Menyatukan dua keluarga nyatanya tidak semudah perkiraan. Karena tiap-tiap anggota keluarga memiliki standar tersendiri untuk menilai sesuatu baik atau tidak. Menyamakan pemikiran dua insan untuk menuju bahtera rumah tangga saja merupakan hal yang tidak mudah. Sebab, kita harus menyadari satu hal. Kita harus meninggalkan keinginan pribadi. Keinginan yang sebelumnya menjadi hal utama dalam mengambil keputusan. Namun kini, ketika memutuskan untuk berumah tangga, kita harus menyadari bahwa sebelum berumah tangga diri ini hanya separuh jiwa. Dan menjadi utuh saat dia hadir dalam hidup kita. Jika jiwa yang utuh ini adalah hasil dari gabungan dua jiwa manusia yang saling menggenapkan, masih pantaskah kita terus menerus mendeklarasikan keegoisan diri? Tanpa mempertimbangkan dia? Padahal pada jiwa yang kini utuh terdapat jiwa orang lain.

Kedewasaan yang terus bertambah membawa kita pada satu kesadaran, bahwa kita adalah seorang hamba yang harus melaksakan perintah-Nya. Yang harus bersabar dan bersyukur. Yang harus melakukan tindakan apapun dengan sebaik-baiknya. Yang harus berjuang dijalan-Nya. Agar menjadi manusia yang bertakwa.

Dengan kedewasaan itu pula, mengarahkan kita agar berpikir jauh ke depan. Tentang masa depan. Tentang pernikahan. Tentang rumah tangga. Tentang Dia. Dia yang ditakdirkan oleh-Nya untuk membersamai. Menjalani hari-hari lapang dan sempit. Untuk saling menguatkan, mengingatkan, belajar, berusaha, berdoa, dan bergandeng tangan.

Mendewasa bukan berarti kita sudah pandai mengendalikan keinginan. Banyak keinginan yang tersusun dengan rapi dan berharap semua keinginan adalah yang kita butuhkan. Dan lupa untuk menimbang apakah bersama keinginan ada harap mendapat ridho-Nya.

Segala keinginan sungguh tidak berguna bila tidak disertai dengan harap mendapat ridho dari-Nya. Hingga kini hal tersebut masih menjadi topik yang selalu dipikirkan sepanjang waktu. Jika waktunya telah tiba, bisakah hati ini ikhlas meninggalkan segala keinginan demi Sang Maha Kuasa. Bisakah hati ini berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Rasa bimbang merasuk dalam diri. Dan tak kunjung mereda.

Dalam memutuskan suatu perkara tidak akan pernah bimbang bila menyertai Allah. Sebab, memilih yang Allah sukai tentulah membawa kebaikan. Memilih apa yang diinginkan tentulah sesuatu hal yang meragukan. Keinginan adalah segala hasrat, kehendak, dan harapan. Sedangkan kebutuhan adalah segala hal yang sangat diperlukan. Meskipun hal yang diinginkan tampak dan terasa benar-benar menggiurkan dan meyakinkan, kita tidak pernah tahu hal tersebut yang dibutuhkan atau tidak. Logika tidak selalu benar. Karena takdir bersifat gaib. Logika dan takdir tidak selalu berjalan beriringan. Maka, mintalah petunjuk dari Allah. Mendekat dengan hal-hal yang Allah sukai. Agar tidak terbelenggu dengan keinginan. Apalagi keinginan yang condong kepada nikmat dunia. Setelah mendekati yang Allah sukai, berdoalah. Maka, keyakinan dalam memutuskan perkara akan Allah tanamkan ke dalam hati kita. Awal yang baik akan mendekatkan kita pada kebaikan yang lainnya pula, Insya Allah.

Lagi-lagi saya mengatakan, menyatukan dua keluarga tidak semudah perkiraan. Meskipun kita telah memiliki prinsip dalam memilih teman hidup, nyatanya masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti, pendapat kedua orang tua kita. Orang tua telah hidup lebih dulu. Tahun-tahun kebahagiaan dan kesedihan telah mereka lalui. Manis dan pahit kehidupan telah mereka rasakan. Mengalami sulitnya bangkit dari keterpurukan juga melengkapi lika-liku kehidupannya. Mereka memiliki banyak pengalaman dan pelajaran. Sehingga, banyak pula hikmah yang mereka dapatkan. Dan hikmah tersebut akan menjadi pertimbangan untuk memutuskan setiap perkara dalam rumah tangganya. Begitu juga tentang memilih calon suami atau istri untuk anaknya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk turut andil dalam mencari teman hidup sang anak.

Banyak nasihat yang diberikan sebagai bekal untuk memilih teman hidup. Demi kebahagiaan anaknya hingga mereka terlupa, kini si kecil telah beranjak dewasa. Kini, anaknya yang dahulu dimandikan, dipakaikan baju, dan ditimang, telah menjadi gadis atau pemuda dewasa. Artinya, anaknya telah memiliki prinsip hidup yang diyakini. Artinya, bukan lagi orang tua yang menentukan jalan hidup anak. Namun, sekarang sudah saatnya untuk saling berbagi dan mendiskusikan, sesungguhnya apa tujuan berumah tangga. Sesungguhnya apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan. Bukankah semua yang dilakukan semata-mata agar menjadi hamba yang dicintai-Nya?

Semoga tak ada lagi prinsip yang berdiri sendiri-sendiri disini. Semoga kita bisa saling membuka diri. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk agar berjalan dijalan-Nya. Karena tidak ada pendapat siapa yang paling tepat. Atau pendapat siapa yang paling benar. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam bimbang, resah, gelisah, dan keraguan. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam memutuskan semua perkara.

Tulisan ini adalah pemikiran random penulis akibat percakapan singkat dengan ayahnya tentang pernikahan dan nilai wanita dimata keluarga calon teman hidup. Ternyata, mendiskusikan pernikahan merupakan topik yang kompleks. Tentang keyakinan diri, tentang teman hidup, tentang tujuan berumah tangga, tentang kebahagiaan, tentang kebaikan menurut-Nya, tentang ridho dari-Nya, dan masih banyak yang lainnya. Mohon maaf bila tidak terstruktur. Sebab, tulisan tersusun begitu saja kala pikiran sedang dipenuhi oleh banyak pemikiran. Dan pemikiran yang telah tersusun dalam bentuk tulisan menjadi obat untuk menenangkan pikiran. Mohon dimaklumi. Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s