Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Advertisements

10 thoughts on “Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

    1. Lin, makasih ya 🙂 Aamiin, semoga kita selalu bisa memaknai banyak hal dengan positif dan mensyukurinya. Semangat ya Lin! ♥

      Oiya, aku lupa. Lin kelas berapa SMA?

      Like

Leave a Reply to SAK Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s