Pengalaman adalah guru yang paling baik. Berkat pengalaman tersebut, kita akan siap menghadapi masa depan. Kita akan menjadi manusia yang lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Pengalaman satu setengah tahun bekerja di sekolah dasar, membuat saya bertemu dengan anak-anak. Dan saya menjadi sangat peka dengan perilaku yang mereka lakukan. Saya menjadi tahu anak-anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Setiap anak adalah spesial. Mereka spesial dibidangnya masing-masing. Seringkali perilaku polos dan lugunya membuat para guru mendapatkan banyak pelajaran.

Dan saya mengerti bahwa sebenarnya tidak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Dan anak yang tidak difasilitasi dengan optimal. Sehingga anak tersebut memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Dan karena memenuhinya atas kehendak ‘sendiri’, banyak perilaku yang belum benar terjadi dan cenderung bertindak ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya. Akibat ‘perbedaan’ ini, banyak orang-orang dewasa yang tidak paham, lalu segera melabeli mereka sebagai anak nakal.

Sesungguhnya anak memiliki standar normal kemampuan (seperti: motorik halus, motorik kasar, bahasa, koginitif, dll) disetiap fase usianya. Meskipun memiliki standar normal yang sudah terstandarisasi internasional, setiap tumbuh kembang anak berbeda. Perbedaan ini terjadi dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang didekatnya. Disini peran orang tua sangat penting. Bagaimana orang tua memberikan segala kebutuhan dasar yang baik serta memfasilitasi tumbuh kembang di setiap fase usianya secara optimal. Jangan sampai anak dilabeli dengan kata-kata buruk oleh orang lain hanya karena kelalaian orang tua saat mendidik anak.

***

Saya senang mengamati sekitar. Dengan mengamati, kita akan lebih bersyukur betapa banyak memetik pelajaran dari perbedaan di sekeliling kita. Dan jika saja setiap manusia memberikan waktunya sedikit saja untuk merenungi segala perbedaan tersebut, kita akan sadar betapa banyak karunia yang telah didapatkan. Namun, dibalik perasaan nyaman, kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah. Lupa untuk bersyukur.

Saat itu, sesuatu yang saya amati sungguh memprihatinkan. Ketika seorang anak perempuan berusia lima tahun ingin bermain dengan teman sebayanya. Namun, tingkah yang ia lakukan malah membuat tidak nyaman teman sebayanya itu. Bagaimana tidak? Ketika teman sebayanya sedang bernyanyi dengan nada-nada indah, si anak melirik dengan wajah ceria ke arah teman sebayanya, kemudian ikut bernyanyi dengan suara kencang sekali. Dia bernyanyi dengan keras. Hampir berteriak-berteriak. Siapa pun tidak akan nyaman dan senang mendengarnya. Dan jika tidak sabar, pasti orang dewasa akan segera memarahinya. Karena mengganggu sekitar.

Saat mendengar suaranya melengking keras, disana muncul kesadaran dalam diri saya. Seperti ada yang berbisik ke telinga saya bahwa sesungguhnya anak itu hanya ingin bermain dan bernyanyi bersama. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya berbicara. Ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya bermain. Dan ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya. Keinginan anak itu sederhana sekali bukan? Namun, perilaku yang ia tunjukkan bukanlah permasalahan sederhana.  Semua yang ia tidak ketahui adalah dasar-dasar untuk berbahasa, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Jika ia tidak tahu, bagaimana cara ia bermain dengan teman-teman sebayanya? Si anak akan kesulitan. Si anak akan menjadi ‘berbeda’.

***

Anak ibarat kertas putih yang kosong. Dan orang tua beserta lingkungan disekitar bertanggung jawab menorehkan tinta kebaikan di atas kertas tersebut. Tidak mudah menorehkan tinta kebaikan disana. Dibutuhkan usaha dan keinginan belajar sepanjang masa. Dibutuhkan pengetahuan menjadi orang tua yang baik. Sebab, tidak ada sekolah formal yang mengajarkan menjadi orang tua baik. Semua tergantung kesadaran setiap orang tua ingin mempertanggung-jawabkan seperti apa dihadapan Allah kelak. Bukankah setiap anak hakikatnya hanya titipan? Tugas setiap orang tua adalah memberikan pendidikan agama, karakter, serta keilmuan lainnya. Agar segala kebutuhan dasar dan tumbuh kembang anak tercapai dengan optimal. Agar anak dapat menjalani kehidupan dengan baik dan mandiri.

***

Cintai dan sayangilah anak-anak disekitar. Sebab, kita sebagai orang dewasa yang berada disekitar mereka, bertanggung jawab memberikan teladan yang baik. Kita memang bukan manusia sempurna. Kita banyak melakukan kesalahan. Namun, jika kita berusaha dan belajar, tidak apa-apa kan? Segala usaha yang kita lakukan, Insya Allah mendekatkan kita dengan kebaikan. Semoga Agama Islam dan Bangsa Indonesia dipenuhi dengan orang-orang yang tidak lelah untuk berusaha dan belajar. Karena sesungguhnya, keterpurukan seorang hamba terjadi ketika kita masa bodoh, tidak ingin berusaha, tidak ingin tahu, dan tidak ingin belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s