Ternyata, menjadi teman curhat itu ada aturannya. Namun, setelah mendengarkan materi yang disampaikan oleh Mbak Wulan Rigastutu S.Psi saat seminar Teman Bicara Sebaya, tanpa sadar kita telah melakukan standar menjadi teman curhat lho. Kunci utamanya adalah menjadi pendengar yang baik.

Standar Menjadi Teman Cuhat

Standar menjadi teman curhat adalah hal-hal yang perlu kita lakukan agar menjadi teman curhat yang baik. Beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu, harus ada kesediaan dan persetujuan dari teman yang ingin curhat, menjaga rahasia, tahu batasan, tidak membebani diri di luar kemampuan (kita tidak harus memaksakan diri memberikan solusi, karena keputusan ada ditangannya), memiliki tujuan yang konkret dan realistis (ketika teman membutuhkan bantuan untuk berubah menjadi lebih baik, bantu ia dengan mencapai target yang mudah dahulu), membantu teman menjadi mandiri dan mengambil keputusan sendiri, dan menghargai keputusan yang teman pilih.

Saya pribadi, tidak kesulitan melakukan hal-hal di atas. Karena, secara alami kita akan melakukan hal seperti itu. Bila kita memiliki orang yang disayang dan dipercaya, kita akan dengan senang hati memperlakukan ia dengan sangat baik, bukan?

Kalau pengalaman saya sendiri, karena terlalu sayang, terkadang lupa, batasan teman curhat itu sejauh apa. Secara tidak langsung, saya lupa memberikan kepercayaan padanya. Kepercayaan bahwa teman tahu yang terbaik bagi hidupnya. Kepercayaan bahwa ia akan mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya. Yang terbaik bagi setiap orang tidak melulu sama kan? Masing-masing orang memiliki ukuran kebahagiaan tersendiri. Saya seringkali lupa dan akhirnya berusaha meyakinkan teman tentang pilihan seperti apa yang seharusnya dipilih. Serta keputusan seperti apa yang sebaiknya dibuat. Seolah-olah saya yang paling tahu duduk perkaranya karena posisi saya adalah sebagai orang ketiga serba tahu. Orang ketiga yang dapat melihat duduk perkara dengan jelas hanya karena saya tak terlibat dalam permasalahan. Sesungguhnya, pemikiran tersebut sama sekali tak benar. Perbuatan itu egois dan tidak memandirikan teman. Oleh karena itu, saat Mbak Wulan menjelaskan topik tersebut saya merasa amat tertohok. Karena saya sering seperti itu.

Selanjutnya, saya akan berbagi cara menjadi pendengar yang baik.

Menjadi Pendengar yang Baik

Ada beberapa cara menjadi pendengar yang baik, yaitu:

1. Kehadiran diri, pikiran, dan perasaan

Ketika memutuskan mendengarkan orang lain bercerita, artinya kita sudah siap mengerahkan diri ini, pikiran, dan perasaan sepenuhnya padanya. Letakkan semua benda yang mengganggu konsentrasi seperti, buku, pensil, atau handphone. Pilihlah lokasi berbincang yang sesuai, sehingga meminimalisir segala hal yang mengganggu. Menciptakan fokus memang perlu diupayakan. Oleh karena itu, benda dan lingkungan yang sekiranya mengganggu perlu disingkirkan sementara. Supaya terjalin komunikasi yang nyaman, efektif, dan efisien.

2. Posisi Tubuh

Posisi tubuh yang paling baik adalah duduk menghadap kepada lawan bicara. Lalu, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Posisi ini menunjukkan bahwa kita siap mendengarkan. Coba saja kamu bayangkan bila suatu ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, lalu ia tidak duduk menghadap kita. Ia memposisikan badan dan kepala miring ke samping seolah-olah tidak fokus memperhatikan dan tidak betah duduk di tempat itu. Kira-kira nyamankah kita berbagi cerita padanya?

3. Ekspresi Wajah

Jangan sungkan untuk memberikan ekspresi sesuai keadaan. Jangan pernah memberikan ekspresi datar. Wah, saya rasa lawan bicara akan merasa tak nyaman dan tak mau berbincang lama-lama bila kita seperti itu. Jangan malu untuk menunjukkan ekspresi senang bila teman sedang bercerita tentang hal yang membahagiakan. Atau jangan malu menunjukkan ekspresi sedih bila teman sedang berduka. Lho, kenapa sih harus seperti itu? Seperti sedang akting sinetron saja. Iya, harus dan penting sekali. Dengan memberikan ekspresi sesuai dengan keadaan, hal itu menunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan baik ceritanya. Kita juga menunjukkan rasa simpati dan empati kepadanya.

4. Kontak Mata

Bagaimana pun mengganggunya lingkungan tempat kita berbincang, jangan pernah hilang kontak mata pada teman. Jika keadaan sekitar menganggu, lebih baik pindah tempat saja. Menjaga kontak mata juga salah satu usaha agar kita tetap fokus. Tetapi, perlu diingat, kita tidak boleh memberikan kontak mata secara terus-menerus tepat dimatanya ya. Nanti malah menjadi miskomunikasi dan salah sangka. Bagaimana kalau kamu malah dikira sedang jatuh cinta padanya? Hehehe Kontak mata tidak harus selalu tepat pada kedua mata. Kita bisa melakukan kontak mata dengan menatap pertengahan antara kedua mata atau menatap rambutnya.

5. Sentuhan

Ini tidak boleh dilakukan kepada lawan jenis ya. Khawatir menjadi salah sangka. Biasanya, sentuhan diberikan untuk menunjukkan rasa simpati. Misalnya, ketika teman sedang bersedih, kita bisa menggenggam tangan atau memberi tepukan kecil pada bahunya sebagai simbol untuk “menguatkan dirinya”.

6. Intonasi Suara

Mengontrol intonasi suara juga berkontribusi untuk melancarkan proses curhat dengan teman. Jika teman bersedih, tunjukkan kepedulian kita dengan memberikan suara lembut dan intonasi rendah sebagai upaya menenangkan dirinya. Cara seperti itu juga tersirat bahwa kita turut merasakan kesedihan yang ia rasakan.

Bila teman sedang putus asa dan tidak bersemangat, kita boleh memberikan suara dengan intonasi lebih tinggi untuk mengobarkan semangatnya.

Hindari intonasi suara datar. Intonasi datar menunjukkan bahwa kita tidak peduli. Meskipun niat kita lurus dan baik, intonasi datar membuat niat kita tak tersampaikan kepada teman.

**

Bagaimana? Standar menjadi teman curhat dan cara menjadi pendengar yang baik bukan hal yang asing kan? Kita pasti sudah sering melakukan hal ini bersama keluarga dan para sahabat. Tetapi, tidak ada salahnya membaca lagi untuk mengingat-ingat kembali. Barangkali, ada satu point terlupa dan tidak kita lakukan. Barangkali juga kita tak sadar melakukannya. Seperti kekhilafan yang saya ceritakan di atas, terlalu sayang bisa menyebabkan tidak memandirikan teman. Semoga kita terus berupaya menjadi teman curhat yang baik setiap harinya. Sebab, didengarkan itu sungguh membuat hati tenang dan senang. Mari saling menebar dan menerima kebahagiaan 🙂


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s