Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan manusia bila tidak mengenal kesulitan. Sepertinya, hidup akan menjadi tidak karuan. Kita tidak akan tahu makna perjuangan. Lho, bukannya malah enak hidup selalu mudah-mudah saja? Menurutku, tidak enak.

Ini tentang kebiasaan makanku di rumah. Semua orang tua tentu ingin kehidupan anaknya mudah. Begitu juga dengan orang tuaku. Di rumah, kami tidak terbiasa makan ikan. Protein hewani yang biasa kami konsumsi adalah ayam. Alasannya, dulu saat kami kecil, mama takut anaknya menelan tulang ikan. Bagi mama, mungkin daging dan tulang ayam cukup aman dikonsumsi anak-anak.

Menurut cerita, mama kesulitan memilah antara tulang dan daging ikan. Ternyata, Shinta kecil pernah menelan tulang ikan. Aku tak berhenti menangis karena tulang tersangkut dalam tenggorokan. Sakit rasanya. Karena pengalaman itu, aku dan adik-adik tak diizinkan lagi makan ikan. Alhasil, aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak begitu suka ikan.

Aku tidak mengira, ternyata kebiasaan itu menyulitkan saat tinggal jauh dari rumah. Aku pernah tinggal di kosan dengan gaji di bawah upah minimum. Masa-masa itu adalah masa perjuangan. Aku harus mengatur kehidupan sehari-hari sesuai dengan pemasukan. Uang kuliah memang dijamin oleh ayah. Namun, untuk biaya hidup, rasanya malu sekali bila harus bergantung kepada orang tua. Maka, aku mencoba membiayai hidup sendiri. Meskipun pada kenyataannya, pada akhir bulan seringkali masih meminta kepada ayah. Malu memang, namun saat itu tak ada pilihan lain. Aku harus menyesuaikan hidup dengan keadaan.

Mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan sedari kecil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku yang tidak terbiasa makan ikan pun harus memakan ikan demi bertahan hidup (wkwkwk berlebihan ya. Tapi ini serius 😝)

Kantorku memberikan makan siang. Sebenarnya, setiap hari lauknya bervariasi. Ada ayam, telor, dan ikan. Perjuanganku dimulai saat mendapat menu ikan. Apalagi ikannya diberi kuah (aku kurang suka lauk yang lembek dan tidak matang sempurna) Sudah pasti berat rasanya memakan ikan itu. Aku sangat kesulitan. Shinta besar tidak lagi takut makan ikan karena tulangnya. Kali ini, alasan tidak menyukainya adalah karena memang tidak terbiasa. Aneh saja memakan ikan.

Namun, perasaan tidak suka itu harus dikalahkan. Dulu, aku berpikir begini, menjadi pemilih makanan akan menyulitkan kehidupanku di kosan. Menolak memakan ikan, artinya aku harus membeli makan di luar, membeli makan di luar artinya akan menambah pengeluaran, jika aku terlalu pemborosan, maka gajiku tidak akan cukup selama satu bulan, kalau tidak akan cukup satu bulan, lagi-lagi aku harus meminta uang kepada ayah. Melalui pemikiran panjang, aku pun mencoba memakan ikan. Bersyukurlah wahai anak kosan, ternyata hidup mandiri dapat membuat kita belajar mengatur diri pada setiap situasi.

Sebenarnya tidak hanya tentang ikan. Mendapat jatah makan siang juga mengajariku agar tidak menghina makanan. Apapun makanannya, nikmati saja. Bila tidak cocok dengan cita rasa, selalu ada pilihan untuk memberi makanan tersebut pada sesama. Atau tinggalkan saja makanan tersebut di wadah. Memasak tidak mudah. Prosesnya cukup panjang. Butuh niat, waktu, dan tenaga dalam melakukannya. Mengetahui hal itu, mana mungkin aku sanggup menghina makanan?

Pengalaman sulit finansial memberikan banyak pelajaran. Shinta besar tak lagi takut tulang ikan, ataupun merasa aneh dengan ikan. Sebab, Shinta menyadari, makanan adalah satu dari banyak rezeki yang Allah berikan. Banyak saudara kita yang kesulitan mendapat makanan. Bukankah respon terbaik adalah rasa syukur yang terus terapalkan?

Kesulitan membuat manusia berjuang dan bertahan pada kehidupan. Kesulitan membuat manusia lebih menghargai segala kemudahan. Kesulitan juga meningkatkan kemampuan setiap insan. Meskipun tak mudah menghadapinya, bukankah setiap manusia perlu merasakan kesulitan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s