Melunakkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu menurunkan intonasi suara. Bila kamu mampu, maka, kamu akan meraih hati si keras kepala.

Memenangkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu mendengarkan untuk empati. Bukan mendengarkan untuk bereaksi.

Aku, si keras kepala ini, sesungguhnya terganggu dengan ucapanmu tadi pagi.

***

Pagi tadi, hatiku berkata lirih, jika memang belum memahami, mengapa harus pernyataan itu yang kamu pilih?

Biar saja. Nanti ia akan mengerti dengan sendirinya.” begitu katamu. Mendengar kalimat itu, aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat itu, ketika kami sedang berusaha terus memperbaiki diri? Tahu kah kamu apa yang sedang kami perjuangkan? Kami sedang menekan semua ego agar mampu berperilaku yang pantas diteladani. Sebab, kami tahu. Dua manusia kecil itu selalu mengamati gerak-gerik kami. Dua manusia kecil itu selalu mencontoh perilaku kami.

“Bagaimana cara ia sadar dengan sendirinya, bila ia belum tahu cara seperti apa yang baik dan benar?” aku menanggapi.

“Kesadaran hanya datang bila ada input positif pada kehidupannya. Entah datangnya dari luar. Atau dari diri sendiri karena ia mencari. Dua manusia kecil belum bisa mencari sendiri.” aku menambahkan, dalam hati. Adalah kesia-sian berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar. Pagi tadi, aku enggan melanjutkan percakapan.

Melakukan perbuatan apapun sesuka hati memang paling dinanti. Melakukan perbuatan apapun sesuai keinginan memang paling diharapkan. Melakukan perbuatan apapun tanpa berpikir panjang memang jalan pintas paling cepat. Tapi, tahukah kamu, ternyata segala keputusan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain? Tahukah kamu, segala perbuatan kita akan berdampak pada kehidupan orang lain?

Aku pun memahami, menjadi teladan memang ujiannya besar sekali. Manusia tak akan luput dari kekhilafan. Tetapi, aku berharap, kita pun berusaha melakukan yang baik-baik minimal di depan kedua manusia kecil itu.

Jika melakukan banyak perbuatan baik cukup membebanimu, bagaimana kalau kita melakukan satu perbuatan saja secara konsisten? Aku mau, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Maukah kamu, melakukannya bersama kami?

***

Sampai tulisan di atas selesai, si keras kepala masih belum mendapatkan kesepakatan.

Aku menengadahkan kepala ke langit.

Hatiku pun berkata,“Jika segala upaya telah dilakukan namun tetap saja tak dihiraukan, kupikir tugasmu memang hanya sampai di sana saja. Kuasa penuh atas hati seseorang memang hanya pada Tuhan. Kini, kamu hanya bisa mendoakan. Biarlah Allah yang membuka hatinya.”

Masih menengadahkan kepala ke langit.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan membukanya kembali. Aku menarik napas panjang. Dan kemudian menghembuskan.

2 thoughts on “Tak Ada yang Bilang Menjadi Teladan Itu Mudah

    1. Betul banget, Mas Juman. Perjuangan itu memang melalui peluh keringat dan tetes darah penghabisan kan :””D

      Nggak bersambung, mas. Nanti kalau ada kesepakatan, mungkin bisa saya tulis dan share lagi ke teman-teman haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s