Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya πŸ˜‰

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! πŸ™‚ meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s