Foto ini diambil ketika dia mulai gelisah karena duduk terlalu lama. Alhasil, Satria duduk maju ke shaf depan kami 😀

​Katanya, mendidik anak adalah tentang bagaimana orang tua belajar dan berusaha memaparkan, menstimulasi, dan memfasilitasi hal-hal baik. Sebagai kakak tertua dan masih diberi kesempatan membersamai adik-adik di rumah, maka saya ingin sedikit berkontribusi untuk tumbuh kembang mereka. Oleh karena itu, kemarin saya dan Yuniar mencoba mengajak si kecil Satria datang ke acara kajian. Ingin memberi pengalaman ke Satria mengenal Masjid 😀

​Ketika memutuskan mengajak anak kecil dalam kegiatan, maka kita harus siap menjadi manusia yang super persiapan dan manusia super sabar. Menjadi manusia super persiapan artinya kita harus mempersiapkan kebutuhannya (seperti snack, minuman dan mainan) selama perjalanan nanti. Menjadi manusia super sabar artinya kita harus bersabar untuk melambatkan langkah kaki dan sabar menjawab pertanyaan. Maksudnya? Begini, anak kecil adalah sosok yang penasaran dengan banyak hal disekitarnya. Jadi, kita harus bersiap-siap menjawab semua pertanyaannya selama perjalanan. Kita juga harus bersabar melambatkan langkah kaki, bagi saya yang kalau jalan selalu cepat, berjalan bersama anak kecil tentu harus melambatkan langkah kaki. Langkahnya kecil-kecil sekali, maka saya harus menyesuaikan 😀

​Selain itu, anak kecil juga penasaran sekali untuk melihat hal-hal disekitarnya. Jadi, kita harus bersiap-siap menanggapi saat dia menunjuk dan meminta untuk melihat hal-hal yang menarik perhatiannya. Kalau saya, kemarin tidak memenuhi permintaannya untuk melihat-melihat. Karena waktunya tidak tepat. Kami harus menghadiri kajian pukul tujuh pagi. Maka, saya menjelaskan kepadanya “kegiatan untuk melihat-lihatnya” ditunda dulu. Karena kita mau datang ke kajian lebih dulu. Alhamdulillah Satria mengerti dan melanjutkan langkah kakinya.

​Selain harus siap menjadi manusia yang super persiapan dan super siap menjawab pertanyaannya, ketika memutuskan mengajak anak kecil, kita juga harus siap menjaga emosinya. Anak kecil usia empat tahun kurang menyukai kegiatan yang mengharuskan dia duduk diam dalam waktu lama. Anak kecil juga mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Kemarin, Alhamdulillah selama dua jam Satria mampu duduk tertib di dalam Masjid. Tentunya dengan disediakan snack dan mainan ya 😀 Namun, ketika anak-anak kecil di lingkungan Masjid sudah mulai lari-larian, Satria mulai penasaran dan ingin lari-larian juga hahaha Dia tidak merengek atau menangis. Namun, Satria tampak gelisah dan mengajukan pertanyaan berulang kali, “Mbak kok lama? Mbak kok nggak selesai-selesai?”, karena berusaha memahami apa yang dia rasakan dan mengapresiasi kesabarannya duduk dengan manis dan tertib selama dua jam di dalam Masjid, maka saya menuruti permintaannya untuk menuju lokasi tempat anak-anak kecil berlari-lari.

​Dan, ketika kami baru saja duduk selama lima detik, Satria mengatakan bahwa dirinya ingin “pipis“. Sebelum mengajak anak kecil melakukan perjalanan, kita juga harus bersabar menemaninya kemanapun supaya dirinya nyaman. Langsung saja kami bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai “pipis” Satria segera berlari-lari di halaman Masjid. Tampak satu anak seusianya juga melakukan kegiatan yang sama yaitu, lompat-lompatan, lari-larian, dan mengamati benda-benda disekitarnya.

Saat itu saya semakin memahami, anak balita memang paling senang melakukan kegiatan motorik kasar dan penasaran dengan banyak hal. Lalu, bagaimana dengan duduk rapi di dalam Masjid? Mungkin bagi mereka kegiatan tersebut amat membosankan. Karena memang diusianya, kemampuan untuk bertahan dalam satu posisi belum adekuat dan kemampuan untuk memperhatikan satu hal dalam waktu lama juga belum mumpuni. Semoga saja kita sebagai orang dewasa memahami hal itu. Supaya mengerti keadaannya dan tidak marah-marah saat berhadapan dengan mereka.​

Kegiatan yang paling disenangi saat naik kereta adalah memandangi pemandangan di luar kereta. Dalam keadaan seperti ini, biasanya orang dewasa yang harus menjaga dan waspada. Karena dia duduk dalam posisi yang tidak seharusnya.

​Setelah kajian, kami segera pulang. Kami menaiki kereta. Karena jarak stasiun yang ditempuh terlalu dekat yaitu hanya satu stasiun saja, maka sebelum pulang, saya dan Yuniar memutuskan mengajak Satria ke Stasiun Bogor dulu. Lumayanlah jarak dari Stasiun Pondok Cina ke Stasiun Bogor pergi-pulang. Satria sangat senang. Karena memang alasan Satria tertarik ikut ke kajian ini adalah karena kami memberitahu akan naik kereta. Oleh karena itu, demi memenuhi janji tersebut, setelah datang ke kajian, kami mengajak Satria jalan-jalan naik kereta dulu.

Akhirnya, setelah selama empat jam terjaga dan bermain-main ria, tepat pukul 11 siang dia tak sanggup lagi membuka mata 😀 Selamat tidur, Satria.

​Perjalanan ini sungguh bermanfaat. Bermanfaat untuk mbaknya belajar membersamai anak kecil dalam perjalanan dan bermanfaat untuk si kecil yaitu, mendapat pengalaman mengenal Masjid. Tentunya bermanfaat karena jalan-jalan naik kereta 😀

Kami kajian di Masjid UI, Depok. Kajian selalu diadakan satu pekan sekali yaitu, setiap Hari Minggu. Pukul 07.00-09.00. Jika kalian ingin datang ke kajian sekalian jalan-jalan, boleh sekali dicoba datang ke Masjid UI 😀

Disini, Satria sudah tidak sabar untuk naik kereta. Beginilah wajahnya yang berhasil ditangkap kamera :’)

​​

Advertisements

4 thoughts on “Cerita: Perjalanan Bersama Anak Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s