​Keinginan untuk belajar tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasakan pendidikan tinggi saja. Hal tersebut dapat dilihat dari sejauh mana seseorang dapat menerima hal baru, menerima nasihat, dan menerima kritikan yang membangun. Jenjang pendidikan memang tidak mutlak menjadi tolak ukur besar kecilnya keinginan belajar seseorang.

Keinginan untuk belajar juga dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa hal diantaranya: orang-orang terdekat, lingkungan, dan pengalaman. Orang yang membersamai dapat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan kita agar terus termotivasi untuk belajar. Lingkungan dapat memfasilitasi dan memudahkan proses belajar. Pengalaman juga akan memberikan banyak referensi cara belajar yang baik. Oleh karena itu, kita harus selektif dalam memilih orang untuk membersamai dan memilih lingkungan tempat kita berada.

Ada pepatah mengatakan,”Kegagalan terbesar manusia adalah ketika seseorang kehilangan keinginan untuk belajar.” Saya setuju dengan pepatah tersebut. Karena seharusnya selama hidup adalah belajar. Belajar adalah jembatan agar kita mengetahui dan memahami hal baru. Belajar juga membuat kita peka atas perubahan. Jika belajar saja tidak mau, bagaimana cara kita mengerti dan memahami sesuatu? Bagaimana cara kita menerima hal yang baru? Bagaimana cara  kita membaca kehidupan? Bagaimana kita introspeksi diri? Bagaimana cara kita memperbaiki diri?

Menjadi orang yang merasa cukup atas rezeki Allah adalah baik. Namun, jika seseorang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki sungguh tidak baik dan mengkhawatirkan. Merasa cukup dengan ilmu menurunkan semangat kita untuk terus belajar. Merasa cukup dengan ilmu adalah gerbang tertutupnya pengetahuan baru. Merasa cukup dengan ilmu adalah awal tertutupnya pikiran kita menerima hal baru.

Yang paling mengkhawatirkan dari merasa cukup dengan ilmu adalah kita merasa tak butuh ilmu dari luar. Tak butuh ilmu dari orang lain.

Keinginan untuk belajar harus dimiliki oleh semua usia dan semua orang. Karena sejatinya belajar adalah kebutuhan manusia. Belajar tidak hanya berkaitan tentang buku dan guru saja. Belajar memiliki arti yang luas. Belajar dapat melalui apa saja. Kita dapat belajar melalui banyak hal. Melalui hal yang terlihat, teraba, terdengar, dan terasa.

Semoga kita memahami dengan baik pentingnya belajar dalam kehidupan. Seperti udara yang terus kita hirup, belajar pun harus membersamai seperti udara akan terus kita butuhkan. Ketika memutuskan ingin belajar, kosongkanlah pikiran seakan-akan tak mengerti apa-apa. Dan bertanyalah yang banyak pada seseorang yang lebih tahu. Karena, semakin banyak mendengarkan, semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan.

4 thoughts on “Belajar dan Udara adalah Sama: Sama-sama Kita Butuhkan

    1. Seharusnya nggak, Mas Seta. Bersyukur artinya kita berterima kasih atas ilmu yg dimiliki. Harusnya malah semakin semangat tingkatin ilmu dan berbagi ke orang lain mas 😀

      Liked by 1 person

      1. Perasaan seperti itu semoga tidak menurunkan semangat untuk berbagi mas. Berbaginya bebas melalui apa saja. Tulisan Mas Seta tentang murid dan sekolah juga termasuk cara bersyukur ttg ilmu pendidikan. Saya jadi mengerti dgn baik hal2 tersebut 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s