Katanya, alasan untuk tidak mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya adalah karena takut orang lain akan meninggalkan. Oleh karena itu, baginya sungguh tak apa bila ia tak baik-baik saja. Asalkan orang tetap berada disisinya, ia yakin akan baik-baik saja. Ia akan berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Bila bersedih, ia akan tetap tersenyum. Bila marah, ia akan tetap tertawa. Bila tersakiti, ia akan berusaha memendamnya sendiri. Namun, dalam hati ia pun bertanya-tanya, “Mengapa orang lain tak menghargai dirinya?”,”Mengapa orang lain bertindak sesuka hati?”

Ia menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa orang lain berlaku tak baik padanya. Ia juga menanyakan hal yang sama kepadaku. Kemudian aku memikirkannya. Berusaha mengingat kembali bagaimana ia bersikap. Saat itu, kutahu bahwa ada sesuatu yang tak benar pada dirinya. Saat itu juga kutahu, apa yang terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataannya. Apa yang terlihat tak selalu menunjukkan yang sebenarnya. 

Kamu mengatakan ketidaksukaanmu padaku. Apakah kamu mengatakannya juga pada teman-temanmu itu?” aku bertanya penasaran.

“Hmm, aku selalu tersenyum dan tertawa bagaimanapun teman-teman memperlakukanku. Bahkan untuk hal-hal yang tidak kusukai dan mengangguku. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.” ia menjawab cukup lama dan mengatakan dengan ragu-ragu.

“Apa yang membuatmu takut?” kepadanya, aku tak pernah berkata bertele-tele. Aku selalu mengatakan inti pertanyaan, yang menurutnya seringkali pertanyaanku terkesan menyudutkannya. Padahal, sungguh, tujuanku tak pernah seperti itu.

“Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku terlalu khawatir atas dampak kejujuranku. Aku terlalu tak berani menghadapi kenyataan bila nanti mereka menjauhiku.” dan perlahan, ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

“Mengapa kamu berpikir mereka akan menjauhimu?” aku mengajukan pertanyaan lagi. Aku masih tak mengerti apa yang sedang ia katakan.

“Aku tahu setiap orang selalu ingin keinginannya terwujud. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila pandangannya ditolak. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila dirinya tak didukung. Aku tahu setiap orang selalu senang bila tujuannya tercapai. Dan aku tahu, bila aku mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak sesuai keinginan mereka, aku pasti dibuang. Aku pasti dijauhi. Aku pasti ditolak. Dan aku pasti tidak disenangi. Aku tak ingin diperlakukan seperti itu.” ia menjelaskan panjang lebar pandangannya yang membuat aku semakin tak mengerti. Dari mana asal pandangan-pandangannya itu? Mengapa ia berprasangka?

“Terima kasih telah mengungkapkan perasaanmu padaku. Terima kasih telah jujur padaku. Tapi, sadarkah sedari tadi kamu hanya memikirkan tentang orang lain? Bagaimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja?” kupikir, pertanyaan ini penting  diajukan. Kamu harus mencoba jujur terhadap dirimu sendiri.

Ia kembali diam. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Cukup lama ia berdiam diri. Kemudian ia terisak.

“Aku tak baik-baik saja. Hatiku sakit tiap kali mereka berbicara. Mulutku kelu tiap kali mereka mengejekku. Mataku perih menahan tangis tiap kali aku ingin menangis. Aku selalu ingin berteriak tiap kali menahan semua dengan sekuat tenaga. Aku sungguh tak baik-baik saja.” ia mengatakan dengan kalimat terbata-bata. Ia menangis tersedu-sedu. Ia tak baik-baik saja. Dan ia mulai jujur dengan perasaannya. Aku tahu. Aku merasakannya.

