Aku berusaha mencari tahu. Sebab aku menyadari, ‘dalam hal ini’ aku benar-benar tidak mengerti.

Aku seperti kehilangan empat tahun masa mudaku. Ah, seperti drama korea 30 but 17 saja. Singkat cerita, drama tersebut menceritakan tentang seseorang yang bangun dari koma. Ia mengalami kecelakaan pada usia remaja. Dan koma selama belasan tahun. Hingga akhirnya, ia terbangun pada usia 30 tahun. Bisa membayangkan tidak bagaimana kondisinya? Saat bangun pasti ia bingung sekali. Wajahnya berubah menjadi dewasa. Tanggung jawab pun sudah menunggu di depan sana. Padahal ia merasa, baru saja memejamkan mata. Ia merasa baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia pun tak tahu apa-apa. Ia bingung dan tak tahu harus memulai dari mana.

Aku tidak mengalami koma seperti drama korea itu. Tapi aku seperti melewatkan kesempatan melakukan kekeliruan. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk memikirkan diriku sendiri. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri. Bersikap terlalu berhati-hati ternyata tak baik. Bersikap terlalu takut membuat kekeliruan ternyata tak baik. Yang berlebihan dan terlalu memang tak baik.

Aku berada pada lingkungan yang begitu baik saat itu. Tidak ada egoisme. Hanya ada toleransi dan kebijaksanaan. Semua orang berusaha memudahkan urusan orang lain. Semua orang berusaha mendahulukan kepentingan orang lain. Semua tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku bersyukur sekali diberikan kesempatan itu.

Aku melihat banyak teladan baik di sana. Bagaimana mungkin aku tidak belajar lebih cepat? Bagaimana mungkin aku tidak mendewasa lebih cepat? Aku belajar banyak hal disana. Namun ternyata, ada beberapa hal tentang ‘kebutuhan diriku sendiri’ yang terlewatkan.

Aku akan menyebutnya ‘dalam hal ini’ saja. Tak apa ya, aku tidak menjelaskan dengan rinci apa yang dimaksud dengan ‘dalam hal ini’. Tulisan ini tidak akan menceritakan tentang itu.

‘Dalam hal ini’, aku benar-benar tidak tahu. Entah karena lupa atau memang aku tak memiliki pengalaman itu. Rasanya seperti, aku baru belajar jalan dan tak tahu tahapan jalan seperti apa yang seharusnya kulakukan. Aku baru belajar bicara dan tak tahu kosa kata apa yang seharusnya kukatakan. Aku baru belajar merasakan dan tak tahu sesungguhnya rasa apa yang sedang kurasakan ini. Otakku seperti lupa bagaimana cara mengingat memori cara berjalan, cara berbicara, dan cara merasa. Benar-benar sesulit itu.

Ini tak mudah. Maka, aku bertanya pada mereka yang kuanggap lebih tahu. Aku mempercayai mereka. Aku berterima kasih. Meskipun merasa aneh dengan cara otakku bekerja ‘dalam hal ini’, mereka tetap mengajariku perlahan-lahan. Dan aku terperangah dibuatnya. Hanya kalimat, “oh begitu”, “ternyata begitu”, “haruskah seperti itu?”, hingga akhirnya aku pun mengatakan “baiklah, aku akan mempertimbangkannya”, pada mereka. Aku akan mempertimbangkan dan memikirkannya, sungguh.

Namun, pada akhirnya, sebanyak apapun aku mencari tahu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, aku pun menyadari, ketidaktenangan tak akan pernah hilang. Hingga Allah memberikan keyakinan pada hati. Maka, ketika pikiran dan hati tidak terhubung dengan baik dan ketika suatu perkara begitu membingungkan, berdoa saja. Berdoa yang banyak. Berdoa lagi. Berdoa terus. Pada-Nya.

Advertisements

2 thoughts on “Berdoa Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s