Saya sangat menikmati membaca autobiografi Bung Karno ini. Membacanya benar-benar tidak membosankan. Kita bisa membayangkan Bung Karno sendiri yang menceritakan perjuangannya 😀

​Kita harus mencari tahu kisah para pahlawan yang telah berjuang untuk negeri ini. Kita harus memiliki keinginan besar untuk mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan. Kita harus mengenal lebih dekat para pahlawan

Segala kemudahan yang saat ini dirasakan harganya sangat mahal. Dibayarkan dengan waktu, usia, pengorbanan, kesulitan, dan pertumpahan darah. Segala kemudahan menjalani kehidupan tak didapatkan begitu saja. Membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya sehingga kini Indonesia Merdeka. Sehingga kini tiap individu merdeka.

Membaca buku autobiografi Bung Karno membuat saya merenungi. Terus membaca setiap halaman membuat saya semakin malu. Karena begitu banyak kemudahan yang sudah dirasakan. Begitu banyak kesempatan yang ada. Namun, masih amat sedikit kontribusi untuk negeri ini.

Saya kurang menghayati. Mungkin kamu pun juga. Bahwa aktivitas yang sudah kita lakukan sejak kecil adalah anugerah. Dan patut disyukuri. Bersyukur karena hidup dalam lingkungan yang nyaman, tentram, dan bebas dari ancaman.

Mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua. Menjalani kehidupan yang lebih dari cukup sejak dini hingga saat ini. Kebebasan berpendapat dimanapun dan dengan siapapun. Dibersamai oleh keluarga dan sahabat terkasih. Kemudahan mendapatkan pendidikan. Memiliki banyak waktu untuk memikirkan cita-cita. Memiliki banyak kesempatan untuk menggapai semua mimpi. Dan masih banyak kemudahan lainnya.

Bukankah kita amat beruntung hidup di masa ini? Di zaman ini? Tak perlu merasakan ketakutan akan ancaman, kekerasan, keterbatasan, kesakitan, dan siksaan. Tak perlu mengorbankan nyawa ini. Tak perlu merasakan kesedihan karena kehilangan sanak saudara yang sedang berjuang. Tak perlu merasakan tekanan untuk berpendapat. Sungguh tak perlu. Namun, masih saja kita tak mau tahu dan egois. Kita hanya memikirkan diri sendiri. Diri sendiri yang tak pernah puas. Diri sendiri yang kesulitan mengapresiasi. Diri sendiri yang lupa untuk bersyukur. Diri sendiri yang mudah melihat satu kekurangan dibandingkan banyak kelebihan. Hingga terlupa. Apa yang seharusnya dilakukan untuk diri sendiri dan untuk Indonesia.

Saya akan berbagi sedikit tentang perjuangan Bung Karno dari buku autobiografi tersebut. Supaya kita tahu, menghargai, bersyukur dengan kehidupan kita saat ini, mengambil pelajaran darinya, kemudian melakukan yang terbaik.

Hampir 13 tahun. Kehidupan Bung Karno disita oleh masa tahanan dan pembuangan. Ditekan dan dipojokkan hingga ke sisi paling terbelakang dan tak terlihat. Dilucuti semangat dan daya juangnya. Agar Bung Karno jera dan menyerah. Agar rakyat pun hilang harapan dan  kembali terjajah. Namun, dugaan Belanda keliru. Sesulit apapun keadaan tak akan pernah meredupkan semangat juang Bung Karno.

Pada masa tahanan, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, tidak boleh menerima dan mengirimkan surat, dan tidak boleh bertemu orang lain bahkan juga tahanan lain. Sel Bung Karno gelap dan lembab. Memiliki lebar satu setengah meter (separuhnya sudah terpakai untuk pelbed), dan panjangnya tak lebih dari dari peti mayat. Ia tidak memiliki jendela atau jeruji untuk mengintip keluar, sel tersebut terdiri dari tembok mulai dari lantai hingga langit-langit. Makanan untuk para tahanan diberikan di dalam sel. Buang air kecil dan besar pun di dalam sel. Sudahkah terbayangkan masa-masa sulit yang Bung Karno lalui? Keadaan sulit tak pernah membuat Bung Karno menyerah. Bung Karno selalu mencari cara agar harapan selalu tumbuh dan semangat terus berkembang.

