Masih tentang ST.

Hampir dua pekan sesi latihan bersama ST tidak lagi dilakukan. Aku menjadwalkan latihan bersamanya tiga kali selama satu pekan yaitu, Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap hari itu, kegiatan pagi yang rutin aku lakukan adalah mengirimkan pesan singkat via aplikasi whatsapp kepada mamanya ST. Pesan singkat berisikan pertanyaan singkat apakah hari tersebut ST mau melakukan latihan.

Satu pekan awal latihan berjalan lancar. Dalam pesan singkat, mama selalu menjawab,“Wa’alaikumsalam, Kak Shinta. ST latihan ya hari ini.” Dalam pertemuan langsung bersama ST tak kalah lancar. ST berhasil mengalahkan rasa takutnya. ST berhasil mengalahkan rasa cemasnya. Yang paling penting, ST mau mencoba dan berusaha.

Sebagai fisioterapis, target keberhasilan melatih ST adalah ketika ia tidak mengeluhkan rasa sakit pada tubuhnya, ia bisa melakukan kegiatan secara mandiri, dan ia mampu berpartisipasi kegiatan bersama dengan orang lain. Namun, dalam kasus ST ini berbeda. Targetku hanya dua yaitu, ST mau mencoba dan berusaha. Aku tahu betul permasalahan pada anak ini bukan pada kemampuan fisiknya. Melainkan, ada pada dirinya sendiri. Ia belum mampu mengendalikan diri sendiri. Dan mungkin, seperti kata psikolog dalam kajian kemuslimahan pekan lalu, pengetahuan ST tentang dunia luar masih sangat sedikit. Sehingga, hal-hal negatif mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki potensi. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki masalah sesuai dengan kapasitasnya. Bukan hanya dirinya yang merasa kesulitan. Orang lain di luar sana juga merasakan kesulitan. Ia belum tahu bahwa tanpa kesulitan kita tak akan pernah belajar. Tanpa kesulitan, kita tak akan pernah mendapat hikmah.

***

Semua hanya tentang mau atau tidak. Niat memang menjadi awal sebuah perubahan. Begitu pula dengan keadaan ST. Permasalahan mental benar-benar mampu mengendalikan penuh kehidupan seseorang. Pesan singkat mama dalam aplikasi itu memberikan kabar tidak menyenangkan.

“Maaf kak, ST tidak latihan hari ini ya. Kaki bekas latihan kemarin masih sakit katanya kak.”

“Kak, ST nggak mau latihan hari ini. Karena tiap kali telapak kaki menyentuh lantai, ia kesakitan. ST nggak mau berjalan lagi kak.”

“Maaf kak, hari ini nggak latihan. ST bilang, percuma bisa berjalan kalo mukanya jelek.”

“Kak, hari ini ia menstruasi. Perutnya sakit. Jadi, kemungkinan empat hari ke depan ST nggak latihan dulu.”

Seperti yang aku bilang sejak awal, niat adalah awal sebuah perubahan. Aku tahu, belum ada niat yang kuat dalam diri ST. Belum ada motivasi kuat dalam dirinya. Oleh karena itu, ST pasti mudah sekali mencari alasan-alasan seperti di atas untuk menolak latihan.

Dalam pesan singkat, mama terlihat bingung dan kehilangan ide menghadapi ST. Begitu juga dengan aku. Aku belum memiliki ilmu tentang memotivasi seseorang yang mengalami gangguan mental. Apalagi gangguan ini telah berlangsung bertahun-tahun. Akhirnya, aku memberikan saran kepada mama agar mengundang psikolog ke rumah. Mungkin, keadaan ST akan menjadi lebih baik setelah ngobrol dengan psikolog.

Rabu pekan lalu, psikolog Ibu Dini Rahma Bintari menjadi pembicara dalam kajian kemuslimahan rutin Masjid UI. Materinya adalah tentang manajemen stres. Dalam sesi tanya jawab, aku tanyakan kasus ST ini. Pertanyaanku, pendekatan apa yang bisa digunakan keluarga dan khususnya aku sebagai pelatihnya dalam menghadapi ST. Dengan kondisi ST sedang jauh dari Tuhannya dan dalam fase tidak merasakan hal-hal positif dalam hidup.

