Sumber: Asianwiki.com

 ​

Drama My Golden Life sangat sarat makna. Drama ini menceritakan tentang kebersamaan dalam keluarga. Kebersamaan yang penuh dengan kisah menyenangkan dan menyakitkan, proses penyembuhan dan penerimaan, proses berjuang untuk bangkit kembali, dan proses untuk memaafkan. Tidak hanya tentang keluarga. Namun, juga menceritakan tentang problematika tiap anggota keluarga. 

Drama ini menunjukkan bahwa selalu ada harapan untuk orang-orang yang berusaha dan berjuang. Selalu ada harapan untuk orang-orang yang berbaik sangka dan bersabar terhadap kehidupan 🙂

Drama My Golden Life begitu menyentuh hati dan pikiran saya. Maka, saya akan berbagi beberapa pelajaran yang didapatkan:

1. Keluarga adalah harta yang paling berharga yang dimiliki oleh setiap individu. Betapa tidak sempurna diri atau bahkan betapa tidak baiknya diri ini, keluarga akan selalu menerima dan memaafkan.

Anggota keluarga hanyalah manusia biasa. Yang memiliki kesalahan, kekeliruan, keegosisan, dan ketidaksempurnaan. Jadi, jangan melulu menyalahkan. Sebab, kita hanyalah kumpulan beberapa orang yang banyak kekurangan dan keterbatasan. Maka, mari saling menerima, menghargai, dan menjaga perasaan. Hanya keluargalah yang dapat menerima, memaafkan, dan memberikan kesempatan. Karena, bersama keluarga kita akan baik-baik saja. Menghadapi semuanya bersama-bersama. Dengan berjalan beriringan dan bergandeng tangan.

2. Betapa kuat dan tegar seorang ayah, tetaplah manusia biasa. Meskipun selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh, seorang ayah hanya seorang manusia. Yang ingin ditanya apakah dalam keadaan baik-baik saja. Yang ingin dijaga perasaannya. Yang ingin dihormati. Yang juga ingin dipedulikan dan diperhatikan.

Ayah juga bisa bersedih dan merasa sakit. Maka, jaga selalu perkataan dan perbuatan kita. Khususnya bagi seorang anak. Betapa pun kita kecewa dan marah terhadap keadaan, bukan berarti kita berhak melampiaskan. Hanya karena tugas ayah adalah untuk melindungi, bukan berarti kita pantas menyalahkan dan menyudutkan. Ayah hanya manusia biasa. Sama seperti kita.

3. Betapa tidak tepat pilihan Ibu menurut pandangan kita, tentu semua yang dilakukan demi kebaikan anak-anaknya. Maka, maafkan dan berusaha mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan. Berhentilah untuk menyalahkan. Karena, orang yang rela mengorbankan diri hanya untuk kebahagiaan anak adalah ibu. Ibu rela melakukan apapun demi anaknya.

4. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari saudara kandung. Percaya atau tidak, berbagi cerita dengan saudara sungguh akan meringankan beban. Orang yang tumbuh bersama dengan kita adalah saudara. Saudara pula yang berkontribusi besar atas perubahan diri ini menjadi lebih baik. Maka, mereka akan memahami keadaan kita dengan baik. Berbagilah.

5. Keadaan sulit benar-benar dapat membuat manusia jatuh dan tak akan bisa bangkit. Maka, jangan pernah kita menahan, menanggung, dan membawa beban itu sendiri. Kita harus memiliki tempat untuk bersandar. Kita mempunyai keluarga dan sahabat. Berbagi saja semua rasa suka dan duka. Mereka memang tidak secara langsung dapat membantu meringankan beban yang sedang kita bawa. Namun, paling tidak, beban di hati dan pikiran akan menjadi lebih ringan. Sehingga kita dapat bangkit dan menata hidup kembali.

Jangan menanggung semuanya sendiri. Kita bukan Rasul. Bahkan, manusia sempurna seperti Rasul saja membutuhkan Allah, keluarga dan sahabat disisinya, kan? Apalagi kita?

6. Jangan memaksakan standar orang-orang di luar menjadi standar kita. Jangan menjadikan prinsip hidup orang lain menjadi prinsip kita. Ini adalah kehidupan kita. Kita harus mengenal diri dengan baik. Kita harus menentukan prinsip. Supaya betapa pun beratnya standar masyarakat mengelilingi, kita bisa dengan kuat menghadapi.

Pahami apa yang disukai dan tidak. Pahami hal yang nyaman di hati dan tidak. Sehingga, masalah apapun yang datang, tak akan bisa meruntuhkan.

7. Uang bukanlah segalanya. Uang bukan menjadi penentu kebahagiaan. Menjalani kehidupan memang membutuhkan uang. Namun, percayalah, supaya hidup dengan baik, bukan uang sebanyak itu yang dibutuhkan. Gunakanlah uang secukupnya sesuai kebutuhan.

Kenali untuk apa kita hidup. Apakah yang kita lakukan bermanfaat untuk banyak orang. Apakah yang kita lakukan bebar-benar yang kita inginkan. Apakah yang kita lakukan benar-benar membuat nyaman dan senang. Apakah yang kita lakukan benar-benar bukan hal yang akan kita sesali semata. Jadi, pilihlah suatu hal sesuai hati nurani. Insya Allah kita tidak akan menyesal.

8. Kegagalan bukan suatu akhir kehidupan. Kita hanya perlu bangkit dan berlari lagi. Menyesal sama sekali bukan masalah. Kegagalan juga sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau berusaha. Berusahalah. Hingga keletihan letih untuk mengejarmu.

9. Mencintai seseorang bukan tentang keharusan memilikinya. Mencintai seseorang bukan tentang dia harus memenuhi segala yang kita inginkan. Mencintai seseorang, juga bukan tentang diri ini yang harus diprioritaskan.

Mencintai seseorang adalah tentang sejauh apa kita mengenal dirinya. Sehingga memudahkan jalan agar dia mencapai mimpinya. Sehingga mengerti kondisi dan alasan mengapa jalan itu yang menjadi pilihannya. Sehingga memahami lingkungan, bahwa jika keadaan menentang dan tidak memungkinkan, bersama bukanlah sebuah pilihan. Jika kebersamaan hanya membuat banyak pihak tersakiti, bersama bukanlah sebuah pilihan. Bersabarlah. Biarlah waktu yang memberikan jalan.

Saat ini, drama sedang berlangsung. Sudah sampai episode 48. Total episodenya adalah 50. Semoga akan menambah pemahaman, kebijaksanaan, dan pelajaran di episode akhir nanti  🙂

2 thoughts on “Drama Keluarga My Golden Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s