Judul Buku: Baarakallaahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 294-295

Majalah Ummi No. 3 Tahun XVI, Juli-Agustus 2004, menurunkan sebuah artikel tentang Zero Base dalam interaksi sosial. Dalam artikel itu, ditulis bahwa hal-hal di bawah ini adalah benefit, ketika kita menerapkan Zero Base dalam interaksi sosial. Saya malahan, ingin mengajak Anda untuk memandangnya sebagai pengikhtiaran. Berdasarkan prinsip Zero Base yang kemudian akan kita isi dengan kebaikan-kebaikan, inilah keindahan itu.

1. Pandanglah bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis

Ia belajar dalam kesalahan dan memberbaikinya di waktu-waktu yang akan datang. Adalah ketidakadilan, menilai manusia hanya berdasar jejak rekam masa lalu. Semua manusia bisa tersalah sehingga ada peluang keindahan dengan memaafkan. Ada penerimaan yang imbal baliknya adalah proses perbaikan. Berhati-hatilah menyikapi manusia. Bahkan Imam di bidang ilmu Jarh wat Ta’dil, yakni ilmu kritik atas Rawi hadis yang menentukan shahih tidaknya suatu hadis sehingga ilmu ini menjadi sangat penting, mengajak kita untuk merenung. Beliau, Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Boleh jadi kita mengkritik dan melemahkan seorang Rawi, padahal dia memasuki surga ratusan atau ribuan tahun mendahului kita.”

2. Bebaskan diri dari prasangka.

Segala hal yang “terlalu” tidaklah menampakkan kebaikan. Prasangka yang terlalu baik membuat kita terjebak pada sifat lalai, tertipu, dan terseret untuk berbuat tidak adil. Akan ada ketidakseimbangan. Sebaliknya, prasangka yang buruk akan membinasakan. Prasangka yang “terlalu baik” adalah ekspektasi yang melahirkan tuntutan psikis  kepada orang lain, maka jadilah kekecewaan yang bertimbun-timbun atau ketidakadilan terhadap pihak lain. Prasangka yang buruk akan menjadi sel-fulfilling prophecy. Jibril berpesan pada Nabi kita untuk diteruskan pada umatnya, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaubenci. Bencilah orang yang kaubenci sewajarnya, boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaucintai. (H.r  Bukhari)

3. Nilailah apa adanya.

Nilailah objektif dan apa adanya sesuai interaksi kita dengan mereka. Bersikaplah sebaik-baiknya dan katakanlah yang tidak tahu jika kita memang belum memahaminya. Dalam konsep yang dibawakan Umar bin Khaththab, mengenal seseorang berarti pernah bermalam bersamanya, melakukan muamalah, atau melakukan perjalanan bersama.

4. Beranilah mangambil sikap yang tepat.

Kita menilai dan menyikapi seseorang berdasar kebenaran, bukan keberpihakan bertendensi. Pembelaan atau penolakan, persekutuan atau permusuhan, bukan berdasarkan timbangan-timbangan keuntungan, tetapi berdasar cara pandang yang jernih dan bersih.

5. Berpegang pada standar Ilahiyah.

Laa ilaaha, dengan mengosongkan diri dari standar-standar pribadi dan standar-standar artifisial lainnya, kemudian Illallaah membuat kita menerapkan diri pada standar Ilahi. Seseorang diukur bukan dengan hartanya, keturunannya, kedudukannya, atau jabatannya. Bukankah yang termulia di sisi Allah di antara kita adalah yang paling bertakwa?

6. Kosongkan diri dari tujuan kotor.

Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal. Allah menciptakan kita bertetangga agar kita saling bersaudara. Ada tujuan-tujuan suci, ada keindahan-keindahan yang mengangkat diri ke ufuk tinggi. Maka jangan sampai ada tujuan-tujuan kotor dalam bertetangga. Memanfaatkan, menyakiti, merusak, dan tujuan kotor lainnya. Ingatlah, bahwa dosa atas maksiat yang dilakukan kepada tetangga, dilipatkan lebih dari sepuluh kali oleh Allah Swt. Imam Bukhari membawakan riwayat Rasulullah pernah bersabda, “Berzinanya seseorang dengan sepuluh wanita lebih ringan dosanya daripada jika ia berzina dengan istri tetangganya. Mencuri di sepuluh rumah lebih ringan dosanya daripada pencurian  yang ia lakukan di rumah tetangga.”

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan ikut menjadi pewaris.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s