Semua anak baik. Maka, jika seseorang memberikan sebutan “Si Anak Nakal”, mungkin dia salah memandang. Melihat ketidakbenaran perbuatan anak itu, seharusnya pertanyaan yang muncul adalah “Lingkungan dan orang-orang seperti apa yang membersamainya sehingga terbentuk pribadi seperti itu”. Semoga cara pikir seperti ini bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasakan “pendidikan tinggi”, namun juga dimiliki oleh “siapapun” yang memiliki niat untuk belajar.

Jangan pernah berpikir anak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Berpikiran seperti ini sama saja seperti kita membiarkan kehidupan mengalir seperti air mengalir. Untung-untung jika mengalirnya ke muara yang berair jernih. Bila mengalir ke muara yang berair keruh, bagaimana? Jangan biarkan semua mengalir tanpa ada usaha di dalamnya. Hal ini berlaku sama dalam mendidik anak. Jika kita “merasa” semua pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik seiring bertambahnya usia, pemikiran itu sangat kurang tepat. Anak sungguh tak tahu apa-apa. Anak itu ibarat kertas putih tanpa noda dan corak apapun. Tugas orang tualah yang menorehkan dan menuliskan hal-hal baik di dalamnya. Jika orang tua tak memberikan contoh, arahan, dan pendidikan yang baik . Dan, juga bertindak “sesuka hati”. Maka jangan pernah bermimpi anak akan tumbuh dan berkembang menjadi baik. Karena orang tualah yang menentukan bagaimana pribadi anak terbentuk. Sudah menjadi kewajiban orang tua agar terus belajar dan mempersiapkan.

Menjadi orang tua memang tak mudah, namun pasti bisa diupayakan dan diusahakan. Orang tua harus sangat berhati-hati. Memilih lingkungan untuk anak tinggali juga penting diperhatikan. Jika anak memasuki usia sekolah, orang tua tak selamanya 24 jam membersamai anak, bukan? Lingkungan memiliki andil yang besar dalam membentuk karakter anak.

Orang tua adalah manusia biasa yang tak sempurna. Tak ada yang bisa menjamin seluruh perilakunya baik. Mengetahui hal tersebut, semoga orang tua diseluruh dunia berpikiran terbuka untuk mau belajar dan menerima hal baru. Sebab, generasi Islam, generasi dunia, dan generasi Indonesia ditentukan oleh karakter tiap individu dalam keluarga. Semoga orang tua mampu bekerja sama sebagai tim untuk bersama-sama memberikan contoh dan mendidik anak dengan perilaku-perilaku baik. Lalu, bagaimana dengan akademik? Percayalah, jika karakter anak sudah dididik dengan baik, akademik mudah sekali dicapai. Jangan pernah mendahulukan pendidikan akademik dibandingkan pendidikan karakter. Jika hal itu terjadi, maka benar-benar celaka. Akan hadir manusia-manusia cerdas yang tak memiliki hati baik. Akan hadir manusia-manusia yang tak memedulikan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan karakter adalah penting. Tanpanya, anak akan tumbuh menjadi sosok yang kosong. Kosong pikiran, kosong hati, bahkan ada yang memiliki kekosongan pikiran dan hati. Yang terjadi adalah anak akan tumbuh dengan dunianya sendiri dan menganggap kehadiran orang-orang dan lingkungan disekitarnya tak berarti. Saya memiliki pengalaman langsung bertemu dengan anak-anak seperti itu. Saya pikir, hal yang paling menyakitkan hati adalah mengetahui bahwa anak memiliki kelainan karakter dikarenakan salah pola asuh. Memikirkannya membuat saya berpikir, apakah orang tua menyadari dampak dari kekhilafannya ini? Jika iya, seberapa sakitkah hati mereka, karena perbuatannya, anak tak bisa mengoptimalkan potensi dengan baik. Menghambat mimpi-mimpi dan merusak diri sendiri. Jika tidak menyadari dan menganggap perbuatan mereka adalah benar dan menganggap anak dalam keadaan baik-baik saja, membuat hati saya sakit. Ingin sampai kapan orang tua tersebut tanpa sadar merusak anaknya sendiri? Sepenting apakah urusan yang sedang dilakukan hingga tak memedulikan tumbuh dan kembang anak?

