“Mengapa kita berjalan pada arah yang tidak benar dahulu sebelum akhirnya berada pada jalan-Nya?” begitu katamu dengan wajah menunduk. Siapa pun akan tahu bahwa kamu sedang bersedih.

“Mengapa lingkungan kita berbeda dengan mereka? rasanya tidak adil. Mereka berada di lingkungan yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Sedangkan kita? kita tidak memiliki lingkungan seperti itu sejak dahulu. Bahkan saat ini.” kamu mengatakan dengan suara bergetar dan lirih.

“Ada banyak lisan dan laku keliru yang telah aku lakukan. Ada banyak kisah lalu yang sungguh tak ingin aku torehkan. Jika bisa, aku ingin terlahir kembali menjadi sosok yang baru.” kali ini, ia memandangku dengan tatapan tajam dan penuh harap.

“Mengapa kita harus mendewasa dahulu, hingga akhirnya baru kini mendapatkan kesadaran seperti ini? bagaimana masa-masa dahulu yang sudah dilewati? akankah termaafkan?”  dengan wajah masih dirundung duka ia memberikan pertanyaan lagi bertubi-tubi.

Dan aku menanggapi, 

“Kurasa, kita memiliki jalan hidup yang sama. Kita memang harus menemukan kekeliruan terlebih dahulu, hingga pada akhirnya mendapatkan kebenaran. Kita memang harus menemukan jalan yang tidak tepat dahulu, hingga pada akhirnya menemukan jalan yang tepat. Sungguh tak apa. Mungkin, segala kekeliruan dan ketidaktepatan itulah yang membawa hidayah datang kepada kita.  Daripada menyesali dan menolak masa lalu, bukankah seharusnya kita mensyukuri hidayah itu?” aku berusaha meyakinkannya bahwa tak masalah bila kita berbuat salah lalu memperbaikinya. Sebab, selalu ada kesempatan untuk orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik.

“Kurasa, tidak adil bila kita membandingkan lingkungan orang lain dengan lingkungan kita ini. Dimana pun lingkungan kita berada, bukankah ini adalah sesuai ketentuan-Nya? Bukankah ketentuan-Nya pasti yang terbaik untuk kita? Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Kisah lalu dan saat ini, keduanya adalah milik kita. Peluk erat kisah lalu dan ambil pelajarannya. Peluk erat saat ini dengan berusaha yang terbaik dijalan-Nya. Bisa jadi, perubahan diri menjadi lebih baik, berguna sebagai penerang untuk lingkungan kita saat ini, kan? Yuk, kita berbaik sangka saja.” begitu kataku. Kuharap ia dapat memeluk semua kisah lalu dengan keikhlasan.

“Selalu ada alasan mengapa suatu peristiwa terjadi. Kisah-kisah lalu merupakan anak-anak tangga yang terus meninggi dan menuju sebuah tujuan. Insya Allah, tujuan kita ridho Allah, kan? Tiap anak tangganya memberikan ujian dan pelajaran. Jadi, keadaan kita saat ini yang jauh lebih baik, lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih-lebih lainnya tidak lepas dari kontribusi kisah-kisah lalu itu. Tanpanya, kurasa kita tidak akan menjadi wanita setangguh ini.” aku menyemangatinya. Semoga ia memaafkan dirinya sendiri dan bersegera berlari lagi.

Entahlah. Namun, satu yang pasti, manusia memiliki jalan masing-masing. Kita tidak tahu betul kehidupan orang lain. Kita hanya tahu jelas kehidupan diri sendiri. Kamu harus tahu, yang mungkin saja terlihat berada di lingkungan dekat dengan-Nya, bisa jadi kurang menghayati dan mensyukuri karunia tersebut. Bisa jadi, ia menganggap karunia itu biasa saja. Mungkin baginya, kegiatan-kegiatan Islami merupakan rutinitas biasa yang dengan mudah didapatkan tanpa perjuangan. Jadi, ya jalani saja tanpa ada rasa syukur yang sangat. Sedangkan kita, Alhamdulillah Allah menggerakkan hati untuk menjemput lingkungan seperti itu. Langkah kita juga diringankan Allah untuk mendekati apa-apa yang disukai-Nya. Hal tersebut patut untuk disyukuri.”

“Semoga, segala usaha ini menjadi nilai tambah dan memberatkan timbangan amal kebaikan kita. Jadi, nikmati saja yuk jalan kehidupan ini? Setiap orang memiliki jalan dan ujian yang berbeda. Tak perlu risau. Allah Maha Pengampun. Kita juga harus memaafkan diri sendiri. Dan tak lupa untuk berbaik sangka dan beramal saleh. Semangat, ya?!” jawaban terakhir atas pertanyaannya aku akhiri dengan memberikan motivasi. Semoga ia bersemangat lagi. Semoga ia dapat berdamai dengan dirinya sendiri.

***

Skenario Allah memang penuh misteri. Namun, jangan sampai kita menyesali apa-apa yang terjadi. Merenungi dan introspeksi diri bagus sekali. Tetapi, jangan sampai menghambat semangat ini untuk terus memperbaiki diri.

Berbuat salah sungguh tak apa. Keliru pun wajar terjadi. Masa lalu dan masa kini adalah milik dirimu sendiri. Jangan sampai pilih kasih. Sebab, dirimu yang hebat saat ini adalah hasil dari masa lalu yang telah dipelajari dan diperbaiki. Semangat 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s