Ditulis oleh Cindy Adams dengan judul “Sukarno an Autobiography as Told Cindy Adams.” di terbitkan di New york tahun 1965. Kemudian, diterjemahkan oleh Syamsu Hadi dengan judul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”

Ini adalah buku biografi kedua yang saya punya. Buku pertama adalah tentang Nabi Muhammad. Saya bukan orang yang senang pelajaran sejarah saat sekolah dahulu. Banyaknya tanggal, nama orang, dan nama tempat membuat pelajaran tersebut terasa menyulitkan. Namun, satu tahun yang lalu saya tergerak untuk membeli buku biografi pahlawan Indonesia. Dan saya memutuskan membeli biografi Bung Karno.

Saya merasa ada yang janggal pada diri saya ketika tidak tahu sama sekali tentang Bung Karno. Padahal beliau adalah presiden pertama Indonesia. Bung Karno juga yang berjuang menggerakkan rakyat Indonesia agar bersatu. Agar bersama-sama bangkit dari penjajaran beratus-ratus tahun dan berani bergerak untuk merdeka. Beberapa hal yang saya ketahui adalah beliau presiden pertama Indonesia dan memiliki istri bernama Ibu Fatmawati. Sesederhana itu. Minim informasi sekali ya? Sungguh merasa aneh dan malu. Oleh karena itu, saya benar-benar ingin tahu tentang Bung Karno secara menyeluruh. Kemudian, saya segera membeli buku biografi Bung Karno.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menonton video tentang Bung Karno di youtube. Memamg tidak ada video beliau orasi. Disana ditampilkan foto-foto dan suara beliau berpidato. Saya yang awam sekali tentang beliau, mendengar Bung Karno berorasi benar-benar membangkitkan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri.  Sejak saat itu, saya semakin ingin tahu tentang Bung Karno.

Tidak hanya ingin tahu tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme beliau yang tinggi sehingga mampu membuat Indonesia merdeka. Namun, saya juga ingin tahu dimana Bung Karno lahir, siapa orang tuanya, bagaimana cara orang tua mendidik beliau, bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan Bung karno sejak kecil hingga akhir hayatnya. Saya ingin tahu segalanya tentang beliau.

Pada bab pertama dengan judul “Alasan Menulis Buku Ini” ada tulisan  menarik bagi saya. Bung Karno mengatakan, ” Ini adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuat luka-luka itu —banyak diantaranya yang mulai sembuh— terasa perih. Lagi pula, aku akan melakukannya dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku melihat kesalahan dalam tata bahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa sedikit frustasi. Tetapi, barangkali juga aku punya kewajiban menceritakan kisah ini kepada tanah airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku, dan kepada diriku sendiri. Karenanya, kuminta padamu, pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih penting dari bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dalam lubuk hati. Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka padaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta”.

Saya belum membaca buku ini sampai selesai. Saat ini baru membaca 131 halaman. Jumlah bukunya adalah 415 halaman. Namun, 131 halaman tersebut benar-benar sarat informasi. Mampu membuat saya merenung.

Zaman penjajahan adalah zaman pembodohan. Kita meminta-minta, merendahkan diri, tidak percaya diri, dan merasa tidak mampu hidup dalam negara kita sendiri. Belanda merusak mentalitas rakyat Indonesia. Jangankan untuk bermimpi tinggi. Bahkan kita tidak mampu menapakkan kaki pada bumi kita ini sesuai kehendak kita. Zaman yang sangat menyedihkan.

Bung Karno sudah terdidik sejak kecil oleh ibunya agar berjuang selalu untuk Indonesia. Bung Karno juga terdidik untuk menjauhi gaya hidup kebarat-baratan. Bung Karno sudah memiliki kesadaran akan sebuah perubahan untuk merdeka sejak usia belasan tahun. Namun, harus berjuang secara diam-diam hingga usia 20 tahunan. Karena apa? Karena, Bung Karno harus bersekolah. Jika tidak sembunyi-sembunyi, pupuslah kesempatan Bung Karno untuk sekolah tinggi. Bisa-bisa dipenjara sebelum berjuang. Orang tua Bung Karno rela menyisihkan banyak uang agar beliau bersekolah. Rela hidup susah demi pendidikan.  Karena mereka yakin, Bung Karno mampu memimpin Indonesia di masa Depan. Maka, mana mungkin Bung Karno tidak menurut pada orang tua? Perjuangan yang dilakukan saat itu, Bung Karno menulis artikel tentang pergerakan kemerdekaan dengan nama samaran “Bima”.

