Terima kasih untuk karyanya, Pak Antoni 🙂 Buku yang sarat makna dan menjadi pengingat pentingnya membaca. Membaca itu kebutuhan. Untuk diri kita sendiri dan orang lain.
​

Membaca untuk mencerahkan diri, dan dengan demikian mampu memberikan pelita bagi orang lain. Tujuan ini sangatlah mulia. Membuka “jendela” dan melihat cakrawala yang lebih luas demi kedewasaan berpikir dan bertindak. Membaca menjadikan kita makhluk yang terus terbarukan dalam hal pemikiran. Membaca buku tekstual (tersurat) dan kontekstual (tersirat) dapat meng-update pengetahuan, cara pandang, dan sikap kita. Lebih jauh, kegiatan membaca yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang dapat memperbaharui tingkah laku kita menuju perilaku manusia baru yang lebih baik. Inilah peran penting membaca untuk membangun diri. – Antoni Ludfi Arifin

Setelah membaca buku Pak Antoni yang berjudul “Be A Reader” membuat saya ingin mengingat kembali mengapa saya butuh membeli buku dan mengapa saya butuh membaca buku. 

Sejak kecil hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP)  belum ada ketertarikan sedikit pun dengan buku dan kegiatan membaca. Karena memang belum ada pengalaman banyak tentang saya dan buku. Sehingga saya belum mencintai buku. 

Buku yang saya baca hanya buku pelajaran saja. Saya membacanya sebab memang keharusan. Karena jika tidak membaca, saya tidak akan bisa memahami pelajaran dan menjawab soal-soal. Jika dahulu banyak teman-teman sering membaca komik dan novel saat jam istirahat sekolah, kalau saya belum berminat sama sekali melakukan hal yang sama seperti mereka. Padahal, saat SMP dulu, ada sebuah ruko yang memberikan jasa sewa-menyewa buku. Disana disediakan banyak komik dan novel yang dapat disewa selama beberapa hari dengan tarif tertentu. Seru sekali ya? Tapi saat itu saya tidak merasakan kegiatan tersebut seru. Bagi saya itu tidak menarik.

Saat Sekolah Menengah Atas, sahabat saya Ica mengenalkan sebuah buku karya Tere Liye yang berjudul Bidadari-bidadari Surga. Ica dengan semangat menjelaskan alasan-alasan terbaiknya mengapa saya harus membaca buku tersebut. Berkat kemahiran Ica bercerita dan mempengaruhi hal-hal baik, maka saya terpengaruh dan mencoba membaca karya Tere Liye. Buku pertama yang saya baca adalah Sunset Bersama Rosie. Dan hasilnya, saya suka sekali. Saya menyukai cara Tere Liye bercerita sambil menyisipkan hikmah-hikmah. Selalu ada pembelajaran dan pemahaman disetiap cerita yang Tere Liye tuliskan. Sejak saat itu, saya benar-benar menyukai karya-karyanya. Saya mengoleksi banyak novelnya. Beberapa karya beliau yang sudah saya miliki adalah Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sepucuk Angpao Merah, Ayahku Bukan Pembohong, Semoga Bunda disayang Allah, Hafalan Shalat Delisa, Amelia, Pukat, Pulang, Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Rindu, Hujan, Tentang Kamu. Dan, masih banyak buku Tere Liye yang belum saya baca. Yuk, nabung.

Karena sejak kali pertama dikenalkan dengan novel tentang hidup dan penuh hikmah, maka seiring berjalannya waktu, saya pun gemar membeli novel yang bergenre seperti itu. Beberapa penulis yang bukunya banyak saya baca seperti A. Fuadi, Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Salim A. Fillah, Iwan Setyawan, Azhar Nurun Ala, dan Kurniawan Gunadi. Dari karya mereka saya banyak belajar bagaimana menjadi orang baik, bermanfaat untuk sesama, bersyukur, bersabar, dan yang utama bagaimana cara saya dicintai Allah. Saya benar-benar bersyukur karena telah diberi kesempatan membaca karya mereka 🙂

Bertambahnya usia, saya menyadari bahwa semakin banyak tanggung jawab untuk diri ini dan masih banyak hal yang tidak saya ketahui. Saya perlu mencari tahu. Saya perlu membaca lagi. Agar kelak, ketika menjalani hidup ini tidak dengan coba-coba lagi. Saya menjalani hidup ini harus dengan pemahaman matang untuk apa saya hidup. Peran apa yang saya harus dijalani. Saya perlu banyak belajar lagi.

Saya pernah membaca suatu artikel yang begitu berkesan untuk dicatat dalam hati. Artikel itu membahas bagaimana cara menjadi orang yang berpikiran terbuka. Berpikiran terbuka sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa memiliki pikiran yang terbuka dan luas, kita akan kesulitan menghadapi perbedaan. Dan kita akan sulit menerima hal baru. Artikel itu menyebutkan bahwa jika ingin memiliki pikiran yang luas dan terbuka, maka kita harus mempelajari semua hal tanpa ada pengecualian. Manusia seringkali lebih senang mempelajari hanya yang disukainya saja. Dan enggan menyelami hal-hal yang tidak menarik baginya. Begitulah kita. Hmm, lebih tepatnya begitulah saya. Mengetahui hal itu, maka saya ingin berubah.

Demi memiliki pikiran nan luas dan terbuka seperti itu, maka saya tidak lagi membaca buku sesuai genre yang disukai saja. Saya membaca buku apapun. Saya membaca semua hal yang ingin saya ketahui. Siapapun penulisnya itu. Karena yang terpenting adalah isi bukunya. Sebab, saya menyadari bahwa membaca banyak buku adalah perbuatan yang baik dan bila ada beberapa bagian yang kurang saya setujui, buku tersebut tetaplah bermanfaat. Akan ada pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku tersebut. Akan ada pemahaman baru yang berkembang dalam diri saya setelah mengetahui ilmu baru. Dan akan ada perubahan baik dalam diri saya setelah membaca buku. Buku selalu menjadi guru yang tepat bagi siapapun yang ingin berubah menjadi lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s