Tanggapan dan saran yang diberikan adalah Ibu Dini menduga bahwa penanganan keluarga terhadap masalah ST terlalu lama. Karena gangguan ini telah berlangsung lama. Saran utama yang dilakukan untuk keluarga adalah mengundang psikolog ke rumah. Lalu, memberikan buku dan film yang menceritakan tentang semangat hidup. Banyak tokoh berhasil menghadapi keterbatasan dirinya dan menjadi orang sukses. Berikan ST pengetahuan itu. Tidak hanya dirinya yang kesulitan. Semua orang di dunia juga merasakan kesulitan. Semua orang sama-sama berjuang menghadapi kesulitan itu. Kesulitan pasti berlalu. Kemudahan pasti datang kepada orang-orang yang berusaha.

Saran untuk aku sebagai fisioterapis, dalam sesi latihan, selalu berikan apresiasi untuk usaha yang ST lakukan. Ungkapkan potensi-potensi yang ia miliki. Berikan cerita tentang perjuanganku menghadapi masa sulit. Aku hanya perlu mengingatkan bahwa ST mampu. Tunjukkan bukti-bukti seperti, ia masih bisa menggerakkan seluruh tubuh, ia masih bisa berdiri, dan ia masih bisa berjalan.

Terima kasih panitia kajian kemuslimahan Masjid UI telah mengundang Ibu Dini. Waktunya sungguh tepat sekali. Materi yang disampaikan sangat berguna (nanti kalau ada kesempatan, akan aku tuliskan materi lengkapnya) dan saran yang diberikan sangat mencerahkan. Masalah ST ini cukup mengambil penuh pikiranku selama dua pekan kemarin. Semoga saja ada kesempatan bertemu ST lagi.

***

Melihat kondisi ST secara langsung membuat aku tahu bahwa rasa cemas yang berlebihan dan tidak segera ditangani akan menjadi masalah serius. Karena sejatinya, setiap orang seharusnya bisa mengendalikan rasa cemas. Rasa cemas yang ada secara terus menerus tanpa pondasi yang kuat akan meluluh lantakkan kehidupan seseorang. Dari cerita yang keluarga ungkapkan, ST kehilangan jati diri. ST kehilangan pondasi hidup. ST selalu mencemaskan hal-hal yang ada di dunia. Dan terlupa tentang akhirat.

Mendengarkan materi yang Ibu Dini sampaikan, seperti mendapatkan jawaban-jawaban atas masalah ST. Banyak tips agar hidup bahagia dan bermakna versi Ibu Dini tidak dimiliki ST.

Bagi muslim, hal fundamental yang harus dimiliki supaya hidup bermakna adalah dekat-dekat dengan Allah. Ibu Dini mengatakan, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan baik bila hidupnya bermakna. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita sadar siapa diri ini dan untuk apa kita dicipta. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita menjadi lebih bermakna. Sebab semua yang dilakukan kita adalah kebaikan. Bukankah bila datang kemudahan kita bersyukur? Bukankah bila datang kesulitan kita bersabar? Adakah yang lebih baik dibandingkan syukur dan sabar?

ST melewatkan hal tersebut. ST teralihkan dengan ketakutan-ketakutan. Sehingga ketakutan itu menghambat ia maju. ST lupa untuk bersyukur dan bersabar. Padahal, yang membuat manusia tetap kuat adalah dengan syukur dan sabar. Dan yang paling utama ST menjauh dari Allah. Padahal, jika saja ST mengingat, ia tak akan takut lagi. Jika saja ST mengingat, ia tak akan cemas lagi. Jika saja ST mengingat, ia akan mendapatkan ketenangan. Dan jika saja ST mengingat, ia akan menghargai hidupnya.

Mungkinkah ST bisa memikirkan hal di atas dalam kondisinya saat ini?

Sangat mungkin. ST memang tidak bisa melakukannya sendiri. Ia butuh keluarga disisi. Ia butuh aku untuk melatih. Ia butuh teman-teman pembaca tulisan ini untuk mendoakan. Doakan, semoga keluarga ST segera menemukan psikolog yang mau datang ke rumah dalam waktu dekat. Doakan, semoga ST mau latihan berdiri dan berjalan lagi. Aamiin.

4 thoughts on “Cerita: Niat adalah Awal Perubahan

    1. Ceritainnya jangan sulitnya aja mungkin mas. Ceritain juga gimana cara aku selesaiin masalahnya 😅

      Hmm dia memang sering nanya begitu. Tapi masalahnya sebenarnya bukan karena nggak bisa jalan mas, dia bisa jalan. Tapi, tiap kali jalan dia selalu merasa sesak tiap kali jalan. Kalau dia lagi sesak sih biasanya aku bantu rileksasi dan nggak paksa dia untuk tetap latihan. Intinya, bikin dia nyaman
      😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s