Pada masa itu, sekolah untuk pribumi hanya sampai sekolah dasar saja. Maka, jika ingin melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, rakyat Indonesia harus bersekolah di sekolah Belanda. Dan tidak semua rakyat memiliki kesempatan. Hanya rakyat yang berasal dari keturunan bangsawan yang boleh bersekolah disana. Dan Bung Karno memiliki kesempatan itu.

Bung Karno menghabiskan masa mudanya dengan banyak buku. Oleh karena itu, pemikiran Bung Karno melampaui pemikiran teman-teman sebayanya. Ditambah, saat diusia 15 tahun Bung Karno merantau ke Surabaya, tinggal di indekos milik Bapak HOS Cokroaminoto. Beliau adalah pemimpin Sarekat Islam. Sehingga, seringkali diadakan rapat mengenai keadaan Indonesia yang menyedihkan dan tentang kemerdekaan Indonesia. Dan tak jarang pula Bung Karno yang masih remaja itu duduk mendengarkan rapat. Beberapa kali juga beliau menyumbangkan beberapa ide yang didapatkan dari buku-buku yang telah dibaca.

Di halaman ke 131 buku biografi ini, saya terilhami. Indonesia yang saat ini kita pijak, yang dengan mudahnya kita meningkatkan kualitas diri, dengan mudahnya mengejar mimpi, dengan mudahnya menuntut ilmu, dengan bebasnya berpendapat, dengan mudahnya menyumbangkan gagasan, tindakan, dan perjuangan untuk Indonesia, lalu saat ini kita sudah menjadi apa? Upaya apa yang sudah dilakukan sebagai rasa syukur terhadap pahlawan?

Tanpa kita sadari, kita terjajah dengan rasa malas. Rasa malas yang menghambat peluang-peluang kesuksesan kita. Kita juga terjajah dengan “selera budaya barat”. Kita selalu senang memakai karya dan ciptaan bangsa lain. Sedangkan tidak bangga dan tidak senang dengan karya-karya ciptaan bangsa kita sendiri. Meskipun belum bangga, paling tidak, gunakanlah karya kita sendiri. Kebudayaan yang bisa kita rasakan saat ini, tidak mudah kita dapatkan. Ada pengorbanan harta, jiwa, dan raga yang dilakukan pejuang-pejuang dahulu.

Tahu kah mengapa Bung Karno terkenal dengan Peci hitamnya? Dan mengapa Bung Karno mamakai peci hitam itu? Zaman sebelum Indonesia merdeka, banyak upaya yang dilakukan untuk mengembalikan rasa bangga pada kebudayaan Indonesia, dan Bung Karno memulai dan memperjuangkannya.

Ketika rakyat Indonesia tidak mau lagi menggunakan barang-barang yang mencerminkan identitas Indonesia, karena malu dan tidak percaya diri. Maka, Bung Karno memulainya dengan menggunakan peci hitam kemana pun beliau pergi. Memang tak mudah, pada awalnya Bung Karno pun butuh waktu untuk meyakinkan diri. Dan beliau menggunakannya. Sejak saat itu, peci hitam selalu digunakan sebagai identitas kebudayaan yang tidak pernah ditinggal. Untuk memperkenalkan keberadaan Indonesia di Indonesia serta di negara-negala lain.

Melihat perjuangan Bung Karno dan para sahabat berjuang sekeras itu untuk menjaga identitas Indonesia dan untuk merdeka, relakah kita saat ini terjajah (lagi)? Jangan sampai kita terjajah lagi, terjajah oleh keegosisan diri kita sendiri.

Sekian. Akan saya lanjutkan menulis setelah membaca halaman-halaman biografi selanjutnya, Insya Allah 🙂 Semoga bermanfaat.

3 thoughts on “Buku: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s