Pembuangan di Flores dan Bengkulu bertujuan untuk mematikan semangat hidup Bung Karno. Bagaimana tidak? Di usia produktif yang seharusnya bebas berencana dan bertindak, kenyataannya tidak seperti itu. Ibaratnya, Bung Karno berada di penjara dalam ukuran luas. Beliau kesepian. Meskipun sang istri membersamai, disana tak ada kawan untuk berbagi dan menerima aspirasi. Bahkan masyarakat pun tak berani mendekati Bung Karno. Bukan karena tak kenal, bukan. Mereka tak berani mengambil risiko. Berani mendekati artinya telah siap kehilangan harta dan keluarga. Taruhannya adalah nyawa, harta, dan keluarga. Menurutmu, adakah yang berani mendekat?

Orang yang pandai mengendalikan dan mengalahkan dirinya sendiri adalah Bung Karno. Keadaan dan situasi tak akan bisa mendominasi dibandingkan semangat dalam dirinya. Pihak luar tak akan bisa mengendalikan beliau. Bung Karno memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat sekali. Sehingga Bung Karno selalu menemukan titik balik dari segala kesulitan.

Masa tahanan dan pembuangan tak membuat jiwanya mati. Masa tahanan digunakan untuk berpikir, berencana, dan mendekat pada Sang Maha Kuasa. Tahukah kamu, pancasila serta segala hal terkait negara dan pemerintahan sebagian besar dipikirkan di dalam penjara?

Masa pembuangan tak membuat dirinya berjalan mundur lalu berhenti. Meskipun Belanda melucuti segala kebebasan dan merampas hak Bung Karno, beliau selalu menemukan jalan. Masa pembuangan Bung Karno gunakan untuk mengenal rakyat jelata yang paling bawah yang tak dapat menulis. Lagi-lagi Bung Karno selalu tahu cara bagaimana menyatukan rakyat. Disana, beliau mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi pendidik untuk anak-anak. Bung Karno mengatakan,”Kalau engkau sedang putus asa, engkau akan mengatasi rintangan yang bagaimana pun. Inilah satu-satunya napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia tetap hidup.”

Mengetahui segala perjuangan dan pengorbanan Bung Karno untuk membuat Indonesia medeka semoga menjadi suntikan semangat untuk kita. Dan menghargai. Menghargainya dengan cara mengenal, mencintai, dan mengendalikan diri sendiri. Berusaha menjadi pribadi yang baik. Sehingga tidak memberi kontribusi buruk untuk negeri ini. Ingat selalu, kemudahan dan kebebasan yang dapat dinikmati saat ini harganya sungguh mahal. Jadikan sejarah masa lalu untuk bercermin dan mengambil pelajaran. Jadikan masa kini untuk bersyukur dan berusaha menjadi rakyat yang memberi manfaat untuk sesama.

“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Aku masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan aku meninggalkannya dengan tujuan yang sama.” – Bung Karno

“Di Sukamiskin tubuhku dipenjara. Di Flores semangatku dipenjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku. Mereka yang mengerti, takut untuk berbicara. Mereka yang mau berbicara, tidak mengerti. Inilah tujuan sebenarnya pembuangan ini. Baiklah! Kalau keadaannya demikian, aku akan bekerja tanpa meminta bantuan orang-orang terpelajar yang picik ini. Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling bawah. Orang-orang yang terlalu sederhana untuk memikirkan politik. Orang-orang yang tak dapat menulis dan yang merasa dirinya tidak kehilangan apa-apa. Dengan cara ini, setidak-tidaknya ada orang yang bisa kuajak bicara.” – Bung Karno

Advertisements

One thought on “Buku: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s