“Kamu berhak atas ketenangan hati. Kamu berhak mengungkapkan pikiran. Kamu berhak jujur atas perasaanmu sendiri. Bila kecewa, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu kecewa. Bila menganggu, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu terganggu. Bila tak suka, tak apa kamu mengatakan bahwa tak menyukainya. Bila bersedih, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu sedang bersedih. Bila terlalu sakit, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu tersakiti. Bila kamu dalam keadaan tak baik, tak apa kamu mengatakan bahwa tak baik-baik saja. Kamu berhak mengungkapkan segalanya. Memikirkan perasaan orang lain itu baik. Takut ditinggal dan tak disukai juga merupakan hal normal. Namun, bukankah selalu ada cara yang lebih baik daripada mengorbankan dirimu sendiri? Ketenangan dan kebahagiaan  dirimu adalah utama.” aku tak tahu adakah ‘pikiran tak benar’ lain yang mengendap dalam pikirannya. Mohon izinkanlah kali ini aku mengatakan kalimat panjang tersebut padamu. Semoga kalimat ini juga mengendap dalam hati dan pikiranmu.

Ia mendengarkan dengan baik dan kemudian menunduk. Ia merenungkannya.

Aku bersyukur karena kamu memilihku untuk mendengarkanmu. Aku juga bersyukur kita telah melakukan percakapan itu. Aku tahu kamu adalah pembelajar yang baik. Kamu selalu membuka lebar pendengaranmu untuk menerima hal baru. Kamu selalu membuka hati dan  pikiran seluas-luasnya untuk menyimpannya. Kamu selalu berusaha untuk berubah. Dan kamu tetap berusaha meskipun kutahu semua itu sulit untuk dilakukan. Terima kasih karena selalu mencoba memperbaiki dan berubah menjadi baik setiap waktu.

**

Jika masih saja ada kekhawatiran perlakuan buruk orang lain atas kejujuranmu, maka aku sarankan lupakan hal itu saat ini juga. Kehidupan memang seperti ini. Suka atau tidak, waktu akan tetap berjalan. Senang atau tidak, kejadian akan tetap datang.

Meskipun begitu, setiap orang berhak untuk jujur atas apa-apa yang dipikirkan. Setiap orang berhak untuk jujur atas perasaannya. Manusia manapun tak akan tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan bila kita tidak mengungkapkannya. Oleh karena itu, jangan mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin? Sungguh tak mungkin orang lain akan tahu segalanya, bila kita enggan mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Sungguh tak mungkin orang lain menghargai bila kita tak pernah jujur atas keinginan sendiri. Atas dasar apa orang lain menghargai bila kita tak memberi tahu apa-apa?

Jika memutuskan untuk jujur atas perasaan dan pikiran, maka kita harus siap menghadapi sikap orang lain yang akan terjadi. Kita harus realistis dengan kehidupan ini, bukan? Dengan banyaknya manusia di dunia ini dan segala perbedaannya, adalah hal wajar bila ada dua golongan di sekitar kita. Dua golongan yang akan merespon kejujuran perasaan dan pikiran kita. Golongan itu adalah golongan yang mendukung segala pikiran dan golongan yang tak mendukung segala pandanganmu. Jadi, jalani saja realita yang ada. Karena kita tak akan bisa merubah orang lain. Yang kita bisa lakukan adalah mengatur diri kita sendiri. Diri ini harus pandai menyikapi keadaan.

Bagaimana cara menyikapi dua golongan tadi? Jadikan golongan yang mendukung sebagai motivasi untuk kita melakukan kejujuran yang lebih banyak lagi. Lalu, jadikan golongan yang tak mendukung sebagai pelajaran untuk kita introspeksi lebih sering lagi. Mungkin, ada tindakan yang keliru saat kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Mungkin, ada lisan yang tak sengaja terucap melukai hati orang lain. Hati-hati dengan perasaan, terkadang kita bisa menjadi orang yang paling peka sedunia. Namun, terkadang juga kita bisa menjadi orang yang paling tak terkendali.

Semoga kita tak ragu lagi. Kamu, aku, kita berhak memiliki hati dan pikiran yang damai. Yuk, jujur dengan hati dan pikiran ini 🙂

2 thoughts on “Sudahkah Kita Jujur pada Diri Sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s