“Aku adalah orang yang setia. Aku pernah membersamai orang lain lima tahun lamanya. Kami cocok. Aku mengandalkannya. Dia pun mengandalkanku. Kami saling percaya. Di usia yang dulu masih belum matang, bahkan aku sudah yakin ingin menjalani hubungan serius. Aku yakin menikah dengannya. Namun, semua selesai. Dia melepaskan tanganku. Ia mengambil jalan lain. Ia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.” Ia bercerita dengan wajah datar.

“Aku butuh waktu lama untuk pulih. Setelah pulih, aku menjadi orang yang baru. Aku tidak lagi percaya kepada selain-Nya. Bagaimanapun orang meyakinkan, aku tak pernah percaya seutuhnya. Kita tidak boleh berharap banyak pada selain-Nya kan? Berharap pada manusia hanya memberi kecewa saja. Memberi cinta itu sekadarnya saja. Memberikan rasa sayang sekadarnya saja. Kamu harus seperti itu bila mau menjaga hati.” Ia berbicara lancar dengan penuh keyakinan.

“Begitu kah yang ada dalam pikiranmu tentang rasa cinta dan kepercayaan?” Aku hanya mendengarkan dan melontarkan satu pertanyaan saja. Tidak banyak menanggapi. Sebab, kondisi saat ini bukan lagi saat yang tepat untuk berdiskusi. Ia telah memilih jalannya. Bersama orang yang dicintainya. Dan aku pun tahu, ia meninggalkan ‘bagian dirinya di belakang’. Bagian untuk memberi rasa cinta dan kepercayaan pada orang lain. Ia berubah. Luka yang teramat membuat ia meninggalkan beberapa bagian dirinya di belakang. Ia tetap bahagia. Yang terlihat seperti itu. Tetapi, entah bagaimana kondisi hati yang sebenarnya. Semoga juga dalam keadaan bahagia.

***

Aku ingin menanggapi kondisi temanku itu. Tulisan di bawah akan berisikan pandanganku tentang luka dan cara menyembuhkannya.

Aku pernah terluka. Begitu dilukai, tentu rasanya sakit. Hatiku begitu sakit. Dilukai oleh perkataan seseorang yang tidak begitu kenal saja mampu melukai hati. Bagaimana rasanya bila seseorang yang melukai adalah dia yang kamu percaya? Dia yang begitu kamu sayangi dan kasihi? Tentu sakit sekali. Tentu butuh perjuangan keras untuk bangkit.

Kalau aku, biasanya, tiap kali terluka selalu membayangkan luka tersebut seperti luka cidera kecelakaan. Luka paska kecelakaan saja bisa sembuh. Luka dihati juga harus sembuh. Aku hanya perlu waktu saja. Waktu akan menyembuhkan.

Aku memilih untuk tidak seperti temanku. Aku tidak akan meninggalkan ‘beberapa bagian diriku’ di belakang karena luka. Aku akan berusaha menjadi orang yang sama. Aku akan tetap menjadi Shinta yang keluarga dan sahabatku kenal. Aku bisa memberikan rasa percaya bila orang lain berusaha dan memberikan bukti nyata.

Aku tetap percaya bahwa ketulusan itu tetap ada. Jika terus terlukai, itu hanya tentang waktu saja. Waktunya untuk merasakan luka. Mungkin, Allah ingin aku mengenal rasa sakit. Sehingga, jika nanti merasakan kebahagiaan, aku akan bersyukur.

Aku tetap percaya bahwa orang yang baik itu masih banyak. Jika terus bertemu orang yang tidak tepat, itu lagi-lagi hanya tentang waktu saja. Saat ini bukan waktu yang tepat bertemu dengan orang yang tepat. Mungkin, Allah ingin aku belajar tentang kesabaran. Sehingga, jika nanti bertemu dengan orang yang tepat, aku akan menjaga, memperlakukan, dan menghargainya dengan baik.

Lagipula, rasanya tidak adil bila aku berhenti percaya bahwa orang tulus itu ada. Rasanya juga tidak adil bila aku terlalu berhati-hati, hingga lupa menjadi diri sendiri. Setiap orang berhak diberikan kesempatan untuk membuktikan, kan? Dan sungguh sayang, bila identitas diri ini berubah hanya karena sebuah luka.

Bila aku mengatakan bekas luka itu tidak ada, tentu aku berbohong. Bekas luka tetaplah ada. Kenangan rasa sakit juga tetap ada. Bila mengingatnya kembali, tentu saja sakitnya tetap terasa. Tetapi, biarlah ia berada dalam ruang masa lalu di belakang sana. Biarlah ia berada di tempatnya. Fokusku, tetap berjalan ke depan. Berjalan ke masa depan.

Aku dan masa lalu adalah satu kesatuan. Tak akan pernah bisa dipisahkan. Masa lalu dan rasa sakit memberiku begitu banyak. Contohnya pemikiranku tentang tulisan ini. Berkatnya, aku mampu berpikiran luas dan terbuka terhadap hal yang tidak menyenangkan. Berkatnya, aku siap menyembuhkan luka yang kerap datang. Dan berkatnya, aku selalu berusaha membuka hati dan memberikan ruang kepada siapapun yang berbuat baik.

Berhati-hati boleh, namun, jika itu kebaikan, jangan mengingkari dan mengabaikannya. Terima kebaikan apapun, ucapkan terima kasih, dan syukuri. Berbaik sangka itu menyehatkan jiwa. Oh iya, menyehatkan tubuh juga ๐Ÿ˜‰

Advertisements

8 thoughts on “Pandanganku tentang Luka

    1. Betul mas, kalau lagi terluka, maunya dekat-dekat aja sama Allah gitu :’) semoga kalau lagi bahagia, nggak lupa sama Allah ya mas. Nggak lupa bersyukur ๐Ÿ™‚

      *langsung cari diyoutube lagu Pink – Try wkwk

      Like

Leave a Reply to layangseta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s