Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan ketika membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El-Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik, berikut beberapa buah pikiran yang perlu dicatat.
Kang Abik memperkenalkan Islam dengan penuh rasa cinta. Betapa Islam mengedepankan hubungan antar sesama dan makhluk Allah lainnya dengan kasih dan sayang. Jika sayang, maka kita akan memperlakukan orang yang disayang dengan sebaik-baiknya. Begitulah Kang Abik memperkenalkan Islam, melalui sosok Fahri.

1. Menjadi teladan yang baik dan berusaha menjadi sebaik-baiknya pribadi

Fahri memang digambarkan sebagai muslim yang taat dan berhati lembut. Tutur katanya selalu dijaga supaya tidak menyakiti hati dan lakunya juga selalu dijaga agar selalu bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Namun, Fahri bisa menjadi sangat tegas bila Allah, Rasul, dan agamanya dihina dan disakiti.

Banyak kepribadian Fahri yang patut diteladani, seperti menggunakan kemampuan dan potensi diri di luar ambang batas, menggunakan waktu dengan adil untuk urusan akhirat dan dunia, mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, memperkenalkan muslim melalui keunggulan intelektualnya, sebab Fahri sangat tahu, menjadi muslim yang minoritas harus bertanggung jawab menjadi juara di bidang yang sedang ditekuni. Demi agamanya. Supaya Islam dikenal. Supaya Islam dihormati dan dihargai. Bahkan diteladani segala tutur kata dan tingkah laku terpuji yang Fahri lakukan.

2. Menolong Sesama

Islam mengajarkan agar kita saling menyayangi sesama makhluk Allah. Jika sayang, maka sudah menjadi tugas kita untuk menolong orang yang membutuhkan. Maka, Rasulullah mengatakan:

Betapa Islam mengutamakan rasa kasih dan sayang sampai Allah menegaskan seperti hadist di atas 🙂 Fahri mengamalkan perintah Allah ini dengan membantu tetangga dan orang-orang fakir miskin disekelilingnya. Tanpa membedakan agama, ras, budaya, kewarganegaraan, dan sebagainya. Betapa indah hubungan saling tolong menolong seperti ini. Kang Abik dengan sangat baik menggambarkan sosok Fahri begitu nyata memiliki kepribadian yang sangat terpuji.

3. Mengutamakan Musyawarah

Dalam novel ini banyak konflik yang terjadi dan tak jarang menguji kesabaran Fahri. Begitu banyak kesempatan menyeselesaikan masalah dengan cara pertengkaran, permusuhan, dan perkelahian. Namun, bukan jalan itu yang Fahri pilih. Apa gunanya saling menunjukkan kebencian dan menghilangkan perdamaian? Begitu pikir Fahri. Maka, apapun masalahnya, sebisa mungkin menyelesaikan dengan diskusi dan musyawarah. Dalam novel ini, Kang Abik menunjukkan esensi musyawarah melalui debat ilmiah, diskusi kecil bersama karyawannya, dan berdiskusi dengan mahasiswanya.

4. Merentangkan Sayap Melejitkan  Potensi

Fahri berperan banyak di masyarakat tidak hanya dalam dunia perkuliahan saja. Selain menjadi dosen, Fahri juga menekuni dunia wirausaha hingga menjadi pengusaha yang sukses. Fahri juga mengamalkan ilmu Islam yang didapat saat menuntut Ilmu di Mesir. Di Britania Raya, Fahri banyak berbagi ilmu tentang Islam. Kang Abik menggambarkan sosok muslim yang produktif melalui sikap kerja keras dan pantang menyerah Fahri. Dan hasilpun tidak mengkhianati proses, banyak  pencapaian yang Fahri dapatkan.

5. Menjadi Suami yang Baik

Kesulitan dan kemudahan selalu berjalan beriringan. Dibalik kemudahan hidup yang Fahri rasakan, Fahri diuji dengan kehilangan Aisha. Aisha menghilang saat mengunjungi Palestina. Informasi yang simpang siur tentang hidup Aisha, membuat hati Fahri terluka berulang kali tiap kali diingatkan tentang Aisha. Membuat pelupuk mata selalu basah oleh tangis rindu kala mengingat kenangan bersama Aisha. Aisha masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu. Mengetahui keberadaan Aisha tidak jelas, Fahri selalu mendoakan Aisha. Disetiap amal kebaikan yang Fahri lakukan, Fahri tidak pernah lupa merapalkan doa untuk keselamatan Aisha. Harapan Fahri, bila Aisha masih hidup, maka semoga Aisha dalam keadaan baik dan segera dipertemukan dengannya. Namun, bila Aisha telah meninggal, semoga Aisha berada di Surga-Nya dan diberikan tempat yang paling baik. Dalam hal ini, Kang Abik menggambarkan sosok suami yang berusaha ikhlas dan ridho atas kehidupan istrinya. Hingga tak pernah alpa sedetikpun mendoakan Aisha. Masya Allah.

Sekian opini saya tentang buku Ayat-ayat Cinta 2. Terima Kasih, Kang Abik sudah menulis buku ini 🙂 Jika penasaran dengan hikmah-hikmah cerita dalam novel, maka segera baca bukunya saja! 😀 Buku ini sarat makna dan hikmah untuk introspeksi diri.

Jadi, sudahkah kita menjadi muslim yang Allah sukai? Semoga Allah meluruskan segala pikiran, niat, dan tindakan supaya selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s