“Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang meremas bahu rekan perempuan sebagai tanda bercanda atau sapaan? Normalkah tindakan itu menurutmu?” tanyaku. Aku bertanya pada teman laki-lakiku dan sungguh tak sabar mendengar jawabannya.

“Normal saja. Bukankah itu tanda persahabatan?” ia menjawab dan kembali bertanya.

“Menurutku, tidak normal. Selalu ada banyak cara bila tujuannya hanya untuk bercanda. Bila ia terbiasa kontak fisik, kurasa, tanda persahabatan pun bisa dilakukan dengan menggunakan tepukan bahu. Ya kan?” jawabku. aku menjawab agak panjang sebagai tanda keberatan atas jawabannya.

“Iya, benar. Seharusnya temanmu itu dapat memposisikan diri. Kalau lawan bicaranya tidak biasa melakukan kontak fisik, harusnya ia tidak melakukan itu.” jawab temanku.

“Nah. Seharusnya ia menyesuaikan keadaan teman. Jika ia menganggap perbuatannya itu untuk bercanda antar teman, maka lakukanlah kepada mereka yang memiliki pemikiran yang juga sama sepertinya.” jawabku.

“Bagaimana cara ia tahu siapa saja yang memiliki pemikiran sama dengannya?”

“Mereka yang menganggap kontak fisik seperti itu hal lumrah, tentu sering melakukan perbuatan itu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tidak pernah melakukan kontak fisik seperti itu, bukankah bukti yang cukup jelas bahwa ia tidak menyukai hal itu?” kataku.

“Iya benar. Aku pun tidak akan berani kontak fisik ke sembarang orang. Bukan karena takut. Namun, aku menghargai prinsip setiap orang.” jawab temanku.

“Nah, keren kamu! Dunia akan begitu tentram, aman, dan damai kalau ada banyak orang peduli dan perhatian seperti kamu.” kataku. Aku memujinya. “Setiap orang selalu memiliki batasan berbeda saat berteman.” tambahku.

“Iya. Dan kita wajib menghargai batasan itu. Kita juga tidak boleh menghakimi atas pilihan orang lain. Sudah lega mengeluarkan unek-unek?”

“Setuju! Iya, sudah Alhamdulillah.”

“Kamu harus ingat, ada kalanya kita harus bicara kalau memang tidak setuju atau tidak suka terhadap sesuatu. Tidak semua orang mampu mengenal orang lain dengan baik. Contohnya, tentang kontak fisik ini. Mungkin, temanmu tidak peka dan tidak mengerti.”

“Iya. Terima kasih sarannya. Terima kasih. Aku akan ingatkan teman-teman perempuanku yang lain supaya berani mengungkapkan pikiran. Bila tidak nyaman, ia perlu mengungkapkan. Sekali lagi, terima kasih, ya.” jawabku. Aku menutup percakapan dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Betapa beruntung aku memiliki teman bercerita yang memiliki pikiran seterbuka ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s