Ada 18 nilai-nilai pengembangan dan pendidikan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas (Pendidikan Nasional), yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca disini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak tahun 2011 telah mewajibkan seluruh tingkat pendidikan menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Kementerian saja sudah menyadari pentingnya pendidikan karakter untuk seorang individu dalam menjalani kehidupan, semoga orang tua pun sangat memprioritaskan hal tersebut dalam mendidik anak. Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang menjadi penyejuk jiwa. Anak yang memiliki karakter baik akan memberikan  manfaat dan pengaruh baik pula untuk orang-orang dan lingkungan disekelingnya. Yang paling utama, anak yang memiliki karakter baik akan mengenal dengan baik diri sendiri dan lingkungan. Tak mudah putus asa kala mengalami kegagalan dan tak mudah menyerah kala menghadapi kesulitan.

Saya belum menjadi orang tua. Saya masih belum mengalami secara nyata bagaimana menghadapi kehidupan yang sebenarnya sebagai orang tua. Saya juga belum mengalaminya sendiri bagaimana kesulitan dan tantangan dalam mendidik anak. Saya masih perlu banyak belajar. Buah pikiran yang tertulis di atas berdasarkan  sedikit pengalaman menjadi guru pendamping khusus dan sebagai kakak yang juga turut membantu orang tua mendidik adik balita. Semoga dapat menjadi renungan bersama. Dan semoga, meskipun belum menjadi orang tua, kita dapat belajar dari manapun, dimapun, dan dari siapapun.

Dari pengalaman menjadi guru saya belajar, kontribusi orang tua berperan penting dalam proses tumbuh dan kembang anak. Terkadang, kesibukan bekerja dan kurangnya “waktu” yang orang tua berikan menjadi sebab terhambatnya tumbuh kembang. Dan akhirnya, orang tua lebih mudah menyalahkan anaknya, mengapa berperilaku tidak baik, mengapa tidak patuh dengan orang tua, dan mengapa anak tidak pandai berkomunikasi dan interaksi sosial, tanpa introspeksi diri. Sudahkah orang tua menjalani peran dengan baik? Dan akhirnya pula, beberapa orang tua menyalahkan guru, mengapa anak tidak memiliki akademik yang baik, mengapa anaknya tidak pandai, dan mengapa anaknya tidak senang belajar, tanpa introspeksi diri. Sudah sejauh mana orang tua turut andil dalam proses belajar mengajar di rumah?

Dari pengalaman menjadi kakak saya belajar, kontribusi orang tua dan keluarga berperan penting dalam proses pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak. Bahwa usaha kecil yang dilakukan orang tua dapat menjadi kontribusi besar untuk anak. Bahwa kesabaran seluas langit yang diberikan untuk mengajarkan hal baik dapat menjadi kontribusi besar untuk membentuk karakter baik anak. Siapa yang menyangka, bahwa kebiasan untuk mengingatkan hal-hal baik sungguh terpatri dalam perilaku anak sehari-hari? Bahkan dengan wajah polos, lucu. dan menggemaskan dia pun turut mengingatkan dalam hal-hal baik? Siapa yang menyangka, bahwa kebiasaan untuk membersamai anak dalam melakukan aktivitas baik menjadi kontribusi yang besar untuk menanamkan kebiasaan baik si anak. Bahkan dengan semangat dia pun ikut menawarkan diri untuk menemani dan membersamai. Siapa yang menyangka, bahwa nilai-nilai dan nasihat baik yang tak bosan diucapkan orang tua benar-benar diingat dalam hati dan pikirannya? Dengan wajah sumringan si kecil mengulang kembali nilai-nilai baik yang wajib dilakukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari? 

Menjadi orang tua yang menjalani peran dengan baik memang tak mudah. Membutuhkan usaha, kesabaran, rela memberikan waktu, mencontohkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Jangan pernah lelah melakukannya. Dan memohon pada Allah agar dikuatkan. Sebab, tindakan yang orang tua lakukan menentukan bagaimana anak akan tumbuh dan berkembang. Sebab, sikap orang tua juga menentukan bagaimana karakter anak terbentuk.

Bersabarlah, lelah orang tua akan terbayarkan menjadi pundi-pundi pahala yang semakin banyak. Lelah juga akan terbayarkan kelak ketika si kecil berperilaku baik dan manis. Ketika ia memperlakukan kedua orang tua, teman-temannya, binatang, bahkan tumbuhan dengan sangat baik, benar-benar membuat hati orang tua sungguh bahagia. Lelah karena Lillah Insya Allah berkah 🙂 Semangat untuk para orang tua dan calon orang tua (tidak ada istilah “terlalu cepat” untuk belajar ilmu parenting). Allah pasti memudahkan dan menguatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s