Buku: Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 429-432

Ibadah adalah segala sesuatu yang ditujukan untuk mencari ridha Allah. Dan memang Allah SWT yang senantiasa mengawasi kita, menginginkan agar kita memakna ibadah sebagaimana kita memaknai interaksi kita dengan-Nya. Dan makna-makna interaksi kita dengan Allah ada tiga: takut, harap, dan cinta.

1. Takut

Mungkin makna lain yang indah dari takut adalah ‘pengawasan’. Dalam pengawasan Allah, kita berusaha hidup dalam kesalehan. Karena kita lebih patut untuk malu dan takut kepada Allah yang selalu membersamai.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.s. Qaaf [50]: 16)

Ketakutan kita pada Allah bukanlah gigil kengerian. Ia adalah kesadaran. Ia adalah kehati-hatian. Ia pun justru ketentraman. Setenteram sejuknya ayat ini menghidupkan hati:

Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.s. an-Naazi’aat [79]: 40-41)

2. Harap

Dan mungkin, makna indah yang lain dari harap adalah kebersamaan. Kebersamaan dengan Allah. Gerak napas bertauhid adalah sebuah tuntutan keimanan, sebuah sumbu hidup yang menyala dan padam karena Allah semata. Ada kenikmatan tiada tara, ketentraman tak terkira, ketika merasai kebersamaan Allah, dalam shalat, dalam ibadah, dalam hidup, dan ketika meneguk gelas kematian.

Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. (Q.s. at-Taubah [9]: 40

3. Cinta

Bergetarnya hati saat nama-Nya disebut, bertambahnya yakin saat ayat-Nya dilantunkan, menjadi indikator-indikator cinta yang tak bisa dibantah apalagi dipalsukan. Ada kenikmatan tersendiri ketika mereka pasrah, bertawakal, menggantungkan segala urusan kepada Rabbnya saja.

Dan cinta yang hanya di hati belum membuktikan apa-apa. Amal saleh, kata Sayyid Quthb, adalah buah alami dari keimanan dan gerak yang bermula pada detik di mana hakikat keimanan itu menghujam di dalam hati. Maka keimanan dan cinta kepada-Nya adalah hakikat yang aktif dan energik. Begitu hakikat keimanan menghujam dalam nurani, maka pada saat itu pula ia bergerak mengekspresikan dirinya di luar dalam bentuk amal saleh.

Gerak dan gerak. Amal dan amal. Lalu di sanalah cinta menjadi permata, mengkilap oleh airmata, menyala oleh darah, dan hidup dengan pengorbanan.

———————————————————-

Menurut saya, kata ‘takut’ memiliki banyak arti. Maka, ketika kita mengatakan ‘takut’, tentu lawan bicara akan bertanya mengapa kita takut dan mempertanyakan alasan dibaliknya.

Manusia takut kepada Allah tidak mengandung arti sama seperti pembantu takut pada majikannya yang kejam. Rasa takut yang dirasakan pembantu adalah akibat dari tindakan yang majikan lakukan. Seperti tindakan bengis, zalim, dan tidak menaruh belas kasihan. Namun, rasa takut yang manusia rasakan adalah merasa malu khawatir bila Allah kecewa dan tidak meridhai atas tindakan yang dilakukan. Dan merasa hormat atas segala nikmat yang Allah telah berikan. Berbeda kan?

Rasa takut ini membuat manusia terus menjaga agar menjalani kehidupan di jalan-Nya. Berhati-hati agar melakukan tindakan sesuai perintah-Nya. Dan menjauhi segala larangan-Nya. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa semua ini dilakukan demi kebaikan. Hal-hal yang dibolehkan tentulah membawa manusia pada kebaikan. Dan hal-hal yang dilarang tentulah membawa manusia pada kerugian dan kesengsaraan.

Harap artinya memohon dan meminta. Kita adalah ciptaan Allah. Maka, sebaik-baiknya tempat berharap adalah kepada Sang Maha Pencipta. Berharap pada Allah tidak akan memberikan rasa kecewa. Sebab kita menyadari bahwa segala pinta yang berasal dari keinginan pribadi tidak melulu membawa kebaikan. Dan kita menyadari bahwa segala permohonan yang berasal dari keinginan pribadi tidak melulu yang terbaik. Dimana ada harap, maka disana ada kepasrahan pada Allah.

Tidak ada definisi yang pasti tentang cinta. Definisi cinta sulit diungkapkan oleh kata. Namun, mudah diwujudkan dengan laku. Cinta tidak boleh hanya dirasakan oleh diri sendiri. Karena cinta harus dibuktikan.

Cinta dan pengorbanan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Cinta hadir bersamaan dengan keinginan memberi tanpa berharap kembali. Cinta datang dan segera masuk ke hati tanpa alasan. Semua terjadi begitu saja. Ketika mencintai, maka kita akan rela berkorban asal sang cinta baik-baik saja, nyaman, dan berbahagia.

Cinta kepada Allah artinya kita memilih untuk istiqomah berjalan di jalan-Nya. Kita berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Kita berusaha melakukan segala perintah-Nya. Dan menjauhi larangan-Nya. Kita berupaya untuk selalu memprioritaskan-Nya. Kita membela dan berkorban untuk agama-Nya. Mencintai artinya merelakan segala yang kita punya dan inginkan untuk sang cinta.

Allah begitu mencintai kita. Kita memiliki rupa yang baik. Kita diberikan orang tua yang yang baik. Kita diberikan saudara-saudara seiman yang baik. Kita diberikan penghidupan yang lebih dari cukup. Dan masih banyak nikmat lainnya. Tidak akan pernah cukup menyebutkan segala bukti bahwa Allah sangat mencintai kita.

Takut, harap, dan cinta merupakan satu kesatuan. Tidak ada urutan. Tidak ada jenjang. Dan tidak ada yang paling utama. Karena semua utama. Semoga kita bisa memaknai dengan baik bagaimana interaksi kita dengan Allah. Semoga sepanjang kehidupan kita tidak pernah luput dari sikap takut, harap, dan cinta kepada Allah. Sebab, ibadah yang baik diawali oleh pemahaman dan pemaknaan yang baik pula 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s