminta maaf dan membantu bapak merapikan tumpahan nasi di jalan. Innez juga membantu bapak menyapu tumpahan nasi yang berserakan. Lalu, Innez mengganti nasi bungkus dengan uang ibunya (uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku). Lengkap sudah ketakutan Innez. Baju kotor, badan kotor, dan uang pun habis.

Ibu Innez diberitahu tentangga bahwa Innez duduk di Pos Ronda. Ibu datang menjemputnya. Melihat keadaan Innez, Ibu tidak memarahinya. Ibu mendengarkan dan mengerti kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ibu menasehati atas tindakan Innez yang kurang berhati-hati. Innez tidak hati-hati karena berjalan sambil bermain gawai yang akhirnya menabrak bapak tukang sampah.

Jika saja ibu Innez tidak mau mendengarkan cerita dan langsung marah, akankah ibu tahu bahwa putri bungsunya ternyata sungguh bertanggung jawab dan memiliki hati yang baik?

Deva yang Gigih dan Memiliki Empati Tinggi

Deva adalah anak berusia 7 tahun yang selalu bersemangat dan tidak takut kotor. Deva senang membantu ibu berkebun dan membersihkan selokan depan rumah. Dengan tawaran hadiah ‘upah’ sehabis membantu ibu, Deva pun semakin bersemangat saja ‘bermain dengan kotor-kotoran’.

Deva ingin sekali membeli sepeda. Maka, tiap kali diberikan upah uang, ia selalu memasukkan uang tersebut ke dalam celengan.

Suatu ketika, warung kelontong kakek kemalingan. Uang hasil warung kakek habis dibobol maling. Melihat kakek bersedih, Deva pun memberikan uang tabungannya untuk kakek. Deva rela menunda membeli sepeda, karena memahami bahwa kakek lebih membutuhkan uang tersebut dibanding dirinya.

Jika saja ibu tidak mengizinkan Deva membersihkan selokan hanya karena alasan ‘kotor’, akankah Deva tumbuh menjadi anak yang gigih dan memiliki empati yang tinggi?

Ada banyak cerita tentang anak dan kotoran. Pada dasarnya, semua anak tidak takut dengan hal kotor. Karena mereka penasaran dan ingin tahu banyak hal. Terkadang, kitalah sebagai orang dewasa yang menutup itu semua. Padahal, rasa penasaran dan rasa ingin tahu adalah kunci bahwa anak senang belajar hal baru.

Masih inginkah kita memberikan ‘respon marah’ bila nanti menemui anak yang sedang ‘berkotor-kotoran’? Masih inginkah kita mengabaikan momen mendengarkan cerita anak hanya karena emosi sesaat yang tidak bermakna?

Dari dua cerita di atas, semoga kita tidak seperti itu lagi, ya. Ada banyak cerita dibalik hal-hal yang kita anggap ‘menyebalkan’. Ada banyak pelajaran dibalik hal-hal yang menguji kesabaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s