Nasihat tentang Memilih Calon Suami

“Kamu kalau memilih calon suami harus dapat rida orang tua, ya. Kalau orang tuamu tidak setuju, kamu harus nurut. Tinggalkan dia, pilih yang lain. Meskipun pada akhirnya kamu berhasil membujuk orang tuamu dan mereka menyetujui pernikahanmu, tetap saja tentang hati tidak ada yang tahu. Sangat mungkin, hati orang tuamu belum ikhlas menerima calonmu itu.” Ibu Siti memberi nasihat dengan kalimat yang menenangkan.

“Orang tua itu, punya insting Shin tentang memilih menantu. Mereka tahu laki-laki yang kamu bawa itu baik atau tidak untuk putrinya. Kamu jangan keras kepala, ya. Mereka itu sudah melewati banyak asam manis kehidupan. Jadi, mereka akan tahu bagaimana karakter si calon menantu bahkan dari kali pertama bertemu.” Ibu Siti melanjutkan nasihatnya.

Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya menyimak saja.

“Rida Allah itu rida orang tua, kan? Maka, rida tersebut menentukan sekali bagaimana kehidupan rumah tanggamu nanti. Nurut aja ya sama orang tuamu. Percayalah, mereka tidak akan menyesatkanmu. Mereka selalu ingin Allah memberkahi kehidupan rumah tanggamu.”

Nasihat tentang Menghabiskan Ego

“Puas-puasin masa mudamu, Shin. Lakukan semua kegiatan positif yang kamu ingin sebelum menikah. Mau jalan-jalan, silakan. Mau beli buku yang banyak, silakan. Mau beli barang ini itu, silakan. Mau kulineran, silakan. Kamu tahu mengapa harus melakukan itu? Jika sudah berumah tangga nanti, tidak ada tentang kamu saja. Tidak ada tentang suamimu saja. Yang ada adalah tentang keluarga. Bagaimana meraih kebahagiaan keluarga di dunia dan akhirat. Intinya, kamu harus mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan dirimu sendiri.” Ibu Siti berbicara sambil menatapku hangat.

Nasihat tentang Anak

“Kamu tahu? Tiap kali mengantar si mas ke pesantren, aku selalu menangis setiap perjalanan pulang. Aku selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan si sulung. Jangan sampai mas melihat ibunya pergi dalam keadaan sedih. Setiap ibu tak akan tega membiarkan anak tinggal jauh dari rumah, Shin. Tapi, bila aku selalu berpikir seperti itu, artinya aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri. Iya benar aku egois, aku butuh anakku di dekatku selalu.” kali ini berbeda. Ibu Siti bercerita sambil menahan kesedihan. Aku tahu ia rindu si anak sulungnya yang saat itu sedang di pesantren.

“Si mas butuh belajar di Pesantren, Shin. Mas itu laki-laki. Kelak ia akan memimpin istri dan anak-anaknya. Ilmu agama selalu utama, Shin. Dengan ilmu itu, mas akan mencintai Allah. Bila ia mencintai Allah, ia akan menjaga perilakunya agar tetap dicintai Allah. Bekal itu penting untuk calon imam, Shin. Berbeda dengan anakku yang perempuan. Aku tidak akan mewajibkan dia belajar di pesantren. Biarlah ia di rumah saja. Biar aku sendiri yang mengajarkan ia belajar agama dan belajar memasak.” lanjutnya.

Aku terharu sekaligus bahagia mendengar nasihat Ibu Siti. Semoga ibu selalu dikuatkan dan dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anaknya, aku berdoa dalam hati.

“Setelah belajar di Pesantren, Si Sulung mengajarkan aku banyak hal, Shin. Aku pernah menawarkan baju baru untuk lebaran kepadanya. Kamu tahu jawaban apa yang ia berikan? Ia mengatakan, tak perlu. Baju yang ia miliki saat ini masih sangat layak untuk dipakai. Ia belum membutuhkan baju baru. Ia bilang, hidup sederhana itu menenangkan hatinya. Anak kelas satu SMP mengatakan hal seperti itu kepadaku, Shin. Bagaimana mungkin aku tidak malu sekaligus terharu?” Ibu Siti berbagi pengalaman kepadaku. Ada ketenangan terlihat dari sorot mata. Melihatnya, aku pun turut merasa tenang.

***

Ibu Siti memberikan nasihat yang begitu menenangkan. Ibu selalu mampu menyampaikan nasihat dengan cara menyenangkan. Ibu tidak pernah merasa paling tahu. Ibu juga tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang diyakini. Ibu Siti berbagi pengalaman dengan tulus. Ketulusannya mampu menyentuh hatiku. Jika hati sudah tersentuh, semua hal menjadi mudah dilakukan, kan? 🙂 Semoga aku bisa menjalankan peran dengan baik seperti ibu. Terima kasih sudah berbagi, Ibu Siti ♡

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Buah Nasihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s