Saat itu peran saya hanya sebagai pendengar saja. Sebab, lawan bicara suka sekali berbicara. Saya tidak tahu alasan tepatnya. Mungkin, ia kesepian dan butuh teman bicara. Mungkin, ia merasa perlu menyampaikan ‘informasi yang ia anggap penting’ itu. Mungkin, ia senang bercerita. Mungkin, ia senang menjelaskan sesuatu. Mungkin, ia belum tertarik mendengarkan orang lain.

Saya pribadi, jika bertemu dengan seseorang yang lebih senang berbicara dibandingkan mendengarkan, saya cenderung diam. Saya lebih memilih mendengarkan saja dan memberi respon non verbal sebagai tanda saya masih mendengarkannya. Saya merasa cukup sulit melakukan komunikasi dua arah jika saya tidak diberi kesempatan sama sekali untuk berbicara.

Saya mengamatinya. Banyak sekali hal yang ia sampaikan. Tentang perasaannya, tentang pengalaman hidupnya, tentang kegiatannya, dan masih banyak hal lainnya.

Dari tindakan yang ia lakukan, saya menebak-nebak apa yang sebenarnya orang ini pikirkan. Apa yang sebenarnya orang ini rasakan. Dan bagaimana arti kehadiran orang lain baginya. Terlihat sekali ia tidak ingin tahu informasi apa-apa dari lawan bicaranya. Tak ada pertanyaan yang ia ajukan. Padahal, saya menanti ia bertanya. Namun, rupanya ia tak menyadari kehadiran saya disini selain sebagai “orang yang harus mendengarkannya”.

5ef0001dacc2a134cc84fd28004de826

Dulu, saya pernah membaca sebuah artikel, disana dituliskan bahwa jika ingin menambah ilmu, banyak-banyaklah mendengarkan. Sebab, jika kita terlalu banyak bicara, ilmu yang kita dapat tak akan berkembang. Ilmu yang kita tahu hanya dari diri sendiri saja. Hal tersebut terjadi karena, kita terus-menerus memberikan informasi tanpa pernah mendapat koreksi dan ilmu tambahan dari orang lain. Ternyata apa yang disampaikan artikel itu benar adanya. Kemarin, tak ada kesempatan untuk saya berbicara. Ia terus menerus memberi informasi kepada saya. Tak ada kesempatan saya untuk memberikan informasi kepadanya. Kalau begitu terus, bisa jadi saya yang pintar karena mendapat informasi terus-menerus, ya hehehe

Percakapan kemarin, ia menjelaskan suatu topik yang sebetulnya saya sudah tahu. Saya cukup memahami topik itu dengan jelas. Saya juga sempat mengatakan kepadanya bahwa saya pernah memiliki pengalaman dan pernah mempelajari keilmuan itu. Namun, ia tampak tidak tertarik dengan apa yang saya sampaikan. Ia mengabaikannya. Ia segera memotong pembicaraan dan melanjutkan kembali apa yang ingin dibicarakan. Akhirnya, saya tak lagi melanjutkan pembicaraan dan kembali diam untuk mendengarkan. Ada kalanya kita tak perlu menjelaskan bila lawan bicara tak butuh penjelasan. Jangan membuang tenaga sia-sia. 

Pengalaman saya dengan orang itu membuat saya menyadari bahwa menjelaskan dan mendengarkan adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dan harus dijaga keseimbangannya. Bila tidak, maka akan ada banyak kerugian yang didapat. Salah satu akibatnya adalah terjadi ketidaknyamanan dan miskomunikasi.

Menjelaskan tidak hanya tentang apa-apa yang ‘ingin’ kita jelaskan. Tidak semua hal juga harus diceritakan. Menjelaskan tidak hanya tentang kamu saja. Tetapi, ada dia si pendengar. Pikirkan tentang si pendengar. Mungkin kamu butuh menjelaskan, namun, apakah si pendengar membutuhkan penjelasanmu? Mungkin bagimu, penjelasan ini bermanfaat untuk orang lain, namun, apakah si pendengar merasakan kebermanfaatannya?

Mendengarkan tidak hanya tentang hal-hal yang ingin kita dengarkan saja. Mendengarkan memiliki arti lebih luas dari itu. Bahkan, ketika ada hal-hal yang tidak baik untuk didengarkan, selalu ada cara yang sopan untuk menolak secara halus. Namun, sebelum menolak, supaya mengerti topik yang dibicarakan, kita tentu harus mendengarkannya dulu, kan? Mendengarkan itu penting. Kita mendengarkan karena menghormatinya. Kita mendengarkan karena ingin mengetahui tentangnya. Kita mendengarkan karena ingin menambah ilmu pengetahuan. Percayalah, selalu ada hal baru dan manfaat dari mendengarkan.

Berbicaralah seperlunya dan sesuai kebutuhan. Jangan terlalu banyak berbicara. Apalagi yang tidak bermanfaat. Ada hal-hal yang perlu disimpan sendiri dan ada hal-hal yang boleh dibagi dengan orang lain. Pintar-pintarlah memilah. Bijaksanalah dalam bertindak. Dan hati-hatilah dalam menjaga lisan. Jika berhubungan dengan kebermanfaatan bersama, maka tak perlu ragu. Bicara dan jelaskanlah.

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Menjelaskan dan Mendengarkan: Harus Seimbang

  1. mendengarkan curhatan orang lain itu tidak mudaah, somehow saya membutuhkan drama sedikit ketika mulai bosan dan tidak tahu harus memberikan respons yang tepat. Entah itu manggut, senyum, atau satu patah kata “iya, aku paham”, apalagi kalau curhatan yang berulang dan sudah tahu endingnya.

    Liked by 1 person

    1. Iya betul bangettttt, tidak mudah. Saya terkadang kesulitan gmn mengakhirinya 😂 kalau pengalaman Mas Seta gmn cara mengakhirinya?

      Terima kasih sharing dan tipsnya, Mas 😊🙏

      Liked by 1 person

      1. beda beda sih caranya, tergantung orangnya, paling umum hanya minta izin mengerjakan sesuatu karena sudah deadline. Atau saya whatsapp temen, saya minta tolong mereka untuk menelepon, maka situasi tidak mengenakkan itu berakhir, he he..jahat ya?

        Kalau teman akrab kadang saya hanya mengatakan ” eh itu udah elo ceritain ” padahal belum, he he.

        Liked by 1 person

      2. Sepertinya Mas Seta sudah sering menemui tipe orang seperti itu ya 😂 nggak jahat mas, kita memang harus mengambil sikap yang tepat untuk setiap kondisi. Pilihan yang Mas Seta ambil pasti udah disesuaiin kondisi yg tidak mengenakkan itu 😁

        Jadi, kita itu berhak ya mas untuk mengambil sikap dan memilah suatu percakapan. Percakapan itu mengandung banyak kebaikan atau malah membuang waktu sia-sia.

        Terima kasih, Mas sudah berbagi hehe 😊

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s